--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

“Sarjana Hantu” dan Industri Gelap di Balik Wisuda

Lokapalanews.id | Cerita ini bukan lagi rahasia. Ini sudah menjadi cerita harian yang kita dengar, yang kita lihat, tapi pura-pura tidak tahu. Kisah tentang barisan wisuda yang disusupi “sarjana hantu.” Mereka memakai toga, tersenyum bangga, padahal keringat yang menetes bukan dari perjuangan kuliah, melainkan dari uang. Uang yang ditukar dengan selembar ijazah.

Anda bilang Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) itu canggih. Saya percaya. Tapi, PDDikti itu ibarat tembok tinggi. Tembok itu memang kokoh, tapi di bawahnya ada lubang-lubang kecil yang sengaja dibuat. Lubang-lubang itulah yang dimanfaatkan oleh “mafia”. Mereka lihai, rapi, dan terorganisir. Mereka tahu betul kelemahan sistem, dan mereka tahu betul kelemahan mental sebagian mahasiswa.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Ini bukan sekadar skripsi yang dibuatkan orang. Ini adalah industri gelap yang beroperasi di dalam kampus. Oknum alumni menjadi makelar, oknum dosen menjadi “juri” yang memuluskan. Mereka menarget mahasiswa tingkat akhir yang sudah putus asa. Ditakut-takuti, diiming-imingi, hingga akhirnya mahasiswa itu membeli sebuah sandiwara. Harganya tidak main-main: Rp 4 juta hingga Rp 6 juta. Angka ini bukan harga skripsi, tapi harga martabat yang digadaikan.

Yang paling miris, skripsi yang dibeli itu “asal-asalan.” Isinya kopian dari sana sini. Bimbingannya formalitas, ujiannya sekadar tanya-jawab basa-basi. Ini menunjukkan bahwa bukan hanya mahasiswa yang curang, tapi juga sistem yang sudah keropos.

Mengapa kita membiarkan ini? Kita membiarkan pabrik “sarjana hantu” ini terus berproduksi. Lulusan-lulusan ini akan memenuhi dunia kerja. Mereka tidak punya kompetensi, tidak punya etos, yang mereka punya hanya kepercayaan diri palsu dari selembar kertas. Mereka akan menjadi beban, merusak iklim profesionalisme, dan pada akhirnya, melemahkan daya saing bangsa.

Baca juga:  Masyarakat Adat: Penjaga Pangan dan Budaya Nusantara

Saya teringat kata-kata lama: “ikan busuk dari kepalanya.” Jika pendidikan kita sudah busuk dari tingkat yang paling atas, jika integritas para pendidik sudah bisa dibeli, maka jangan heran jika kita mencetak generasi yang lebih pandai mengakali daripada mengabdi.

Wisuda seharusnya menjadi puncak kebanggaan atas sebuah perjuangan panjang. Namun, di banyak tempat, ia telah berubah menjadi panggung sandiwara. Panggung yang dipenuhi aktor-aktor bayaran, yang memainkan peran sarjana.

Jika kita ingin menyelamatkan masa depan bangsa, kita harus mulai dari sini. Bersihkan kampus, singkirkan mafia, dan kembalikan martabat pendidikan. Jangan biarkan ijazah menjadi kertas kosong yang berharga jutaan, tapi tidak bernilai apa-apa di hadapan kebenaran. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *