Lokapalanews.id | Sleman – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, mengajak para pegiat internet komunitas untuk memperluas peran dalam mengedukasi masyarakat terkait pemanfaatan teknologi saat terjadi bencana. Hal tersebut disampaikan guna memastikan masyarakat tetap terkoneksi meski infrastruktur utama mengalami kerusakan total.
Dalam kunjungan ke School of Community Networks Indonesia di Sleman, Yogyakarta, Kamis (15/1/2026), Nezar menekankan bahwa kemandirian komunitas dalam mengelola jaringan alternatif menjadi kunci ketangguhan digital nasional. Menurutnya, edukasi tidak boleh hanya berfokus pada penggunaan internet harian, tetapi juga pada aspek teknis dalam kondisi darurat.
Inovasi Teknologi di Tengah Keterbatasan
Nezar menyoroti pentingnya pengenalan teknologi yang tidak bergantung pada jaringan listrik konvensional. Ia mencontohkan penggunaan perangkat satelit yang dikombinasikan dengan sumber energi terbarukan sebagai solusi praktis saat terjadi pemadaman listrik massal.
“Kita perlu memberikan edukasi mengenai terobosan teknologi di tengah keadaan darurat. Meski menggunakan Starlink, jika pasokan energi tidak ada, maka harus ada alternatif seperti penggunaan panel surya agar tetap bisa terkoneksi,” ujar Nezar di hadapan peserta pelatihan.
Ia mengibaratkan keberadaan internet saat ini layaknya udara; tidak terlihat namun sangat vital. Kesadaran akan pentingnya konektivitas seringkali baru muncul saat akses terputus, yang justru merupakan momen paling kritis bagi keselamatan warga di daerah bencana.
Belajar dari Bencana di Sumatra dan Aceh
Urgensi komunikasi darurat ini berkaca pada bencana banjir yang baru-baru ini melanda wilayah Sumatra dan Aceh. Nezar menceritakan tantangan berat di lapangan, di mana pendangkalan sungai dan putusnya jembatan di wilayah Bener Meriah dan Bireuen menyebabkan isolasi total. Kondisi medan yang sulit dijangkau membuat perbaikan menara BTS (Base Transceiver Station) dan infrastruktur kelistrikan oleh petugas teknis menjadi terhambat.
“Di daerah bencana, selain air dan makanan, telekomunikasi menjadi kebutuhan yang sangat luar biasa. Begitu internet terputus, kita baru sadar berada dalam keadaan yang kritis,” ungkapnya.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pemulihan jaringan tidak dapat bertumpu sepenuhnya pada pemerintah atau operator seluler saja. Partisipasi aktif komunitas lokal dalam membangun jaringan swadaya menjadi faktor krusial untuk mempercepat pertukaran informasi penyelamatan.
Kolaborasi Menuju Ketangguhan Digital
Pemerintah menegaskan komitmennya untuk membuka pintu kolaborasi bagi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pegiat komunitas hingga sektor swasta. Langkah ini diambil guna mengakselerasi pembangunan infrastruktur digital yang inklusif dan tahan bencana di seluruh pelosok Indonesia.
Strategi kolaboratif ini sejalan dengan target nasional No One Left Behind dalam transformasi digital. Dengan penguatan di level komunitas, diharapkan risiko isolasi informasi saat bencana dapat diminimalisasi secara signifikan.
“Apa yang dilakukan rekan-rekan pegiat sangat penting untuk memperkuat ketangguhan infrastruktur telekomunikasi kita. Partisipasi semua pihak menjadi sangat strategis dalam keadaan darurat,” pungkas Nezar. *R106






