Lokapalanews.id | Dulu, pahlawan kita angkat senjata karena muak ditindas. Mereka tidak mau bungkam. Mereka ingin merdeka. Merdeka berpikir, merdeka bersuara. Makanya, kalau ada kampus pakai nama pahlawan, pakai label “kebangsaan,” tapi alergi dikritik, saya jadi garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
Ini kampus atau kerajaan kecil?
Saya membaca dokumen sanggahan itu. Isinya ngeri-ngeri sedap. Ada dosen-dosen yang melihat aturan ditabrak. Mereka melihat ada bau tidak sedap soal anggaran. Mereka lapor lewat jalur resmi negara. Eh, bukannya diajak duduk bareng, malah diputus aksesnya. Dipecat.
Ini namanya main kayu.
Katanya punya semangat JSN 45. Jiwa Semangat Nilai 45. Tapi praktiknya kok jauh? Semangat 45 itu berani membela yang benar. Bukan berani memecat yang kritis. Kalau gayanya main pecat tanpa sidang etik, tanpa hak jawab, itu bukan semangat pejuang. Itu semangat otoriter.
Logika manajemennya juga ajaib. Kalau ada kegagalan sistem – tidak ada briefing, manajemen berantakan – ya benahi manajemennya. Jangan malah anak buahnya yang dikorbankan. Jangan sampai kegagalan pimpinan dibungkus jadi kesalahan dosen. Itu namanya cuci tangan pakai sabun orang lain.
Coba Anda pikir. Kampus itu tempatnya mencetak orang kritis. Kalau di dalamnya saja orang kritis dibungkam, apa yang mau diajarkan ke mahasiswa? Jadi penurut? Jadi penjilat?
Memecat dosen yang vokal itu gampang. Tinggal tanda tangan, selesai. Tapi memulihkan nama baik institusi yang sudah tercoreng gara-gara antikritik itu susah setengah mati. Nama besar pahlawan di gerbang itu jadi taruhannya.
Jangan jual nama pahlawan kalau kelakuan masih gaya kompeni.
Dosen yang melapor dugaan penyimpangan itu harusnya dijaga. Itu namanya whistleblower. Mereka itu vitamin buat organisasi. Tanpa mereka, borok di dalam akan makin busuk. Tapi di sini, yang lapor malah dikriminalisasi. Dunia terbalik.
Pecat dengan hormat tapi dituduh langgar etika. Ini mau main aman atau mau main fitnah? Kalau memang salah, ya proses secara etik. Jangan melompati tahapan sanksi. Itu namanya abuse of power. Kekuasaan yang dipakai serampangan.
Visi kebangsaan itu berat. Jangan cuma jadi pajangan di brosur pendaftaran mahasiswa baru. JSN’45 itu etika perlawanan terhadap ketidakadilan. Bukan alat untuk menindas bawahan yang tidak mau tutup mata.
Kalau tindakan seperti ini dianggap normal, habislah integritas akademik kita. Kampus berubah jadi perusahaan keluarga yang anti-koreksi. Ruang kelas jadi hambar karena dosennya takut bicara benar.
Saran saya: Jangan merasa paling benar kalau belum berani diaudit. Jangan bicara moral kalau cara memecat orang saja tidak bermoral.
Lebih baik jadi dosen yang kehilangan kursi daripada jadi pimpinan yang kehilangan hati nurani. Jabatan itu ada masanya. Tapi catatan sejarah soal siapa yang menindas dan siapa yang ditindas akan abadi.
Kasihan pahlawan kita. Namanya besar, tapi semangatnya dikerdilkan oleh urusan perut dan ketakutan akan kebenaran. *yas






