--- / --- • 00:00 WITA
Narasi  

Kebenaran Atas Kebohongan

Lokapalanews.id | Pagi ini kopi saya terasa sedikit lebih pahit dari biasanya. Bukan karena salah takaran dari tangan sang barista langganan. Tapi karena kalimat pendek yang meluncur dari meme di salah satu media sosial terus berputar-putar di kepala saya.

Kalimat itu telak. Menghujam langsung ke ulu hati mentalitas birokrasi kita yang hobi bersandiwara.

Advertisement

Bunyinya sederhana saja. Saya tidak pernah berniat menyerang siapapun, tapi kalau kebenaran dianggap serangan, mungkin kita terlalu lama hidup dalam kebohongan.

Dua kalimat. Padat. Tanpa basa-basi diplomatik yang bikin mengantuk.

Tapi efeknya? Langsung membuat meja-meja kekuasaan mendadak bergetar hebat.

Repotnya, di negeri tercinta ini, berkata jujur sering kali dianggap sebuah dosa besar.

Alih-alih mendengarkan substansi persoalan, para pemangku jubah kebesaran langsung pasang badan.

Mereka merasa tersinggung. Padahal yang disentuh adalah sistem bobroknya, bukan batang hidung pribadinya.

Anehnya, kalau ada pejabat yang hobi melontarkan data fiktif atau laporan asal bapak senang, semua orang manggut-manggut sambil tersenyum lebar.

Padahal itu racun yang mematikan akal sehat publik.

Usut punya usut, kita memang sudah terlalu nyaman hidup di dalam zona nyaman kebohongan kolektif.

Setiap kali ada orang yang membawa cermin kejujuran, buru-buru cermin itu dipecahkan berkeping-keping.

Lalu mereka berteriak lantang bahwa orang itu sedang membuat kegaduhan.

Padahal wajah mereka sendiri yang penuh daki dan belepotan arang.

Bayangkan sebuah ruang sidang atau rapat tingkat tinggi yang steril dari bau keringat rakyat.

Di sana, para petinggi duduk bersandar empuk di kursi kulit mewah.

Mereka mendengarkan paparan manis tentang keberhasilan program-program nasional tanpa cela.

Semua laporan disusun rapi dengan grafik menanjak ke langit biru.

Tidak ada satupun kolom yang menunjukkan kegagalan di lapangan.

Padahal di luar sana, jeritan rakyat kecil terdengar nyaring menembus dinding-dinding kantor kementerian.

Tapi suara-suara sumbang itu sengaja diredam agar tidak mengganggu tidur nyenyak para pengambil kebijakan.

Begitu ada sosok yang berani membuka tabir kepalsuan tersebut, suasana langsung berubah gaduh.

Para penjilat kekuasaan langsung berdiri membela diri mati-matian.

Mereka menuding pernyataan itu sebagai bentuk serangan personal yang merusak marwah institusi.

Padahal marwah apa yang hendak dijaga jika fondasi institusi tersebut dibangun di atas tumpukan kebohongan?

Ini adalah ironi klasik yang terus berulang dari masa ke masa tanpa ada ujungnya.

Penguasa sering kali alergi terhadap cermin kejujuran.

Mereka lebih suka memelihara para pembeo yang pandai menjilat ketimbang mendengarkan suara kritis.

Akibatnya, kebijakan publik yang dilahirkan kerap melenceng jauh dari sasaran utama.

Anggaran triliunan rupiah digelontorkan untuk program yang tidak menyentuh akar masalah sedikitpun.

Tapi tidak ada yang berani menegur karena takut kehilangan kedudukan atau fasilitas empuk.

Budaya ABS sudah mendarah daging dan menjelma menjadi dogma suci di kalangan birokrat kita.

Baca juga:  Skandal Uang Panas, 26 Pegawai Pajak Dipecat

Siapa yang membangkang pada doktrin itu, siap-siap saja disingkirkan secara perlahan.

Lalu ke mana kita harus mengadu?

Ketika kejujuran dikriminalisasi sebagai bentuk pembangkangan, maka matinya nurani tinggal menunggu hari.

Ketika melontarkan kalimat setajam itu di hadapan para pengambil kebijakan, mereka mungkin sudah tahu risikonya.

Tapi kalau seorang teknokrat senior memilih untuk diam dan ikut arus, maka kebohongan itu akan terus lestari.

Padahal masalah bangsa ini sudah terlampau kronis untuk diselesaikan dengan senyuman palsu.

Butuh pisau bedah yang tajam untuk mengiris daging yang sudah busuk bernanah.

Tapi ya itu tadi.

Begitu pisau itu menyentuh kulit yang terinfeksi, jeritan kesakitan langsung membahana ke mana-mana.

Mereka teriak diserang. Mereka merengek dizalimi.

Padahal itu reaksi alami tubuh yang sedang disembuhkan dari penyakit menahun.

Kita sudah terlalu lama dicekokin dongeng pertumbuhan ekonomi yang meroket, padahal rakyat di bawah masih megap-megap.

Kita disuguhi angka-angka statistik palsu yang nampak indah di atas kertas putih.

Tapi begitu turun ke pasar tradisional, baunya jauh panggang dari api.

Harga kebutuhan pokok melambung tinggi tanpa kendali.

Lapangan pekerjaan semakin menyusut dan sulit dijangkau.

Tapi di ruang-ruang rapat ber-AC dingin, laporan yang dibacakan selalu bernada merdu.

Siapa pun yang berani mengangkat tangan dan berkata bahwa raja sedang telanjang, langsung dicap musuh bersama.

Repotnya lagi, mentalitas anti-kritik ini sudah menjangkiti hampir semua lini birokrasi kita.

Mulai dari urusan anggaran negara yang bolong sana-sini, hingga proyek mercusuar yang mangkrak.

Semua ditutupi rapat-rapat dengan jargon-jargon pembangunan yang memabukkan kepala.

Begitu ada yang membongkar boroknya, jurus krisis humas langsung dikerahkan secara masif.

Mereka sibuk memutar balikkan fakta alih-alih memperbaiki sistem yang salah urus.

Padahal publik tidak butuh drama pencitraan yang melelahkan nalar.

Publik butuh kebenaran telanjang agar tahu ke mana arah perahu besar ini hendak dikemudikan.

Kalau kebenaran terus-menerus dibungkam dengan dalih menjaga stabilitas semu, maka jangan heran jika suatu hari nanti perahu itu menabrak karang.

Dan saat itu terjadi, tidak ada lagi ruang untuk saling menyalahkan.

Sebab semua orang sudah ikut menikmati kebohongan yang dirawat bersama-sama.

Ketika ada seseorang yang melempar batu ke dalam kolam yang tenang itu, gelombang kejutnya sudah menyebar ke mana-mana tanpa bisa dicegah.

Sekarang tinggal kita, mau terus memilih hidup dalam buaian dongeng manis, atau bangun menghadapi kenyataan pahit?

Sebab sejarah selalu punya cara sendiri untuk menghukum mereka yang memilih menutup mata.

Kebenaran mungkin memang terasa pahit di lidah pada detik pertama.

Tapi ia jauh lebih menyehatkan ketimbang manisnya racun kebohongan yang dibungkus rapi. *yas

Advertisement
Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."
Advertisement