--- / --- 00:00 WITA

BRIN Kunci Penyusunan Kebijakan Berbasis Riset, Anggaran Naik Rp300 Miliar

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, My Esti Wijayanti, menyoroti kebijakan pemangkasan nilai bantuan KIP Kuliah 2025 yang dinilai membebani mahasiswa di perguruan tinggi swasta unggulan.

Lokapalanews.id | Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memegang peran penting dalam penyusunan kebijakan nasional berbasis riset sebagai fondasi program pembangunan prioritas pemerintah. Hal ini ditegaskan oleh Wakil Ketua Komisi X DPR RI, My Esti Wijayati, saat memimpin kunjungan kerja spesifik di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (24/9/2025).

Menurut Esti Wijayati, hasil penelitian ilmiah dari BRIN harus menjadi basis agar kebijakan yang dibuat oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah, tidak lagi bersifat perkiraan, melainkan berdasarkan data faktual dan ilmiah.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

“BRIN ini mempunyai kunci penting di dalam penyusunan kebijakan,” ujar Esti saat bertemu dengan jajaran pejabat BRIN di Gunungkidul.

Esti Wijayati mengapresiasi upaya penguatan BRIN, terutama terkait alokasi dana operasional. Ia menyebut, BRIN baru saja memperoleh tambahan alokasi anggaran dari DPR.

“Alhamdulillah, kemarin tambahan anggaran BRIN bisa naik Rp300 miliar dari anggaran semula sekitar Rp6 triliun lebih. Meskipun belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan, setidaknya ruang gerak BRIN menjadi lebih longgar,” jelasnya.

Tambahan anggaran ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas BRIN untuk menghasilkan riset yang relevan dan dapat segera diimplementasikan sebagai dasar kebijakan.

Politikus PDI Perjuangan ini juga menekankan bahwa riset BRIN harus menjadi rujukan dalam setiap program pembangunan pemerintah daerah, termasuk di Kabupaten Gunungkidul yang memiliki potensi spesifik. Penggunaan data riset yang tepat dapat memastikan intervensi kebijakan yang efektif.

Esti memberikan contoh sederhana, yakni terkait penanganan kasus stunting. “Soal stunting. BRIN sudah punya data angkanya, sehingga penyelesaian maupun pencegahannya bisa dirumuskan secara tepat,” paparnya.

Selain isu kebijakan umum, Komisi X DPR RI juga mendorong BRIN untuk fokus meneliti potensi lokal yang memiliki nilai ekonomi dan budaya tinggi, seperti makanan tradisional khas Gunungkidul, tiwul dan gatot.

Baca juga:  Kodam IX/Udayana Investigasi Kematian Prada Lucky

Esti menyoroti bahwa kedua makanan tersebut tidak hanya perlu dinikmati rasanya, tetapi kandungan gizi dan zat di dalamnya perlu diteliti lebih dalam.

“Jangan sampai masyarakat hanya menikmati rasanya, tapi kita tidak tahu kandungan gizinya. Kami berharap BRIN bisa meneliti agar makanan khas Gunungkidul ini juga punya keunggulan gizi,” tambahnya.

Esti Wijayati menilai, riset mendalam terhadap pangan lokal seperti ini akan memberikan nilai tambah ekonomi yang signifikan bagi masyarakat setempat.

“Harapan kami, hasil riset BRIN benar-benar bisa menjadi basis kebijakan dan inovasi daerah, sehingga potensi lokal tidak hanya dikenal sebagai tradisi, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi pembangunan,” katanya. *101 

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."