--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Jujur Itu Dosa

Seorang pria berdiri sendirian di tengah kerumunan orang yang berjalan berlawanan arah; simbol keteguhan prinsip di tengah arus kepalsuan.
Seorang pria berdiri sendirian di tengah kerumunan orang yang berjalan berlawanan arah; simbol keteguhan prinsip di tengah arus kepalsuan.

Lokapalanews.id | Saya pernah bertemu seseorang. Orangnya lurus. Kerjanya bagus. Tapi, dia mendadak jadi musuh bersama di kantornya. Aneh? Tidak juga. Setelah saya selidiki, masalahnya cuma satu: dia tidak bisa menjilat. Dia tidak mau ikut tertawa saat bosnya melontarkan lelucon yang tidak lucu.

Di dunia yang sudah terbalik, orang seperti itu memang celaka.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Anda mungkin pernah merasakannya. Atau sedang mengalaminya. Berada di lingkungan yang isinya orang bermuka dua. Di sana, kejujuran bukan lagi emas. Kejujuran justru dianggap dosa besar. Kalau Anda jujur, Anda dianggap merusak suasana. Anda dianggap sok suci.

Ini yang menarik. Di lingkungan yang toksik, kebaikan sering disalahartikan sebagai kejahatan. Kok bisa? Ya bisa. Karena kehadiran Anda yang lurus itu menjadi cermin. Orang-orang di sekitar Anda merasa terganggu. Mereka melihat kebusukan mereka sendiri saat melihat ketulusan Anda.

Ibaratnya begini: semua orang sedang memakai topeng. Lalu Anda datang dengan wajah asli. Tentu saja mereka marah. Mereka merasa ditelanjangi. Maka, cara termudah bagi mereka adalah menyerang Anda. Mereka akan bilang Anda sombong. Mereka bilang Anda tidak punya teamwork. Padahal, Anda hanya punya prinsip.

Saya ingat sebuah kegagalan sistem di sebuah perusahaan. Manajemennya kacau. Tidak ada briefing, tidak ada dukungan dari atasan. Tapi, siapa yang disalahkan? Tentu saja bukan sistemnya. Bukan manajemennya. Mereka mencari satu orang untuk dijadikan tumbal. Kambing hitam itu harus ada supaya mereka yang di atas tetap terlihat bersih.

Orang-orang munafik ini pintar. Sangat pintar. Mereka ahli memutarbalikkan fakta. Mereka bisa membuat ketulusan Anda terlihat seperti topeng. Padahal, merekalah yang setiap pagi sibuk memilih topeng mana yang akan dipakai hari itu. Mereka jago bersandiwara. Mereka jago mengarang cerita.

Baca juga:  KPK Dorong Kampus Perkuat Integritas Mahasiswa

Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Ikut arus? Menjadi penjilat juga? Supaya aman? Supaya jabatan naik?

Saran saya: Jangan.

Memang berat. Anda akan dikucilkan. Anda akan dianggap musuh. Tapi ada satu hal yang tidak mereka miliki: ketenangan batin. Anda bisa tidur nyenyak karena tidak perlu mengingat-ingat kebohongan apa yang Anda ucapkan tadi siang.

Lebih baik kita dianggap sebagai “penjahat” di mata para penjilat, daripada harus menjadi bagian dari kepalsuan itu. Biarkan saja mereka menggonggong. Biarkan saja mereka membuat skenario.

Waktu itu jujur. Dia tidak pernah berbohong. Pada akhirnya, waktu jugalah yang akan mengungkap siapa yang benar-benar emas dan siapa yang hanya loyang sepuhan. Siapa yang bekerja dengan hati dan siapa yang hanya pandai bersembunyi di balik kata-kata manis.

Kita tidak perlu sibuk membela diri. Kebenaran punya caranya sendiri untuk muncul ke permukaan. Kalau sistemnya rusak, ya rusak saja. Kalau manajemennya bobrok, biarkan terlihat bobroknya. Jangan korbankan integritas Anda hanya untuk menyelamatkan muka orang-orang yang tidak tahu terima kasih.

Dunia mungkin sedang gila. Tapi kita jangan ikut gila. Tetaplah berdiri tegak. Meski sendirian. Meski dicibir. Karena pada akhirnya, yang tersisa hanya karakter kita. Bukan penilaian orang-orang yang hidupnya penuh kepura-puraan.

Menjadi jujur di tengah kerumunan pembohong memang melelahkan. Tapi itu jauh lebih terhormat daripada menjadi pemenang dengan cara merangkak di kaki orang lain. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."