Lokapalanews.id | Di sudut sebuah kamar di Banjar Badung, Desa Gulingan, waktu seolah berjalan lebih lambat. Aroma minyak kayu putih samar-samar beradu dengan udara sore yang lembap, menciptakan kesunyian yang hanya dipecah oleh helaan napas pendek seorang bocah perempuan. Di atas tempat tidur yang sederhana, Kadek Devita Maharani terbaring. Di usianya yang seharusnya sedang lincah mengejar bayang-bayang atau bermain boneka bersama kawan sebaya, ia justru harus menjalin akrab dengan rasa sakit yang tak kunjung reda. Sebuah benjolan yang tak diundang – tumor ganas – kini menjadi beban berat yang merenggut keceriaannya.
Sabtu, 21 Februari 2026, kesunyian di rumah Kadek pecah oleh ketukan pintu yang lembut. Bukan sekadar kunjungan protokoler, melainkan sebuah simfoni empati yang dibawa oleh Ketua Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial (K3S) Kabupaten Badung, Nyonya Rasniathi Adi Arnawa. Langkah kakinya yang tenang memasuki ruangan itu membawa sebuah pesan bahwa di tengah badai yang menderu, Kadek tidak dibiarkan berlayar sendirian.
Mata Nyonya Rasniathi terpaku pada sosok mungil di hadapannya. Ada binar yang layu, namun masih menyimpan setitik harapan di mata Kadek. Di sana, di antara dinding-dinding rumah yang menjadi saksi bisu perjuangan keluarga melawan biaya medis yang mencekik, hadir sebuah kehadiran yang ingin merangkul luka. Sang Ketua K3S tidak datang dengan tangan hampa; ia membawa lebih dari sekadar bantuan materi. Ia membawa kehadiran seorang ibu yang memahami bahwa bagi anak yang sedang sakit, pengakuan atas keberadaan mereka jauh lebih berharga dari sekadar angka-angka di atas kertas.
Kunjungan ini adalah bagian dari denyut nadi program pembinaan dan pemberdayaan masyarakat rentan yang menjadi komitmen utama K3S Badung. Namun, di Banjar Badung sore itu, program tersebut bukan lagi sekadar narasi birokrasi. Ia menjelma menjadi pelukan hangat, diskusi bisik-bisik tentang masa depan, dan janji untuk terus mengawal setiap langkah pengobatan Kadek. Melalui kolaborasi dengan berbagai yayasan mitra di bidang kesehatan, K3S berupaya membangun jembatan bagi keluarga Kadek untuk menyeberangi jurang kesulitan ekonomi yang kian dalam akibat perawatan intensif yang harus dijalani.
Nyonya Rasniathi duduk di sisi tempat tidur, mendengarkan setiap keluh kesah yang mengalir dari bibir orang tua Kadek. Ada getaran dalam suara mereka saat menceritakan bagaimana hari-hari kini hanya berisi rutinitas rumah sakit dan doa-doa yang dipanjatkan di setiap sujud. Mendengar itu, bantuan berupa bahan pokok dan dukungan finansial diserahkan sebagai penyambung napas bagi kebutuhan harian dan biaya medis lanjutan. Namun, yang paling menggetarkan adalah janji mengenai pengadaan tangan palsu.
“Kita berkomitmen untuk terus mengawal kesejahteraan masyarakat yang rentan, terutama anak-anak yang sedang menghadapi tantangan kesehatan berat,” tutur Nyonya Rasniathi dengan nada yang dalam namun tegas. Ia menegaskan bahwa koordinasi dengan dinas terkait sedang diupayakan agar Kadek bisa kembali memiliki fungsi tubuh yang sempat terampas oleh penyakitnya. Baginya, kolaborasi adalah kunci; sebuah orkestra kebaikan yang melibatkan banyak tangan agar bantuan yang sampai menjadi utuh dan menyembuhkan.
Di balik pintu kamar, hadir pula sosok-sosok yang menjadi saksi bisu perjuangan ini. Anggota DPRD Badung I Made Rai Wirata, Camat Mengwi, pengurus TP. PKK, hingga perwakilan PMI Cabang Badung dan Gerakan Badung Peduli, semuanya berdiri dalam barisan yang sama. Kehadiran mereka seolah menegaskan bahwa jaring pengaman sosial di Kabupaten Badung sedang ditenun dengan benang-benang kepedulian yang kuat. Mereka bukan sekadar saksi, melainkan bagian dari sistem penyangga yang memastikan bahwa tidak ada satu pun warga, terutama lansia dan anak-anak dari keluarga kurang mampu, yang jatuh terperosok tanpa bantuan.
Saat matahari mulai tergelincir di ufuk barat Desa Gulingan, rombongan mulai berpamitan. Nyonya Rasniathi sempat mengusap dahi Kadek untuk terakhir kalinya sore itu, sebuah gestur kecil yang membawa ribuan makna tentang ketabahan. Program pembinaan masyarakat rentan ini dijanjikan akan terus bergulir, menyisir lorong-lorong desa lainnya di Badung, mencari mereka yang tersembunyi dalam sakit dan kemiskinan.
Namun, bagi Kadek Devita Maharani, kunjungan hari itu adalah sebuah interupsi manis di tengah kesakitan yang monoton. Kehadiran para pejabat dan relawan ini bukan hanya tentang bantuan fisik yang akan habis dimakan waktu, melainkan tentang martabat yang dikembalikan. Bahwa di tengah derita tumor yang menggerogoti, ia tetaplah seorang anak yang dicintai oleh lingkungannya, diperhatikan oleh pemerintahnya, dan didoakan oleh banyak jiwa.
Ketika suara mobil rombongan mulai menjauh, rumah itu kembali sunyi. Namun, kali ini sunyinya berbeda. Ada sedikit rasa hangat yang tertinggal di atas bantal Kadek, ada janji tentang tangan palsu yang akan membantunya meraih mimpi kembali, dan ada keyakinan bahwa esok hari, meskipun rasa sakit itu mungkin masih ada, ia tidak akan lagi menanggungnya sendirian dalam gelap. Di sudut kamar yang sederhana itu, harapan kini memiliki wajah, dan bantuan bukan lagi sekadar kata-kata dalam pidato, melainkan sentuhan nyata yang meredakan duka.
Langit Gulingan menggelap, namun di dalam hati Kadek, mungkin ada lilin kecil yang baru saja dinyalakan. Sebuah lilin yang menolak padam sebelum badai benar-benar berlalu. *yas






