Lokapalanews.id | Saya sedang menikmati kopi pagi. Kopinya pahit. Tanpa gula. Tiba-tiba ponsel saya bergetar hebat. Ada berita masuk dari Jawa Timur. Kabar itu datang dari Tulungagung. Kota marmer. Kota yang tenang.
KPK kembali beraksi. Mereka melakukan OTT lagi. Operasi Tangkap Tangan. Lokasinya di Jawa Timur. Sasarannya tidak main-main. Sebanyak 16 orang diamankan. Termasuk sang bupati. Namanya Gatut Sunu Wibowo.
Saya langsung teringat masa lalu. Tulungagung itu daerah istimewa. Tanahnya subur. Rakyatnya pekerja keras. Industrinya maju. Tapi entah mengapa. Urusan hukum sering mampir ke sana. Seolah ada magnet yang kuat.
Bupati Gatut kabarnya sudah tiba. Di Jakarta. Di Gedung Merah Putih. Pukul 06.50 WIB tadi pagi. Wajahnya pasti lelah. Perjalanan Tulungagung-Jakarta itu jauh. Apalagi jika dikawal petugas. Hati pasti lebih lelah lagi.
Sisanya masih di daerah. Ada 15 orang lainnya. Mereka diperiksa di Mapolresta. Suasananya pasti tegang. Kursi plastik di kantor polisi. Terasa sangat dingin pagi ini. Padahal matahari sedang terik.
Saya heran. Benar-benar heran. Mengapa Jawa Timur lagi? Mengapa kepala daerah lagi? Seperti tidak ada habisnya. Seperti tidak ada kapoknya. Padahal sosialisasi sudah sering. Pencegahan sudah masif.
OTT ini seperti ritual. Terus berulang. Polanya hampir sama. Ada proyek. Ada komitmen fee. Lalu ada transaksi. Kemudian ada yang melapor. Terakhir ada rompi oranye. Begitu terus. Siklusnya sangat membosankan.
Padahal sistem sudah diperketat. Semuanya sudah digital. Ada e-budgeting. Ada e-planning. Semua serba elektronik. Tapi manusia tetaplah manusia. Mereka selalu menemukan celah. Celah sekecil lubang jarum.
Mungkin kita salah fokus. Kita terlalu sibuk membangun sistem. Tapi lupa membangun orangnya. Sistem itu benda mati. Dia tidak punya nafsu. Manusia yang punya kendali. Jika niatnya buruk, sistem tercanggih pun jebol.
Saya sering bicara dengan pengusaha. Mereka mengeluh hal yang sama. Biaya tinggi. High cost economy. Tanpa “pelicin”, urusan macet. Tanpa “setoran”, proyek menjauh. Akhirnya semua saling sandera.
Pengusaha butuh kerjaan. Pejabat punya kewenangan. Keduanya bertemu di titik gelap. Di situlah integritas runtuh. Runtuh secepat tembok kena gempa. Tidak ada yang bisa menahan. Kecuali rasa takut pada hukum.
Tapi apakah hukum menakutkan? Ternyata tidak juga. Hukuman penjara dianggap risiko jabatan. Seperti kecelakaan kerja bagi buruh. Masuk penjara beberapa tahun. Keluar masih punya sisa harta. Itu pemikiran yang sesat.
Tulungagung ini punya potensi besar. Pariwisatanya mulai menggeliat. Pantainya indah-indah. Jalur Lintas Selatan (JLS) sudah bagus. Tapi kalau pemimpinnya kena masalah, fokus pasti buyar. Pembangunan pasti terhambat.
Rakyat selalu jadi korban. Mereka yang memilih. Mereka yang berharap. Tapi mereka juga yang kecewa. Harapan itu mahal harganya. Sekali dikhianati, sembuhnya lama. Bisa bertahun-tahun.
KPK bilang ini penyelidikan tertutup. Sangat rahasia. Sampai akhirnya meledak. Publik kaget, tapi tidak heran. Kita sudah terlalu sering mendengar berita ini. Kita sudah mulai mati rasa. Itu yang berbahaya.
Jika rakyat sudah mati rasa, itu lampu merah. Mereka tidak lagi peduli siapa yang ditangkap. Mereka anggap semua sama saja. Ini tantangan besar bagi kita semua. Bagaimana mengembalikan kepercayaan itu.
Saya membayangkan suasana di Tulungagung hari ini. Pasti ramai di warung kopi. Orang-orang membicarakan bupatinya. Ada yang sedih. Ada yang menghujat. Ada juga yang pura-pura tidak tahu. Itulah dinamika kita.
Bupati Gatut kini harus berjuang. Membuktikan dirinya di persidangan. Praduga tak bersalah tetap ada. Itu hak hukumnya. Tapi jejak digital dan bukti sulit dibantah. KPK jarang meleset kalau sudah OTT.
Sebanyak 16 orang itu bukan jumlah kecil. Itu rombongan. Seperti mau piknik ke Jakarta. Tapi tujuannya berbeda. Bukan ke Monas atau Ancol. Tapi ke ruang pemeriksaan. Yang ruangannya sempit dan dingin.
Kita butuh lebih dari sekadar tangkapan. Kita butuh perubahan budaya. Budaya malu harus dihidupkan lagi. Malu mencuri uang rakyat. Malu mengkhianati amanah. Tanpa itu, OTT hanya akan jadi tontonan rutin.
Tontonan yang menghibur bagi lawan politik. Tapi menyakitkan bagi pendukung. Dan memalukan bagi daerah. Tulungagung yang indah kini tercoreng lagi. Semoga ini yang terakhir. Meski saya sendiri ragu.
Pagi ini kopi saya sudah habis. Rasanya tetap pahit. Sepahit berita yang saya baca. Kita memang masih punya jalan panjang. Untuk menjadi bangsa yang bersih. Jalan yang lebih terjal dari tanjakan di jalur selatan.
Besok mungkin ada berita lain. Dari kota lain. Dengan aktor yang berbeda. Tapi dengan judul yang mirip. Kapan judul itu berganti? Kapan kita benar-benar merdeka dari korupsi? Hanya waktu yang tahu.
Atau mungkin, hanya kita yang bisa menjawabnya. Lewat tindakan nyata. Bukan sekadar retorika di mimbar. Mari kita tunggu kelanjutan kasus ini. Sambil tetap waspada. Jangan-jangan, “gajah” lainnya masih berkeliaran. *yas






