--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Jargon dan Bau Busuk

Sebuah gedung megah dengan pilar-pilar besar yang retak di bagian fondasinya, menggambarkan betapa rapuhnya sebuah institusi yang hanya besar di jargon tapi keropos di integritas.

Lokapalanews.id | Saya mengelus dada membaca laporan itu. Ada sebuah kampus pusatnya kaum intelektual yang jargonnya luar biasa mentereng. Kebangsaan. Pancasila. Jiwa Semangat Nilai (JSN) ’45. Kurang nasionalis apa coba?

Tapi, kalau kita masuk ke dapurnya, baunya minta ampun. Busuk.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Di sana, katanya, korupsi sudah seperti sarapan pagi. Merajalela. Dan yang paling bikin geleng-geleng kepala: kalau ada orang jujur yang berani “teriak” atau membongkar praktik culas itu, bukannya diberi penghargaan, malah dipecat. Tanpa prosedur pula. Langsung out.

Kejadian seperti ini mengingatkan saya pada satu hal: jargon itu sering kali hanyalah gincu. Semakin tebal gincunya, biasanya untuk menutupi bibir yang sedang sariawan hebat.

Di dunia manajemen, kita mengenal istilah toxic leadership. Pucuk pimpinannya merasa paling benar. Tidak boleh ada kritik. Siapa yang vokal, dianggap musuh. Siapa yang membongkar borok, dianggap pengkhianat korps.

Padahal, kampus itu seharusnya menjadi oase kejujuran. Tempat di mana kebenaran diletakkan di atas segalanya. Kalau di kampus saja kebenaran sudah “disembelih”, mau jadi apa bangsa ini?

Pancasila dan JSN ’45 itu bukan sekadar hafalan untuk di spanduk. Esensinya adalah keadilan dan integritas. Kalau tindakannya sewenang-wenang, itu namanya bukan berlandaskan Pancasila, tapi berlandaskan “Panca-sila-kan”: silakan korupsi, silakan memecat, silakan menindas.

Saya sering melihat pola ini. Kegagalan sistem dan manajemen sering kali berlindung di balik narasi-narasi besar. Mereka tidak memberikan briefing yang benar, tidak ada dukungan untuk kerja yang jujur, tapi kalau ada kesalahan, anak buah yang dikorbankan.

Ini bukan soal kekurangan personel atau kurangnya orang pintar di sana. Bukan. Ini soal rusaknya nurani di kursi kekuasaan. Mereka menggunakan jargon kebangsaan untuk membungkam nalar kritis. Seolah-olah melawan pimpinan yang korup dan sewenang-wenang sama dengan melawan negara. Itu logika sesat.

Baca juga:  Kucing dan Citra

Bagi Anda yang sedang berjuang di sana, atau yang baru saja “dibuang” karena kejujuran: jangan berkecil hati. Pemecatan tanpa prosedur itu sebenarnya adalah pengakuan bahwa mereka takut. Mereka gemetar melihat integritas Anda.

Sistem yang dibangun di atas kebohongan tidak akan pernah bertahan lama. Hukum alam – yang sering kita sebut karma – tidak pernah tidur. Apa yang mereka tanam berupa kesewenang-wenangan, akan memantul kembali dalam bentuk kehancuran reputasi.

Kampus yang kehilangan integritasnya sebenarnya sudah mati, meski gedungnya masih berdiri megah. Karena sejatinya, perguruan tinggi itu bukan soal beton dan jargon, tapi soal cahaya kebenaran yang dipancarkan dari dalamnya.

Jangan biarkan jargon menipu nalar kita. Jika ada bau busuk, ya itu sampah. Meskipun sampahnya dibungkus pakai bendera merah putih sekalipun. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."