Lokapalanews.id | Saya baru saja duduk. Menikmati kopi malam ini. Di sebuah kedai kecil. Di sudut kota yang tidak terlalu ramai. Tiba-tiba ada keributan. Kecil saja. Seorang pria berteriak. Ban mobilnya kempes. Dia tampak bingung. Gelisah sekali.
Lalu datanglah seorang anak muda. Sigap sekali. Ia membawa pompa. Ia membantu dengan cepat. Senyumnya lebar. Pemilik mobil berterima kasih. Berkali-kali. Memuji anak muda itu. “Kamu pahlawan saya hari ini,” katanya.
Anak muda itu mengangguk. Dadanya membusung. Ia merasa hebat. Semua orang di kedai melihatnya. Ia jadi pusat perhatian.
Saya hanya diam. Saya melihat tangan anak muda itu. Ada sisa oli. Ada benda tajam terselip di kantongnya. Pikiran saya melayang. Ke dunia yang lebih besar. Ke urusan birokrasi. Ke panggung politik kita.
Banyak sekali pahlawan belakangan ini. Muncul di saat krisis. Hadir saat rakyat menjerit. Padahal, krisis itu siapa yang bikin?
Dunia psikologi punya istilahnya. Hero Syndrome. Sindrom Pahlawan. Atau Savior Complex. Gaya mainnya sederhana. Tapi jahat sekali. Mereka menciptakan skenario. Mereka membuat masalah.
Bisa konflik di kantor. Bisa kekacauan di organisasi. Bisa juga kebijakan yang sengaja dibuat ruwet. Setelah situasi kacau, mereka muncul. Pakai jubah kebesaran. Seolah-olah mereka solusinya. Padahal mereka pelakunya.
Mereka itu pembuat kebakaran. Sekaligus yang memegang selang air. Mereka ingin tepuk tangan. Bukan solusi permanen.
Kenapa mereka lakukan itu? Jawabannya satu: validasi. Mereka lapar pujian. Mereka haus pengakuan.
Di Wikipedia, definisinya jelas. Tujuannya adalah rasa hormat. Ingin dianggap baik. Ingin disebut hebat.
Manipulatif? Jelas. Agenda mereka tersembunyi. Sangat rapi.
Mereka tidak tulus. Mereka pura-pura netral. Padahal mereka dalang di balik layar.
Ciri utamanya: menciptakan ketergantungan. Mereka ingin kita merasa tidak berdaya. Agar kita terus butuh mereka.
Dalam birokrasi kita, ini sering terjadi. Aturan dibuat sengaja rumit. Syarat dibuat bertele-tele. Rakyat jadi pusing. Pengusaha jadi bingung. Lalu muncullah sang “penolong”.
Si penolong ini bisa memotong jalur. Bisa mempercepat proses. Tentu ada harganya. Tapi yang dia kejar bukan cuma uang.
Dia mengejar ketergantungan. Dia ingin kita berkata: “Kalau tidak ada dia, urusan ini tidak akan beres.” Itu racun. Itu menghancurkan sistem. Itu membunuh inovasi.
Sistem yang baik tidak butuh pahlawan. Sistem yang baik butuh keteraturan. Butuh kepastian. Kalau sebuah sistem selalu butuh pahlawan untuk jalan, berarti sistem itu rusak. Atau sengaja dirusak.
Saya sering melihat ini di perusahaan besar. Ada manajer yang sengaja tidak membagikan informasi. Bawahan jadi salah langkah. Proyek jadi berantakan. Saat bos besar marah, si manajer tampil. Ia “menyelamatkan” proyek itu. Ia bekerja lembur. Ia terlihat paling berkorban.
Bos besar kagum. Ia dipuji. Padahal, dialah yang menahan informasi sejak awal. Itu mentalitas musang berbulu domba. Manipulator berkedok penolong.
Dalam bahasa kita, ini lebih dari sekadar menepuk air di dulang. Ini adalah membakar rumah orang, lalu membantu memadamkannya agar dapat hadiah.
Orang-orang seperti ini biasanya sangat pandai bicara. Lidahnya manis. Retorikanya memikat. Mereka tahu kapan harus muncul. Mereka tahu cara mengemas kekacauan menjadi peluang citra.
Dunia digital memperparah ini. Validasi bisa didapat instan. Lewat jempol dan komentar. Banyak konten media sosial yang setingan. Menciptakan masalah demi konten penyelamatan.
Anak-anak muda kita harus waspada. Jangan gampang kagum pada sosok pahlawan yang muncul tiba-tiba. Lihatlah rekam jejaknya. Lihatlah apakah masalah itu logis atau dibuat-buat.
Pahlawan sejati tidak butuh panggung. Pahlawan sejati memperbaiki sistem agar masalah tidak berulang. Pahlawan palsu justru ingin masalah ada terus. Agar panggungnya tetap menyala.
Saya lebih suka sistem yang membosankan. Tapi jalan. Tanpa drama. Tanpa perlu orang-orang yang merasa paling berjasa.
Kitalah yang harus cerdas. Jangan mau terus-menerus disuapi masalah. Agar tidak terus-menerus butuh penyelamat.
Negara ini butuh banyak pemikir. Bukan banyak aktor pahlawan. Seringkali, yang paling banyak membantu adalah yang paling banyak merusak di belakang.
Kita perlu belajar membedakan. Mana yang tulus membangun. Mana yang hanya ingin dianggap agung. Jangan-jangan, kita sendiri sering terjebak. Menjadi penonton yang bersorak untuk sang manipulator.
Kopi saya sudah dingin. Anak muda di kedai tadi sudah pergi. Ia pergi dengan rasa bangga yang semu. Saya hanya bisa menghela napas. Besok mungkin ada ban mobil lain yang bocor di sini. Dan dia akan ada di sana lagi. Menunggu tepuk tangan.
Dunia ini memang penuh panggung sandiwara. Tapi jangan sampai kita kehilangan akal sehat untuk membedakan mana drama, mana nyata.
Kapan kita bisa benar-benar mandiri? Tanpa perlu ketergantungan pada pahlawan-pahlawan yang sebenarnya adalah biang kerok.
Mungkin saat kita berani memperbaiki sistem sendiri. Tanpa menunggu bantuan yang sebenarnya adalah jebakan.
Itu refleksi saya pagi ini. Sederhana, tapi menohok ke dalam hati.
Apakah Anda pernah bertemu pahlawan macam ini? Atau jangan-jangan, tanpa sadar, kita sedang memeliharanya? Semoga kita tidak menjadi bagian dari skenario mereka. *yas






