Lokapalanews.id | Grup WhatsApp kantor itu mati suri. Hanya sesekali muncul pesan formal dari pimpinan, lalu hening lagi. Seperti ladang gandum yang habis dibakar, hanya menyisakan abu dan bau hangus. Padahal dulu, tempat itu riuh. Riuh dengan candaan, tawa lepas, dan emoticon bertebaran yang mencerminkan kedekatan.
Kematian ini bukan karena ketiadaan topik. Ini adalah kematian yang disengaja. Kematian yang dirancang. Dalangnya? Satu kebijakan pimpinan yang kontroversial.
Satu keputusan itu seperti sebuah paku. Dipukul, menancap, dan meninggalkan lubang. Lubang itu adalah ketakutan. Karyawan sekarang takut. Takut bercanda, takut salah bicara, takut komentar yang dianggap remeh akan disalahartikan. Mereka bukan lagi tim yang solid, melainkan individu-individu yang saling curiga.
Data dan Fakta Psikologis di Balik Keheningan
Ini bukan sekadar perasaan. Secara psikologis, ini adalah respons alami manusia terhadap lingkungan yang tidak aman.
Sebuah studi oleh Harvard Business Review (HBR) pada 2017 menunjukkan bahwa tim dengan tingkat “keamanan psikologis” yang tinggi cenderung lebih produktif, inovatif, dan berani mengambil risiko. Keamanan psikologis ini adalah keyakinan bahwa seseorang tidak akan dihukum atau dipermalukan karena menyampaikan ide, pertanyaan, atau bahkan kekhawatiran.
Keheningan di grup WA ini adalah bukti nyata bahwa keamanan psikologis itu sudah musnah.
Karyawan Membentuk “Grup Siluman”
Mereka tidak diam sepenuhnya. Mereka hanya pindah. Obrolan yang dulu meramaikan grup besar kini berpindah ke “grup siluman”. Grup-grup kecil yang berisi orang-orang sepaham. Di sinilah mereka bebas berkeluh kesah, berbagi informasi, dan, ya, mengkritik kebijakan yang ada.
Ini adalah strategi bertahan hidup. Mereka tidak ingin konfrontasi langsung, karena mereka tahu mereka akan kalah. Mereka memilih untuk membangun benteng komunikasi sendiri, jauh dari mata-mata atasan. Grup siluman ini menjadi katup pelepas tekanan, sekaligus ruang untuk membangun solidaritas tandingan.
Pada akhirnya, keheningan di grup WhatsApp resmi bukanlah tanda tim yang patuh, melainkan tanda protes yang dingin dan menohok. Ini adalah cara mereka mengatakan, “Kami tidak setuju, tapi kami memilih diam daripada dihancurkan.” Dan keheningan ini jauh lebih berbahaya dari ribuan makian. Ini adalah bom waktu yang sedang dihitung mundur, menunggu untuk meledak. *yas






