Lokapalanews.id | Saya baru saja membaca kabar dari Tangerang. Tepatnya dari Pasar Kemis. Daerah yang biasanya panas, berdebu, dan penuh sesak oleh ribuan buruh pabrik.
Tapi kali ini ada yang sejuk. Bukan karena AC ruangan. Tapi karena berita dari PT Victor Chinglu Indonesia.
Di sana ada acara besar. HUT ke-53 KSPSI. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo datang. Beliau bukan sekadar tamu. Beliau Ketua Dewan Penasihat di sana.
Kapolri bicara sesuatu yang langka. Beliau memuji bos pabrik itu. Jarang-jarang polisi puji pengusaha di depan buruh. Biasanya kan isunya demo atau sengketa.
Apa yang dipuji? Pesangon.
Ternyata, perusahaan itu kasih uang pensiun luar biasa. Bukan sekadar ikut aturan. Bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Tapi dua kali lipat dari ketentuan pemerintah.
Bayangkan. Di zaman serba sulit begini. Di saat banyak perusahaan cari celah potong hak buruh. Eh, ini malah kasih bonus dua kali lipat.
Saya langsung termenung. Ini bukan sekadar soal angka. Ini soal memanusiakan manusia.
Ketentuan pemerintah itu batas minimal. Ibarat standar kelulusan, itu nilai enam. Tapi PT Chinglu mau kasih nilai sepuluh. Mereka tahu, buruh yang sudah puluhan tahun memeras keringat berhak istirahat dengan tenang.
Kapolri sampai angkat topi. Beliau ingin ini jadi teladan. Saya pun setuju.
Selama ini, hubungan buruh dan pengusaha sering dianggap seperti tikus dan kucing. Selalu curiga. Pengusaha takut didemo, buruh takut di-PHK tanpa sisa.
Tapi kalau pengusahanya seperti ini, siapa yang mau ribut? Buruh pasti akan jaga pabriknya seperti jaga rumah sendiri. Produktivitas pasti naik. Loyalitas jangan ditanya.
Kapolri juga menyinggung soal hilirisasi. Soal investasi. Bahasa-bahasa tinggi dari Jakarta. Tapi intinya satu: lapangan kerja.
Investasi itu penting. Sangat penting. Tanpa investasi, tidak ada pabrik baru. Tanpa pabrik baru, anak-anak muda kita mau kerja di mana?
Tapi investasi juga harus sehat. Jangan cuma mengejar angka pertumbuhan, tapi lupa pertumbuhan kesejahteraan orangnya.
Percuma investasi triliunan kalau buruhnya makan sehari sekali. Percuma pabrik megah kalau pensiunnya luntang-lantung.
Polri janji akan dukung perjuangan buruh. Ini sinyal bagus. Polisi jangan cuma jadi penjaga gerbang pabrik saat demo. Tapi jadi penengah yang adil.
Saya membayangkan, kalau semua perusahaan di Tangerang punya hati seperti PT Chinglu, demo buruh akan sepi. Pasar Kemis akan jadi daerah paling damai di Indonesia.
Ekonomi itu punya efek domino. Kalau buruh punya uang pesangon banyak, mereka bisa buka warung. Bisa beli motor. Bisa renovasi rumah di kampung. Ekonomi desa berputar. Itu yang disebut multiplier effect.
Kita sering terjebak dalam perdebatan regulasi. Aturan ini kurang, aturan itu merugikan. Tapi di atas aturan itu ada yang namanya nurani.
Bos PT Chinglu sudah membuktikannya. Aturan pemerintah hanya kertas. Kemanusiaan adalah tindakan nyata.
Semoga makin banyak “Chinglu-Chinglu” lain di negeri ini. Pengusaha yang tidak hanya kaya harta, tapi kaya empati.
Kalau buruh sejahtera, pengusaha tenang, polisi pun senang. Indonesia? Jelas menang.
Kita butuh iklim usaha yang sehat. Tapi kita lebih butuh manusia-manusia yang sehat jiwanya. Yang tidak tega melihat orang yang membantunya kaya, justru sengsara di hari tua.
Selamat ulang tahun KSPSI. Teruslah berjuang. Tapi ingat, perjuangan paling indah adalah saat kedua belah pihak duduk melingkar dan saling menghargai.
Seperti di Tangerang hari itu. *yas






