--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Pujian Setinggi Langit

Pujian setinggi langit sering seperti kembang api - indah sesaat, tapi cepat padam.

Lokapalanews.id | Saya pernah menyaksikan seseorang tersenyum lebar. Senyumnya lepas. Lebar sekali. Itu terjadi ketika atasannya memuji habis-habisan dirinya.

Katanya, berkat tangan dinginnya lembaga ini maju pesat. Prestasi demi prestasi diraih. Semua terlihat indah.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Anda pasti pernah mendengar orang dipuji setinggi langit. Pertanyaannya adalah apakah pujian itu benar-benar menggambarkan kenyataan?

Mari kita tarik napas sebentar.

Karena di balik senyum lebar itu, ada wajah lain yang tidak kalah nyata.

Kenyataan Pahit

Saya masih ingat. Di masa itu, lembaga ini justru pernah kena sanksi. Sanksi yang memalukan karena melakukan plagiat.

Akibatnya fatal. Ijazah tidak bisa diterbitkan. Bayangkan, mahasiswa yang sudah belajar bertahun-tahun harus menanggung akibat dari perbuatan yang bukan mereka lakukan. Apakah itu disebut kemajuan?

Belum lagi soal kas lembaga. Nyaris habis.

Saya tidak ingin menuduh lebih jauh. Tapi fakta bahwa gaji kita dipotong waktu itu, bukankah sudah cukup bercerita? Kita semua harus menanggung beban. Sementara orang yang bertanggung jawab justru masih bisa tersenyum bangga saat dipuji.

Ada lagi yang lebih memalukan. Soal mahasiswa bodong.

Anda mungkin bertanya: mahasiswa bodong itu seperti apa? Mereka tidak pernah kuliah. Tidak pernah terlihat di kelas. Tapi tahu-tahu ikut wisuda.

Kita benar-benar dibuat geleng kepala.
Bagaimana bisa sebuah lembaga pendidikan – yang seharusnya menjunjung tinggi integritas – menghasilkan lulusan seperti itu?

Apakah itu prestasi yang patut dibanggakan?

Pujian lain adalah jumlah mahasiswa mendadak melonjak. Semua bangga. Semua bertepuk tangan.

Tapi kita lupa bertanya: kok bisa mahasiswa mendadak banyak? Apakah karena kerja kerasnya? Tentu saja bukan. Yang bekerja semuanya. Dosen, pegawai dan mahasiswa serta karena dijanjikan beasiswa.

Janji manis itu laku keras. Mahasiswa baru berdatangan dengan penuh harapan.

Namun, ketika mereka sudah mulai aktif kuliah, beasiswa itu tidak jelas kabarnya. Banyak yang tidak lolos. Penetapannya juga dlakukan diam-diam. Kabarnya, banyak yang nggak lolos karena kuotanya memang sedikit. Pengelolanya juga sulit dihubungi. Janji tinggal janji. Banyak yang merasa ditipu.

Akhirnya, banyak yang memilih mundur. Dan mereka yang mundur itu membawa luka. Luka karena merasa dikibuli oleh lembaga yang mestinya jadi tempat mereka menimba ilmu.

Baca juga:  "Wisuda Berani Mati"

Yang bikin kita tambah gerah. Ada orang yang pekerjaannya tidak jelas. Tapi diam-diam mereka dapat tunjangan kinerja. Dipuji setinggi langit, juga dapat honor yang diberikan secara diam-diam.

Sementara kita yang kerja keras setiap hari, justru harus rela gaji dipotong.

Apa ini yang disebut keadilan?

Pujian yang Menyesatkan

Sekarang saya jadi bertanya-tanya.

Kenapa mereka bisa dipuji setinggi langit? Jawabannya sederhana ada informasi yang disulap. Ada cerita yang dipelintir. Ada laporan yang dipermak sedemikian rupa sehingga tampak indah di mata atasan.

Dan karena laporan itulah, mereka mendapat penghargaan. Dipuji di depan banyak orang. Disebut pahlawan.

Padahal, kita yang ada di lapangan tahu persis ceritanya tidak seindah itu.

Saya jadi ingat satu hal. Pujian itu ibarat kembang api. Indah sekali. Menerangi langit malam. Semua orang terpukau.

Tapi, berapa lama kembang api bisa bertahan? Sebentar saja. Beberapa detik kemudian padam. Dan yang tersisa hanya asap tipis.

Begitu pula dengan pujian yang lahir dari kebohongan.
Indah sebentar.
Tapi tak akan bertahan lama.

Saya percaya, kebenaran tidak bisa selamanya ditutup.
Cepat atau lambat, ia akan muncul ke permukaan.
Seperti minyak yang tidak bisa tenggelam di air.

Mungkin sekarang orang masih terpukau dengan pujian.
Mungkin sekarang mereka masih merasa di atas angin.
Tapi nanti, waktu yang akan menguji segalanya.

Karena integritas tidak bisa dibeli dengan pencitraan. Dan kebenaran tidak bisa dimatikan dengan tepuk tangan.

Kita belajar banyak dari kisah ini.
Bahwa pujian itu tidak selalu tanda keberhasilan.
Kadang, justru penutup rapat-rapat atas kegagalan.

Karena itu, jangan mudah terpesona oleh kata-kata manis.
Apalagi kalau kita sendiri melihat kenyataan yang berbeda.

Saya percaya, orang yang bekerja dengan hati tidak butuh pujian setinggi langit.
Yang mereka butuhkan hanya satu: kejujuran.

Dan kejujuran itulah yang akan membuat sebuah lembaga benar-benar dihormati. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."