--- / --- 00:00 WITA

Satu Darah yang Menuntut Kepastian

Lokapalanews.id | Sore itu di Denpasar, matahari seolah tertahan di pucuk jenggala, menyisakan hawa gerah yang membungkus kulit. Di sebuah sudut teras, seorang lelaki berinisial MH duduk dengan jemari yang terus bertaut, sesekali mengetuk meja kayu dengan irama yang tak beraturan. Matanya menatap lurus ke depan, namun pikirannya tampak sedang menggeledah tumpukan ingatan yang carut-marut. Di luar sana, angin Maret membawa kabar yang pahit: namanya telah tercatat dalam lembar laporan polisi. Tuduhannya berat, sebuah frasa yang sanggup meruntuhkan martabat siapa pun: pengambilan paksa anak.

Dua puluh bulan. Itulah usia sang bocah yang kini menjadi pusat badai. Bagi dunia, dua puluh bulan hanyalah deretan angka dalam penanggalan. Namun bagi mereka yang bersengketa, angka itu adalah tawa yang mendadak hilang, aroma bedak bayi yang tertinggal di bantal, dan sepasang mata kecil yang mungkin sedang kebingungan menatap wajah-wajah dewasa yang saling bersitegang. MH menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang terdengar seperti upaya untuk membuang beban yang menghimpit dada. Ia membantah narasi yang dibangun MC, ibu muda yang melaporkannya ke Polresta Denpasar.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Di ruang-ruang penyidik, kata “paksa” menjadi pemantik api. MC mengisahkan adegan di tanggal 14 Maret itu sebagai sebuah perampasan – seorang anak yang direnggut dari dekapan hangat sang nenek saat jarum jam menunjuk pukul lima sore. Namun bagi MH, kenyataan tidak sesederhana diksi yang tertuang dalam laporan polisi. Ada lapisan-lapisan emosi dan hak yang menurutnya telah dikubur di bawah narasi sepihak. Ia tidak melihat dirinya sebagai penculik; ia melihat dirinya sebagai seorang ayah yang sedang mencari jalan pulang menuju darah dagingnya sendiri.

Keinginan MH sederhana namun sekaligus sangat menyakitkan: ia meminta tes DNA. Dalam dunia yang penuh dengan klaim dan air mata, ia memilih bersandar pada sains yang dingin. Sebuah permintaan yang sebenarnya menyimpan luka yang amat dalam. Bayangkan seorang lelaki yang harus meragukan garis keturunannya sendiri demi mendapatkan pengakuan hukum yang sah. Tes DNA bukan sekadar prosedur medis; itu adalah gugatan terhadap ketidakpastian. Ia ingin memastikan bahwa di dalam nadi sang bocah, mengalir darah yang sama dengan yang berdenyut di jantungnya. Tanpa kepastian itu, segala bentuk kasih sayang seolah berpijak di atas pasir hisap.

Sengketa hak asuh ini bukan lagi sekadar urusan domestik yang bisa diselesaikan dengan obrolan di meja makan sambil menyesap kopi. Ia telah berubah menjadi palu hakim yang menunggu untuk diketukkan. MH menegaskan bahwa semua ini harus bermuara pada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Ia lelah dengan intervensi, lelah dengan penghakiman massa yang tumbuh subur di media sosial, dan lelah dengan narasi yang menyudutkannya sebelum bukti-bukti digelar di atas meja hijau.

Baca juga:  Tangis yang Terputus di Pintu Keberangkatan

Ada ketakutan yang terselip dalam nada bicaranya – bukan takut akan penjara, melainkan takut akan masa depan si kecil. Pengasuhan bukan sekadar memberi makan atau tempat berteduh; bagi MH, ini tentang kepastian hukum yang akan menjamin keselamatan sang anak di masa depan. Jika hari ini statusnya kabur, bagaimana esok saat sang anak mulai bertanya tentang asal-usulnya? Bagaimana jika masa kecil yang seharusnya penuh warna justru harus diwarnai dengan perselisihan orang dewasa yang tak kunjung usai?

Di Denpasar, kasus ini kini menjadi berkas-berkas tebal di tangan aparat. Setiap lembar pemeriksaan adalah upaya untuk menyatukan kepingan puzzle yang pecah. Ada dua sisi cerita yang saling bertabrakan, dua ego yang mungkin sama-sama terluka, dan satu nyawa kecil yang terjebak di tengah-tengahnya. MH bergeming pada posisinya sebagai orang tua kandung yang ingin mempertahankan haknya, sebuah posisi yang menurutnya sah secara moral meski kini diuji secara hukum.

Malam mulai turun menyelimuti kota. Suara kendaraan di kejauhan terdengar seperti dengung yang tak putus-putus. MH masih di sana, mungkin membayangkan wajah anaknya yang baru berusia dua puluh bulan itu. Di usia sedini itu, seorang anak seharusnya hanya tahu tentang pelukan dan rasa aman, bukan tentang laporan polisi atau tes laboratorium yang dingin. Dunia orang dewasa memang seringkali terlalu bising untuk telinga yang mungil.

Kini, semua mata tertuju pada proses hukum yang sedang bergulir. MC dengan laporannya, dan MH dengan klarifikasinya. Keduanya berdiri di kutub yang berbeda, dipisahkan oleh jurang rasa tidak percaya yang amat dalam. Dan di ujung lorong persidangan nanti, yang dicari bukan sekadar siapa yang menang atau siapa yang kalah, melainkan di mana sebenarnya rumah yang paling aman bagi seorang manusia kecil yang belum mengerti mengapa dunianya tiba-tiba riuh oleh pertengkaran.

Hukum akan memberikan jawaban, namun hukum jarang bisa menyembuhkan luka. Di balik setiap pasal dan aturan, selalu ada hati yang remuk. Dan bagi MH, kepastian adalah satu-satunya cara untuk berhenti berlari dari bayang-bayang keraguan. Ia hanya ingin tahu, apakah pelukannya selama ini adalah pelukan seorang ayah yang sah, ataukah hanya sebuah pinjaman dari takdir yang sebentar lagi akan diambil kembali. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."