Lokapalanews.id | Anda tahu cerita Harimau dan Keledai? Itu bukan dongeng anak-anak biasa. Itu cermin. Cermin yang belakangan ini kian jelas menunjukkan wajah-wajah di sekitar kita. Terutama mereka yang merasa paling tinggi.
Saya sering bilang: relevansi itu penting. Dan cerita ini, di era para pemimpin yang makin kehilangan kompas akal sehat, relevansinya tak lekang oleh zaman. Bahkan mungkin makin menusuk.
Begini, di sebuah hutan, Harimau dan Keledai sedang menikmati sore. Matahari perlahan condong ke barat. Padang rumput hijau membentang luas. Hijau pekat, sebagaimana rumput seharusnya.
Tiba-tiba, Keledai berhenti. Matanya melotot. Mulutnya menganga. “Wahai Harimau!” teriaknya, memekakkan telinga. “Indahnya rumput biru ini!”
Harimau, dengan naluri tajam dan pengalaman hutan yang tak terbantahkan, menoleh. Ia melihat ke sekeliling. Rumput itu… hijau. Jelas sekali hijau.
“Keledai,” kata Harimau, mencoba bersabar, meskipun ada sedikit gurat lelah di wajahnya. “Rumput itu hijau. Bukan biru.”
Keledai, kepalanya keras seperti batu karang, menggelengkan kepalanya dengan pongah. “Kau salah, Harimau! Bodoh sekali! Rumput ini biru! Aku melihatnya seumur hidupku!” Suaranya meninggi, menuding-nuding seolah Harimau buta warna.
Harimau menghela napas. Berdebat dengan Keledai ini, pikirnya, sama seperti mencoba menegakkan benang basah. Sia-sia. Tapi, entah mengapa, kali itu ia terpancing. Mungkin lelahnya menumpuk. Atau muak melihat kebodohan yang dipelihara.
“Semua hewan di hutan ini tahu rumput itu hijau!” Harimau mulai meninggikan suaranya. Ada nada frustrasi di sana.
“Tidak! Biru!” teriak Keledai, suaranya makin melengking. Ia tak peduli pada hewan-hewan lain yang mulai mengerumun, mencoba melerai. Bagi Keledai, ini bukan soal kebenaran, tapi soal kemenangan. Soal ego.
Perdebatan pecah. Suasana hutan jadi gaduh. Keledai, dengan arogansinya, merasa paling benar. Harimau, yang biasanya tenang dan bijaksana, kini mulai kehilangan kesabaran. Darahnya mendidih.
“Baiklah!” Harimau menggeram, suaranya mengandung ancaman. “Kita ke Raja Hutan! Biar Raja yang memutuskan siapa yang benar!”
Keledai menyeringai. Jelas ia merasa di atas angin. Dengan langkah jumawa, ia mengangguk. Keduanya pun melangkah menghadap Raja Singa. Penguasa yang, konon katanya, paling bijaksana di seluruh hutan. Setidaknya, begitu narasi yang selama ini dibangun.
Di hadapan singgasana Raja Singa yang megah, Keledai tak buang waktu. “Paduka Raja! Harimau ini dungu! Dia bersikeras rumput itu hijau, padahal jelas-jelas biru!” Ia bicara seolah Harimau adalah makhluk paling tolol sedunia.
Raja Singa, dengan tatapan yang sulit diartikan, menatap Harimau sejenak. Lalu beralih ke Keledai. Ada anggukan samar di kepalanya. Seolah setuju.
“Harimau,” kata Raja Singa, suaranya berat, penuh otoritas. “Kau bersalah. Hukumanmu, puasa bicara tiga hari.”
Harimau terperanjat. Ia menatap Raja Singa, matanya membelalak tak percaya. “Tapi, Paduka! Rumput itu memang hijau! Mengapa saya yang dihukum?!” Protesnya, suaranya tercekat.
Keledai tertawa terbahak-bahak. Tawa yang penuh kemenangan dan penghinaan. “Rasakan! Aku benar! Rumput itu biru! Bahkan Raja pun mengakuinya! Hidup Raja!” Keledai melompat-lompat, meneriakkan kemenangannya sepanjang jalan pulang. Ia adalah contoh sempurna bagaimana kebodohan, jika diberi panggung dan diakui kekuasaan, bisa menjelma menjadi arogansi yang tak terkendali.
Setelah Keledai pergi, Harimau tetap membeku. Kekalahan ini bukan sekadar kalah debat, ini adalah kekalahan akal sehat. Kekalahan kebenaran di hadapan kekuasaan yang buta.
“Paduka Raja,” Harimau memberanikan diri, suaranya lirih. “Sungguh, saya tidak mengerti. Bukankah rumput memang hijau?”
Raja Singa mengangguk pelan. “Ya, Harimau. Rumput memang hijau.”
“Jika begitu,” Harimau hampir berbisik, “mengapa saya dihukum?”
Raja Singa menghela napas panjang. Seolah ia sedang mengajarkan filsafat paling dalam. “Harimau, kau dihukum bukan karena rumput itu biru. Itu hal yang sepele. Kau dihukum karena tiga kesalahan fatal, yang bahkan lebih besar dari warna rumput itu sendiri.”
“Pertama, kau membuang-buang waktumu. Lebih parah lagi, kau menguras energimu, berdebat dengan makhluk bodoh yang arogan seperti Keledai itu. Dia bukan tidak tahu kebenaran, tapi tidak mau tahu. Baginya, kebodohan adalah mahkota yang harus dipamerkan. Dan kau memberinya panggung.”
“Kedua, kau membiarkan dirimu ragu pada kebenaran yang sudah kau yakini dengan kuat. Kau merendahkan ilmumu, prinsipmu, hanya untuk melayani kebodohan orang lain. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap dirimu sendiri.”
“Dan ketiga,” suara Raja Singa meninggi, “kau menyita waktuku, yang amat berharga ini, untuk hal yang sangat tidak penting! Saya ini pemimpin! Banyak urusan penting lain daripada warna rumput yang jelas-jelas hijau ini!”
Harimau terdiam. Kata-kata Raja Singa itu menusuk. Bukan karena kebenaran, tapi karena ironi yang terkandung di dalamnya. Sang Raja yang katanya bijaksana, justru menghukum yang benar demi ‘kewibawaan’ semu. Ia tak peduli pada substansi, hanya pada ‘ketertiban’. Ia seorang pemimpin yang terlalu dungu untuk membedakan hijau dari biru, atau terlalu pengecut untuk membela kebenaran. Ia lebih suka menindas kebenaran demi kedamaian palsu, demi kenyamanan singgasananya.
Sejak hari itu, Harimau memang belajar. Dia belajar bahwa di dunia ini, ada penguasa yang lebih suka mendukung kebodohan dan arogansi, bukan demi keberanian, tapi demi kekuasaan atau kenyamanan semata. Ada pemimpin yang terlalu dungu untuk melihat realitas, atau terlalu pengecut untuk melawannya. Mereka lebih suka menghukum kebenaran daripada berhadapan dengan kebohongan yang bersuara lantang.
Harimau sadar, tak ada gunanya berdebat dengan mereka yang sengaja menutup mata dari kenyataan. Apalagi jika yang menutup mata itu adalah seorang pemimpin yang arogan, dungu, dan merasa paling berkuasa. Karena bagi mereka, kebodohan bukanlah kekurangan, melainkan senjata ampuh untuk mempertahankan takhta. Dan kesombongan adalah perisai yang tak tergoyahkan.
Kini, Harimau – dan mungkin juga kita – belajar satu hal penting: Ketika Anda berhadapan dengan pemimpin yang arogan dan dungu, yang melihat rumput sebagai biru padahal jelas hijau, terkadang yang terbaik adalah diam. Bukan karena Anda kalah, tapi karena Anda tahu, suara Anda hanya akan terbuang sia-sia di tengah deru kebodohan yang disokong kekuasaan. Biarkan saja mereka terus meneriakkan “Rumput itu biru!” sampai suara mereka serak sendiri.
Dan kita? Kita akan terus berjalan. Mencari padang rumput yang benar-benar hijau. Dan mungkin, mencari pemimpin yang lebih tahu membedakan mana yang benar dari yang salah. Pemimpin yang tak takut pada kebenaran, walau harus berhadapan dengan suara-suara sumbang yang dipelihara. *






