Lokapalanews.id | Ketika kita melihat orang berkuasa berlaku arogan, jangan langsung menilai mereka kuat. Justru, itu tanda sebaliknya. Itu adalah gejala penyakit yang membuat seseorang terlalu bergantung pada jabatannya untuk merasa berharga.
Arogansi kekuasaan bukanlah tentang menjadi kuat, melainkan tentang menutupi kerapuhan. Ini adalah sinyal bahaya. Orang yang arogan adalah orang yang tidak aman, yang butuh terus-menerus menunjukkan dominasi agar keberadaannya diakui. Mereka takut, dan arogansi adalah tameng yang rapuh.
Namun, arogansi kekuasaan menyimpan bom waktu di dalamnya. Sikap sombong dan merendahkan akan memicu perlawanan. Mereka yang merasa tertindas, yang diabaikan, dan yang dirugikan, suatu saat akan bangkit.
Ketika perlawanan itu muncul, benteng arogansi yang selama ini dibangun akan runtuh. Kekuasaan yang dibangun di atas kesombongan akan kehilangan legitimasinya. Orang-orang yang tadinya dianggap remeh, yang diremehkan, akan menjadi kekuatan yang tak terbendung.
Pada akhirnya, arogansi kekuasaan adalah ilusi. Ia membuat seseorang merasa besar, padahal sejatinya ia sedang menggali kuburnya sendiri. Ketika rakyat, dengan segala kesabarannya, tak lagi diam, maka sang penguasa yang arogan tidak akan ada apa-apanya. Kekuasaannya akan menguap, dan yang tersisa hanyalah kehinaan.
Arogansi kekuasaan adalah pengingat bahwa kekuasaan tanpa empati dan integritas adalah bencana. Ia adalah jebakan mematikan yang tidak hanya menghancurkan orang lain, tetapi juga menjatuhkan sang pemegangnya dari singgasana kehormatan yang ia klaim. *yas






