Lokapalanews.id | Saya teringat kejadian di sebuah bandara, beberapa tahun lalu. Saat itu antrean imigrasi mengular panjang sekali. Di depan saya, ada seorang bapak yang terus-menerus mengomel. Ia menyalahkan petugas yang lambat, menyalahkan sistem komputer yang katanya lemot, sampai menyalahkan pemerintah yang dianggap tidak becus mengurus fasilitas publik.
Wajahnya merah padam. Energinya negatif sekali. Anehnya, semakin dia marah, petugas di depan justru terlihat semakin kaku dan memperlambat prosesnya. Komputer di meja itu tiba-tiba benar-benar hang.
Saya hanya diam. Saya pilih tersenyum kecil pada petugas saat tiba giliran saya. Saya tanya kabarnya, meski saya tahu dia sedang lelah luar biasa. Hasilnya? Urusan saya selesai hanya dalam hitungan detik. Petugas itu bahkan memberikan rekomendasi jalur keluar yang lebih cepat.
Di situ saya merenung. Dunia ini ternyata persis seperti cermin. Kalau kita memberikan wajah masam, cermin itu tidak mungkin membalas dengan senyuman. Mustahil.
Banyak orang salah kaprah soal karma. Seolah karma itu adalah “polisi alam semesta” yang hobi menghukum orang. Seolah-olah ada kekuatan besar yang sedang menunggu kita terpeleset lalu berteriak: “Rasakan itu!”.
Bukan. Sama sekali bukan.
Kutipan yang saya baca di media sosial hari ini benar sekali: Karma bukanlah balas dendam. Karma adalah pantulan. Apa pun yang Anda lempar ke tembok kehidupan, itulah yang akan memantul kembali ke dahi Anda. Kalau yang Anda lempar adalah bola kasti yang empuk, yang kembali adalah kelembutan. Kalau yang Anda lempar adalah batu kali, ya siap-siap saja benjol.
Persoalannya, kita sering terlalu sibuk menuntut apa yang seharusnya kita terima. Kita merasa sudah bekerja keras, tapi kok manajemen di kantor tidak adil? Kita merasa sudah jujur, tapi kok sistem tetap korup?
Saya paham rasanya. Kadang kegagalan itu memang murni karena sistem yang rusak. Manajemen yang tidak memberikan briefing, atau dukungan yang nol besar. Itu fakta di lapangan. Tapi, di tengah kekacauan sistem itu, apa yang Anda berikan?
Kalau Anda membalas sistem yang buruk dengan kerja yang asal-asalan, maka Anda sedang memberikan energi “asal-asalan” ke alam semesta. Maka, jangan kaget kalau masa depan Anda juga akan terasa “asal-asalan”.
Kita tidak punya kendali atas bagaimana orang lain memperlakukan kita. Kita tidak punya kendali atas kebijakan bos yang mungkin sedang pusing. Tapi kita punya kendali 100 persen atas apa yang keluar dari pikiran dan tangan kita sendiri.
Inilah kuncinya: Berhentilah mengkhawatirkan apa yang akan Anda dapatkan. Mulailah merasa ngeri pada apa yang Anda berikan.
Jika Anda memberikan ketulusan, alam semesta punya cara yang sangat unik untuk mengembalikannya. Mungkin tidak melalui orang yang Anda bantu tadi. Mungkin melalui orang asing di kota yang berbeda, bertahun-tahun kemudian. Itulah mekanisme “cermin” yang bekerja di luar logika manusia.
Hidup ini sebenarnya sangat ringan kalau kita sudah sampai pada tahap ini: Memberi saja. Melakukan yang terbaik saja. Soal hasil? Itu urusan cermin. Cermin tidak pernah berbohong.
Jadi, sebelum Anda mengeluh tentang “nasib buruk” atau “ketidakadilan”, coba cek dulu: Apa yang tadi pagi Anda lempar ke cermin kehidupan? Jangan-jangan, wajah buruk yang kita benci di cermin itu adalah wajah kita sendiri yang sedang lupa tersenyum.
Jangan takut pada karma. Takutlah jika kita tidak lagi punya hal baik untuk diberikan. *yas






