Lokapalanews.id | Ada yang bilang, pemimpin yang baik itu pintar. Ahli strategi. Jago beretorika.
Tapi, saya jadi mikir, definisi “pintar” itu apa?
Apakah pintar itu cuma soal skor IQ? Nilai akademis yang tinggi? Atau, pintar itu soal tahu cara memenangkan hati rakyat dengan janji-janji manis, lalu berkelit saat ditagih?
Bagi saya, itu bukan pintar. Itu licik. Dan, ada yang lebih penting dari sekadar “pintar” macam itu.
Ada yang namanya kebijaksanaan.
Pemimpin yang bodoh, dalam konteks ini, bukan berarti dia tidak cerdas. Dia mungkin lulusan universitas top. Jago berdebat. Tapi, ia buta terhadap tujuan sejati dari kekuasaan: mengabdi. Bukan menguasai.
Dia membangun gedung-gedung megah, tapi di seberang jalan, anak-anak tidak punya sekolah yang layak. Dia mengalokasikan anggaran besar untuk proyek mercusuar, tapi lupa, ada rakyat yang kelaparan. Dia lantang bicara kemajuan, tapi menutup mata pada korupsi yang merajalela.
Dia punya mata, tapi tidak melihat. Punya telinga, tapi tidak mendengar. Karena dia kehilangan nurani.
Di sisi lain, ada rakyat yang “buta.”
Ini bukan buta mata. Ini buta nurani. Mereka tidak mampu atau tidak mau melihat kenyataan. Bisa jadi karena mereka dicekoki propaganda terus-menerus. Bisa jadi karena mereka malas berpikir kritis. Atau, bisa juga karena mereka lebih memilih zona nyaman.
Saya pernah membaca survei yang menarik. Dari sebuah lembaga riset terkemuka. Hasilnya mengejutkan: sebagian besar orang lebih memilih hidup tenang dalam kebohongan, daripada ribut dan berjuang untuk kebenaran. Mereka lebih suka “tunduk” demi stabilitas semu, daripada “melawan” untuk keadilan sejati.
Dan kebutaan inilah yang memberi karpet merah bagi pemimpin-pemimpin “bodoh” untuk terus berkuasa tanpa koreksi.
Sejarah memberi banyak contoh. Kekaisaran Romawi hancur dari dalam. Berbagai rezim otoriter di abad ke-20 jatuh karena pemimpin yang mabuk kekuasaan dan rakyat yang acuh tak acuh.
Ketika kebodohan pemimpin bertemu dengan kebutaan rakyat, terciptalah sebuah era yang mengerikan. Di mana kebenaran jadi barang langka. Keadilan jadi hiburan. Dan kekuasaan hanya berputar di lingkaran elite.
Maka, kita tidak bisa lagi hanya bertanya, “Siapa yang harus kita pilih?”
Pertanyaan yang lebih mendesak adalah, “Apakah kita sudah melek?”
Sebab, sebuah bangsa tidak dihancurkan dari luar. Melainkan dari dalam. Oleh pemimpin yang bodoh, dan rakyat yang buta. *yas






