Lokapalanews.id | Matahari Kemayoran siang itu seperti enggan berkompromi. Di balik gerobak kecilnya, Sudrajat (50) menyeka peluh yang mengucur deras. Tangannya yang mulai keriput dengan telaten memotong balok-balok warna-warni yang ia sebut “es kue”. Bagi anak-anak, itu adalah bongkahan pelangi yang dingin. Bagi Sudrajat, itu adalah nafas dapur di rumahnya.
Namun, Sabtu itu, 24 Januari 2026, pelangi di gerobaknya mendadak kelabu.
Dunia Sudrajat runtuh bukan karena dagangannya tak laku, melainkan karena sepasang sepatu bot dan tuduhan yang melukai martabatnya. Dua orang berseragam – seorang Bhabinkamtibmas dan seorang Babinsa – mendekatinya. Bukannya perlindungan yang didapat, pria paruh baya ini justru dipaksa menelan penghinaan yang tak pernah ia bayangkan seumur hidupnya.
“Bang, es kue, Bang. Beli empat,” kenang Sudrajat menirukan ucapan aparat itu. Namun, transaksi itu bukan awal dari rezeki. Es yang dibuatnya dengan kejujuran itu dibejek-bejek, diremas hingga cairannya tumpah mengotori lantai. “Katanya ini spons. Katanya ini bukan makanan,” suaranya bergetar saat menceritakan kembali momen itu.
Ketakutan Sudrajat memuncak ketika sisa es yang dituduh sebagai busa itu dijejalkan ke mulutnya. Tak cukup sampai di sana, fisik Sudrajat yang ringkih menjadi sasaran kemarahan yang membabi buta. Di hadapan kerumunan orang, termasuk pengurus lingkungan setempat, Sudrajat dipaksa berdiri satu kaki.
“Saya digampar, ditonjok, ditendang pakai sepatu bot. Saya sampai terpental,” bisiknya pelan, matanya menatap kosong ke arah jalanan Kemayoran yang kini ia takuti. Tidak ada permintaan maaf saat itu. Hanya ada rasa sakit di dada dan memar di tubuh yang dipaksa bertahan demi sesuap nasi.
Kini, hasil laboratorium dari Polres Metro Jakarta Pusat telah keluar. Isinya lugas: es gabus itu murni makanan, aman dikonsumsi, dan sama sekali bukan spons atau polyurethane foam. Kebenaran akhirnya tegak, tapi jiwa Sudrajat terlanjur retak.
Aparat akhirnya bersuara. Aiptu Ikhwan Mulyadi, sang Bhabinkamtibmas, mengakui sebuah kekeliruan fatal yang mereka sebut sebagai “terlalu cepat menyimpulkan.” Di hadapan publik, mereka mengakui telah bertindak tanpa menunggu hasil ilmiah dari Dinas Kesehatan atau Labfor Polri. Alibi mereka klasik: respons cepat atas keresahan warga.
“Niat kami semata-mata untuk mengedukasi,” ujar Ikhwan. Namun, bagi Sudrajat, “edukasi” itu datang dalam bentuk kepalan tangan dan tendangan bot. Sebuah respons cepat yang justru melangkahi logika dan kemanusiaan.
Kejadian memilukan ini memancing reaksi keras dari Senayan. Abdullah, Anggota Komisi III DPR RI yang akrab disapa Abduh, menegaskan bahwa luka Sudrajat tidak bisa sembuh hanya dengan jabat tangan formalitas. “Penyelesaian kasus Pak Sudrajat tidak cukup hanya dengan permintaan maaf. Jika dibiarkan, saya khawatir akan muncul banyak korban serupa dari kalangan rakyat kecil akibat arogansi aparat,” tegas politisi PKB tersebut.
Abduh melihat ada lubang besar dalam sistem keadilan jika negara hanya diam melihat rakyat kecil diinjak-injak oleh mereka yang seharusnya menjadi pelindung. Ia mendorong adanya sanksi etik dan disiplin yang transparan. Lebih dari itu, ia memanggil para pembela hukum untuk berdiri di samping Sudrajat, memastikan nama baik penjual es itu pulih seutuhnya.
Bagi Sudrajat, keadilan mungkin terasa seperti kata yang mewah dan jauh di awan. Saat ini, yang tersisa hanyalah trauma. Ia tak lagi berani mengayunkan kakinya menuju Kemayoran. Gerobaknya diam, sama diamnya dengan hatinya yang masih menyimpan perih tendangan sepatu bot.
Negara harus hadir bukan sekadar untuk mengakui kesalahan lewat secarik kertas “mohon maaf”, tapi untuk mengembalikan harga diri seorang ayah yang dituduh meracuni anak-anak demi recehan rupiah. Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah institusi bukan diukur dari seberapa cepat mereka bertindak, tapi seberapa bijak mereka memperlakukan manusia, terutama mereka yang paling lemah di akar rumput.
Es gabus itu memang dingin di lidah, namun perlakuan yang diterima Sudrajat meninggalkan luka yang panas dan membekas di hati siapa saja yang masih memiliki nurani. Keadilan harus tegak, agar tak ada lagi Sudrajat lain yang harus terpental oleh sepatu bot kekuasaan hanya karena sebuah simpulan yang terburu-buru. *yas






