--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Kucing yang Teler

Lokapalanews.id | Pagi tadi saya lihat Miong, kucing peliharaan di teras kantor, tidur pulas. Bukan tidur biasa, tapi seperti teler. Mulutnya manggut-manggut kena sinar matahari pagi. Tentu saja saya penasaran. Miong ini tugasnya kan jelas: mengusir tikus yang suka berkeliaran di gudang kertas.

Saya tepuk-tepuk punggungnya. Dia hanya menggeliat sedikit. Saya pikir, wah, jangan-jangan semalam dia berhasil pesta tikus.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Ternyata tidak. Pak Ogah, petugas kebersihan, bilang, “Pak, sekarang Miong akrab sekali sama Tikus. Mereka malah sering makan remah-remah di dekat tong sampah bareng. Sudah damai,” katanya.

Mendengar itu, saya hanya bisa geleng-geleng kepala.

Kucing dan Tikus Damai?

Awalnya lucu. Tapi coba Anda pikirkan. Kucing itu kan simbol pengawas, simbol penegak aturan. Tikus itu simbol pengganggu, simbol hama, atau dalam konteks kita hari ini, korupsi.

Kita semua berharap pada kucing untuk membongkar, menggigit, dan menghabisi tikus. Kita berharap lembaga pengawas itu galak, taringnya tajam, dan tidak kompromi. Itu yang namanya integritas.

Tapi apa yang terjadi belakangan?

Justru deal-deal kecil, kompromi receh, hingga kebijakan yang ugal-ugalan dibiarkan lolos begitu saja. Kenapa? Karena si Kucing mulai teler. Dia tidak lapar, dia tidak bernafsu memburu. Dia sudah nyaman dengan persahabatan itu.

Bisa jadi si Tikus memberikan jatah remah-remah yang lebih enak dari hasil buruan. Atau, si Tikus berhasil meyakinkan si Kucing bahwa “damai itu lebih indah”.

Ini bukan lagi soal hukum. Ini soal logika publik yang terbalik.

Jalan Pulang

Ketika si kucing sudah bersahabat dengan tikus, maka yang terjadi adalah kolusi. Orang menyebutnya regresi integritas. Saya menyebutnya pengkhianatan terhadap fitrah.

Baca juga:  Masyarakat Adat: Penjaga Pangan dan Budaya Nusantara

Tugas Anda dan saya adalah membangunkan si Kucing itu.

Bagaimana caranya? Bukan dengan memarahi. Tapi dengan mencopot kenyamanannya. Harus ada reformasi struktural, harus ada evaluasi yang menusuk ulu hati, agar si Kucing sadar bahwa tugasnya bukan ngemil bareng, tapi berburu.

Kalau Miong di kantor saya saja bisa saya kembalikan naluri berburunya dengan mengurangi jatah makan siangnya, kenapa lembaga pengawas yang punya mandat negara tidak bisa?

Kita tunggu saja. Jangan sampai gedung-gedung kita nanti penuh dengan tikus-tikus yang bersorak riang karena si Kucing sudah pensiun dini dari tugasnya. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."