--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Minta Maaf Saja

Gubernur Bali Wayan Koster saat menyampaikan pidato satu tahun kepemimpinan di hadapan DPRD Provinsi Bali, Rabu (25/3/2026).

Lokapalanews.id | Saya tertegun sejenak. Membaca berita dari Bali itu. Hari Rabu kemarin. Tepat setahun Wayan Koster memimpin kembali. Kali ini bersama Giri Prasta.

Biasanya pidato satu tahun itu isinya pamer. Isinya deretan angka. Isinya daftar penghargaan yang berderet seperti gerbong kereta api.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Koster memang menyebut itu. Ada opini WTP ke-12. Ada predikat provinsi paling inovatif. Ada skor reformasi birokrasi yang tinggi.

Tapi bukan itu yang membuat saya berhenti mengunyah pisang goreng pagi ini. Ada kalimat yang tidak biasa. Kalimat yang jarang keluar dari mulut pejabat yang sedang di puncak kuasa.

Titiang mohon maaf yang sebesar-besarnya.”

Itu kalimat sakti. Diucapkan di depan sidang paripurna DPRD Bali. Di depan para wakil rakyat yang biasanya hanya mendengar laporan keberhasilan.

Koster mengaku sebagai manusia biasa. Dia bicara soal salah kata. Salah sikap. Hingga salah tindakan.

Jarang ada gubernur bicara begitu. Apalagi di tengah banjir penghargaan. Biasanya, kalau sudah dapat penghargaan, pejabat merasa sudah suci. Merasa sudah benar semua.

Di Bali, kritik itu keras. Media sosial di sana sangat hidup. Kadang pedas sekali. Lebih pedas dari sambal matah di warung langganan saya.

Dulu, Koster mungkin terlihat kaku. Terkesan antikritik bagi sebagian orang. Tapi Rabu kemarin dia berubah. Dia menyebut kritik pedas di medsos itu sebagai “kepedulian”.

Ini menarik. Ini cerdas secara komunikasi.

Kalau kritik dilawan dengan kemarahan, energi habis. Kalau kritik dijawab dengan laporan polisi, rakyat takut. Tapi kalau kritik dianggap sebagai bentuk tanggung jawab bersama, suasana jadi adem.

Bali memang sedang tidak baik-baik saja dalam beberapa hal. Pariwisata memang pulih. Hotel penuh lagi. Jalanan macet lagi.

Tapi masalah sampah masih menghantui. Masalah transportasi publik masih jadi PR besar. Belum lagi urusan perilaku wisatawan asing yang kadang bikin geleng-geleng kepala.

Penghargaan IGA 2025 sebagai provinsi terinovatif itu bagus. Tapi inovasi di atas kertas harus jadi inovasi di atas aspal. Harus jadi solusi di tempat pembuangan sampah.

Rakyat tidak makan angka WTP. Rakyat tidak tidur di atas piagam penghargaan.

Rakyat hanya ingin jalan tidak macet. Rakyat ingin lingkungannya bersih. Rakyat ingin budaya Bali tetap terjaga di tengah gempuran modernisasi yang gila-gilaan.

Koster tampaknya sadar itu. Dia menggunakan istilah ngayah. Sebuah konsep pengabdian tulus dalam tradisi Bali.

Dia juga menyebut lascarya niskala-sekala. Bekerja secara total lahir dan batin. Fokus, tulus, dan lurus.

Baca juga:  Stingers Girls BINUS University Raih Back-to-Back Championship Liga Mahasiswa 2025

Tiga kata itu berat sekali timbangannya. Fokus berarti tidak tengok kanan-kiri untuk kepentingan pribadi. Tulus berarti tanpa pamrih. Lurus berarti tidak main mata dengan aturan.

Bisakah itu dilakukan?

Dalam politik, konsistensi adalah barang mewah. Janji mudah dibuat. Pidato mudah disusun oleh staf ahli. Tapi pelaksanaan di lapangan itu yang berdarah-darah.

Duet Koster-Giri Prasta ini punya modal kuat. Koster kuat di konsep dan birokrasi. Giri Prasta punya basis massa yang sangat loyal.

Kalau mereka benar-benar “solid bergerak” seperti yang dikatakan dalam pidato, Bali harusnya bisa melompat lebih tinggi. Bukan sekadar lari di tempat sambil memegang piala.

Saya melihat permintaan maaf Koster ini sebagai bentuk reset mental. Dia ingin memulai tahun kedua dengan lembaran yang lebih bersih. Tanpa beban ego yang terlalu tinggi.

Pemimpin yang berani minta maaf adalah pemimpin yang punya kepercayaan diri tinggi. Hanya orang lemah yang takut mengakui kesalahan.

Koster sedang menunjukkan bahwa dia bukan robot birokrasi. Dia manusia yang bisa salah arah. Tapi dia juga manusia yang mau memperbaiki kompasnya.

Sekarang tinggal masyarakat Bali. Mau menerima maaf itu dengan tangan terbuka? Ataukah tetap akan memberikan kritik yang lebih “pedas” lagi?

Bagi saya, kritik pedas itu justru bagus. Itu tandanya rakyat masih sayang. Itu tandanya rakyat masih memperhatikan. Kalau rakyat sudah diam, itulah tanda bahaya yang sebenarnya bagi seorang gubernur.

Seorang kawan di Denpasar pernah bilang pada saya. Orang Bali itu sangat pemaaf. Asalkan pemimpinnya mau mendengar. Asalkan pemimpinnya mau turun ke bawah.

Koster sudah melakukan itu. Setidaknya lewat kata-kata.

Tahun depan, kita lihat lagi. Apakah penghargaan yang berderet itu makin banyak, ataukah keluhan di medsos yang makin berkurang?

Kalau penghargaan bertambah tapi keluhan juga bertambah, berarti ada yang salah dengan penghargaan itu.

Tapi kalau prestasi naik dan rakyat makin jarang mengeluh, itulah arti sebenarnya dari Nangun Sat Kerthi Loka Bali.

Minta maaf itu mudah diucapkan. Melaksanakannya yang perlu tenaga ekstra.

Kita tunggu saja. Apakah “fokus, tulus, lurus” itu benar-benar menjadi kompas, atau hanya sekadar rima dalam naskah pidato.

Bali terlalu indah untuk diurus dengan setengah hati. Koster sudah bilang dia akan ngayah total.

Mari kita pegang kata-katanya. Sambil terus menyiapkan sambal yang paling pedas untuk tahun depan. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."