Lokapalanews.id | Jakarta – Bank Indonesia memilih langkah bertahan di tengah gelombang ketidakpastian global yang kembali meninggi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Rapat Dewan Gubernur pada 21 hingga 22 Juli 2026 secara resmi memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate pada level 5,75%, berdampingan dengan suku bunga Deposit Facility di posisi 4,75% dan Lending Facility 6,50%. Keputusan ini menjadi jangkar utama otoritas moneter untuk meredam tekanan eksternal sekaligus menjaga inflasi tetap berada dalam koridor sasaran.
Di sisi lain, transmisi sektor perbankan digerakkan secara akomodatif untuk menopang denyut nadi ekonomi dalam negeri. Total insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial atau KLM ditingkatkan hingga maksimal 6,0% dari Dana Pihak Ketiga, dengan alokasi khusus untuk mengatasi segmentasi likuiditas dan memperdalam pasar uang. Geliat penyaluran kredit perbankan tercatat masih tumbuh perkasa di angka 12,67% secara tahunan pada Juni 2026, ditopang oleh permodalan perbankan yang kokoh pada level 23,74% serta rasio kredit bermasalah yang terkendali ketat.
Otoritas moneter terus memantau pergerakan likuiditas harian di tengah tren kenaikan imbal hasil US Treasury dan ekspektasi penyesuaian suku bunga The Fed yang diprediksi bergeser lebih awal. Sinergi erat melalui Program Percepatan Intermediasi Indonesia bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan disiapkan menjadi benteng terakhir penjaga ketahanan makroekonomi nasional.
Ketahanan ekonomi nasional di tengah badai geopolitik global membuktikan bahwa bauran kebijakan moneter dan fiskal tidak lagi sekadar instrumen pelindung jangka pendek, melainkan arsitektur utama kedaulatan finansial jangka panjang. Ketika dinamika eksternal terus menguji ketahanan devisa, ujian sesungguhnya terletak pada efektivitas perbankan menyalurkan likuiditas secara merata ke sektor-sektor prioritas tanpa memicu kerapuhan sistemik di dalam negeri. *R102






