Lokapalanews.id | Saya sering merenung. Mengapa di negeri ini, semakin tinggi jabatan seseorang, semakin tipis telinganya? Telinga itu seperti sudah disumpal kapas. Hanya bisa mendengar pujian. Alergi pada kritik. Padahal, katanya, kita ini bangsa besar yang lahir dari perdebatan hebat di meja BPUPKI.
Coba Anda perhatikan. Ada tren baru di kalangan petinggi institusi kita hari ini.
Bibir mereka sangat fasih mengeja Pancasila. Di setiap sambutan, kata “Semangat 45” atau JSN’45 tidak pernah absen. Terdengar begitu heroik. Begitu nasionalis.
Tapi, begitu ada bawahannya yang bicara jujur soal borok manajemen, semangat itu mendadak hilang. Yang muncul justru semangat kolonial: bungkam, sikat, dan pecah belah.
Ini sebuah ironi yang menjijikkan.
Mereka memakai jubah pahlawan pendidikan atau pahlawan birokrasi, tapi di balik jubah itu, mereka menggenggam cambuk penindas. Mereka bicara soal karakter bangsa, tapi tindakan mereka justru menghancurkan karakter manusia yang punya integritas.
Memecat seseorang hanya karena ia bersuara adalah bentuk ketakutan yang nyata. Itu bukan tanda ketegasan. Itu tanda kepanikan.
Mengapa panik? Karena kebenaran itu seperti cahaya. Begitu ia masuk lewat celah kecil, seluruh ruangan yang selama ini gelap karena praktik maladministrasi akan terlihat berantakan.
Maka, cara paling mudah bagi mereka adalah menutup celah itu. Caranya? Singkirkan orang yang membawa cahaya tersebut. Matikan karirnya. Putus urat nadi ekonominya.
Ini yang saya sebut sebagai pengkhianatan paling purba. Mengkhianati nilai yang mereka pidatokan sendiri setiap Senin pagi di lapangan upacara.
Banyak pejabat kita yang hafal butir-butir Pancasila, tapi gagal total memanusiakan manusia. Mereka menganggap institusi itu milik nenek moyangnya. Siapa yang vokal, harus angkat kaki. Tanpa kompensasi. Tanpa nurani.
Lebih kejam dari penjajah? Mungkin saja.
Sebab penjajah asing menindas karena memang ingin merampas. Tapi kalau bangsa sendiri menindas saudaranya sendiri demi menutupi borok jabatan, itu namanya apa?
Kebenaran pun dipelintir. Narasi dibangun seolah si pengkritik adalah pemberontak. Seolah si jujur adalah duri dalam daging. Padahal, dagingnya memang sudah busuk dari dalam.
Kita butuh lebih banyak orang yang berani kehilangan posisi demi menjaga harga diri. Dan kita butuh lebih sedikit pejabat yang hobi memakai atribut kebangsaan hanya untuk menutupi mentalitas pengecutnya.
Dunia akademik dan birokrasi kita tidak akan pernah maju kalau isinya hanya para penjilat yang pandai mengangguk. Jika semua orang dipaksa setuju, maka kita sebenarnya sedang membangun kuburan massal bagi akal sehat.
Jabatan itu ada masanya. SK itu hanya selembar kertas. Tapi jejak tangan yang pernah menindas orang jujur akan diingat sejarah sebagai noda yang tak bisa dihapus dengan sabun merek apa pun.
Jangan sampai kita bangga memegang tongkat kepemimpinan, padahal sebenarnya kita hanya sedang memegang cambuk untuk menyiksa kebenaran.
Kasihan JSN’45. Nilai luhur itu hanya jadi kosmetik untuk menutupi wajah yang sebenarnya rakus kekuasaan.
Bukankah begitu? *yas






