Lokapalanews.id | Denpasar – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia menjadi momentum refleksi bagi Bali untuk memperjuangkan kemandirian ekonomi, agar tidak hanya bertumpu pada sektor pariwisata. Penguatan UMKM, pengembangan ekonomi kreatif, pertanian, produk lokal, hingga digitalisasi dinilai sebagai kunci mewujudkan kemerdekaan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Pemerhati ekonomi, Prof. Dr. IB. Raka Suardana, menilai HUT RI bukan sekadar seremoni, tetapi dapat menjadi pengingat penting agar Bali memiliki daya saing ekonomi yang lebih mandiri.
“Pariwisata memang tetap menjadi motor utama, namun harus berkelanjutan dan benar-benar meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya di Denpasar, Minggu (17/8).
Menurutnya, kemandirian pangan, penguatan UMKM, dan penciptaan lapangan kerja berkualitas menjadi strategi penting agar semangat kemerdekaan tidak berhenti pada simbolik belaka, tetapi nyata dirasakan masyarakat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan II-2025 tercatat 5,95 persen (yoy), lebih tinggi dibanding periode sama tahun lalu serta di atas pertumbuhan nasional yang sebesar 5,12 persen. Capaian tersebut menempatkan Bali sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi keempat secara nasional.
Prof. Raka menilai, laju positif ini menunjukkan ketahanan ekonomi Bali. Namun demikian, tantangan seperti ketergantungan pada wisatawan mancanegara, risiko krisis global, perubahan iklim, serta kesenjangan ekonomi antarwilayah perlu segera diantisipasi.
“Transformasi struktural mutlak dilakukan. Bali harus melakukan diversifikasi ekonomi dengan memperkuat sektor kreatif, digital, pertanian organik, hingga energi hijau,” paparnya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menegaskan pertumbuhan 5,95 persen pada triwulan II-2025 tetap didorong oleh pariwisata, terutama akomodasi, transportasi, dan perdagangan. Meski begitu, ia menekankan perlunya memperkuat ketahanan ekonomi domestik.
“Ekonomi Bali mampu tumbuh hampir 6 persen karena ditopang kekuatan domestik. Namun, ke depan risiko perlambatan global, perubahan iklim, serta tantangan sektor pertanian harus diwaspadai,” jelas Erwin dalam forum Balinomics 2025.
Ia menambahkan, ekspor Bali tumbuh 6 persen dan investasi juga naik 6 persen, sehingga perlu dijaga dengan menciptakan iklim investasi yang sehat. Selain itu, akselerasi transformasi digital dan penyesuaian terhadap perubahan pola konsumsi masyarakat harus terus dipercepat.
Menurutnya, koordinasi antara regulator, lembaga keuangan, dan pelaku usaha sangat penting untuk menjaga momentum pertumbuhan. “Diversifikasi ekonomi Bali adalah keharusan, agar ketergantungan pada pariwisata tidak menjadikan perekonomian rentan terhadap gejolak eksternal,” pungkasnya.*pri





