Lokapalanews.id | Di sebuah ruang temaram, John duduk terpekur menatap layar komputer yang berkedip, memantulkan keletihan yang amat dalam di wajahnya. Sebagai seseorang yang telah lama mendedikasikan hidupnya untuk merawat integritas pendidikan, ia kini merasa seperti sedang menggali kuburan bagi ketenangannya sendiri demi membongkar busuknya sebuah sistem.
John bukan sedang mencari celah untuk membela diri; ia sedang melepaskan anak panah kebenaran ke arah jantung sebuah institusi yang mulai kehilangan arah moralnya. Di tangannya, tersusun lembaran fakta tentang bagaimana bantuan negara bagi mahasiswa miskin justru diolah menjadi “upeti” untuk menambal lubang manajemen yang bocor.
Kisah ini adalah potret getir tentang sebuah kampus yang limbung dihantam pandemi. Ketika kas lembaga mengering, kebijakan ekstrem diambil: gaji dosen dan pegawai dipangkas hingga ke titik yang tak lagi manusiawi demi menyelamatkan institusi dari kebangkrutan. Di tengah himpitan itu, John menginisiasi sebuah gerakan solidaritas – bantuan sukarela dari para mahasiswa yang sudah mandiri secara ekonomi atau telah bekerja.
Penting untuk dicatat bahwa inisiatif ini bukanlah langkah liar. John bergerak atas persetujuan lisan dari pimpinan waktu itu. Secara administratif, mustahil kebijakan ini berjalan tanpa restu pimpinan, mengingat dokumen seperti Surat Tanggung Jawab Mutlak (STJM) pun ditandatangani oleh pucuk pimpinan. Seluruh dana yang terhimpun tercatat secara resmi pada Bagian Keuangan institusi dan didistribusikan langsung untuk menopang kesejahteraan pegawai yang haknya terpangkas.
Para mahasiswa ini secara tulus menyatakan pemahaman serta dukungan kolektif mereka tanpa adanya paksaan sedikit pun. Namun, sifat sukarela ini sangat nyata; catatan keuangan menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa justru tidak membayar sumbangan tersebut. Kebijakan ini murni berbasis kerelaan, yang kemudian dihentikan sepenuhnya setelah adanya saran dari pihak yayasan demi menghindari risiko hukum di masa depan.
Perjamuan di Atas Piring Mahasiswa
Keadilan terasa seperti barang mewah ketika aturan mulai ditekuk oleh kepentingan pribadi. John menemukan bahwa narasi “sumbangan” kini sengaja dibenturkan dengan anomali yang jauh lebih fatal: praktik mahasiswa fiktif. Terdapat kasus di mana seorang mahasiswa tetap tercatat menerima kucuran dana APBN di Kampus X, padahal secara faktual ia aktif berkuliah dan lulus di perguruan tinggi di luar pulau.
John telah mencoba bersuara dan mengajukan pencabutan hak atas mahasiswa fiktif tersebut demi kepatuhan regulasi, namun usulannya ditolak secara subjektif oleh pimpinan dengan dalih pembiaran selama tidak ada yang mempersoalkan. “Ini adalah bentuk nyata penyalahgunaan anggaran negara,” tegasnya, menyadari bahwa fokus utama persoalan sebenarnya adalah soal integritas data penerima beasiswa, bukan soal sumbangan sukarela yang telah disepakati sebelumnya.
Kekejaman administratif ini meluas pada eksploitasi finansial yang sistemik, seperti perampasan hak hidup: Mahasiswa dipaksa “menabung” melalui pemotongan uang saku untuk mendanai biaya bimbingan hingga wisuda serta adanya pungutan admisi, di mana mahasiswa baru tetap dibebankan biaya pendaftaran yang seharusnya dibebaskan sepenuhnya oleh negara. Lebih tragis lagi, adanya pungutan biaya Pengabdian kepada Masyarakat sebesar Rp 130.000 yang diarahkan ke rekening pribadi oknum dosen tanpa laporan pertanggungjawaban yang jelas.
Intimidasi di Balik Meja Interogasi
Kini, John berdiri di tengah badai intimidasi yang tidak etis. Ia menerima informasi bahwa sejumlah dosen mulai memobilisasi mahasiswa. Para mahasiswa ini dikumpulkan dan diinterogasi, ditekan untuk memberikan “bukti-bukti” guna menyudutkan posisi John terkait kebijakan sumbangan sukarela masa lalu. Upaya ini disinyalir sebagai pengalihan isu untuk menjadikan John sebagai kambing hitam guna menutupi borok manajemen yang lebih besar.
Namun, bagi John, loyalitasnya bukan lagi untuk pimpinan yang abai, melainkan untuk tegaknya aturan. Ia memiliki seluruh bukti administrasi dan siap menyerahkannya demi transparansi. Pendidikan adalah cahaya, dan John memilih untuk tidak membiarkan cahaya itu padam oleh tangan-tangan yang lebih mencintai angka di rekening pribadi daripada masa depan anak didik. *R101






