Lokapalanews.id | Kemarin saya duduk di warung kopi. Di meja sebelah, ada anak muda sibuk sekali. Matanya melotot ke layar HP. Jempolnya lincah. Crak! Dia melakukan screenshot. Lalu jarinya menari lagi. Mengirim gambar itu ke grup lain. Bibirnya tersenyum tipis. Senyum kemenangan.
Saya hanya membatin. Kasihan sekali hidupnya. Energi sebesar itu hanya dipakai untuk memata-matai hidup orang. Lalu melaporkannya demi mendapat perhatian. Atau mungkin demi menjilat atasan.
Itulah potret kita sekarang. Dunia sudah berubah jadi panggung sandiwara yang pengap.
Anda punya status WhatsApp. Itu ruang pribadi Anda. Ibaratnya, itu teras rumah Anda. Anda ingin mengeluh soal cuaca, silakan. Ingin menyindir keadaan yang berantakan, itu hak Anda. Tapi celakanya, ada orang yang hobi mengintip dari lubang kunci. Lalu lari ke rumah tetangga untuk pamer hasil intipannya.
Sekarang saya sedang dipersoalkan. Gara-gara status. Yang marah bukan yang punya HP. Yang marah justru orang lain yang menerima laporan. Aneh? Tidak. Ini sudah jamak.
Ini namanya politik “katanya.”
Logikanya begini. Anda menulis sesuatu yang umum. Mungkin tentang sistem yang bobrok. Atau manajemen yang tanpa briefing tapi menuntut hasil selangit. Lalu si “tukang lapor” ini merasa punya amunisi. Dia kirim tangkapan layar itu ke orang yang dia tuju. Sambil dibumbui: “Lihat ini, dia menyindir Anda.”
Si penerima laporan langsung meledak. Dia marah bukan karena membaca langsung. Dia marah karena egonya disulut oleh kompor pihak ketiga. Dia tidak sadar sedang dijadikan alat oleh si pelapor untuk memukul Anda.
Inilah kegagalan komunikasi yang paling primitif.
Di dunia profesional, ada yang namanya briefing. Ada koordinasi. Ada dukungan sistem. Kalau sistemnya jalan, tidak akan ada waktu untuk urusan status WA. Tapi kalau manajemennya payah, ya begini. Kerjaan utama terbengkalai, tapi urusan “sindir-menyindir” di media sosial jadi prioritas rapat.
Lucu. Tapi nyata.
Harusnya, kalau ada yang merasa tersinggung, tanya langsung. Datangi. Duduk bareng. Tanya: “Maksud status Anda apa?” Selesai. Itu kalau mentalnya dewasa. Tapi kalau mentalnya kerupuk, dia lebih suka memelihara drama.
Lalu, apakah si tukang screenshot ini bisa dipolisikan?
Banyak yang tanya begitu ke saya. Secara hukum, ada UU ITE. Ada pasal soal transmisi data pribadi tanpa izin. Tapi apakah kita mau sehina itu? Meladeni orang kerdil dengan cara yang melelahkan?
Bagi saya, tukang lapor itu orang yang tidak punya prestasi. Karena tidak punya karya yang bisa dipamerkan, dia menjual informasi. Dia menjual “kesalahan” orang lain agar terlihat setia di mata bos. Padahal, penjilat tetaplah penjilat. Begitu Anda tidak berguna, dia akan melakukan hal yang sama kepada Anda.
Kita harus jujur. Masalah utamanya bukan pada status WA itu. Masalahnya adalah manajemen yang membiarkan budaya “adu domba” ini tumbuh subur. Pemimpin yang cerdas tidak akan memakan mentah-mentah laporan screenshot. Pemimpin yang waras akan memanggil kedua pihak. Briefing. Kasih arahan. Bukan malah ikut terbakar emosi.
Sistem yang rusak selalu melahirkan orang-orang yang sibuk mencari kambing hitam. Karena mereka tidak punya solusi, mereka mencari kesalahan posisi. Mereka tidak memberikan dukungan, tapi menuntut kesempurnaan. Dan ketika kita protes, mereka berlindung di balik etika media sosial.
Prett.
Etika itu dimulai dari kejujuran. Bukan dari sembunyi-sembunyi mengambil gambar lalu dikirim ke sana-kemari. Itu bukan etika. Itu pengecut.
Anda mungkin sekarang sedang merasa terpojok. Jangan. Tetap tegak. Kalau Anda merasa benar, tidak perlu minta maaf atas interpretasi orang lain yang dipaksakan. Interpretasi itu liar. Orang yang hatinya bersih akan melihat status Anda sebagai bahan refleksi. Orang yang hatinya penuh dengki akan melihatnya sebagai serangan.
Jadi, siapa yang salah? Statusnya atau hati pembacanya?
Tentu hati pembacanya. Dan terutama, tangan si pengirim laporan itu.
Ke depan, kita harus lebih cerdik. Filter privasi itu dibuat bukan tanpa alasan. Gunakan. Tutup pintu teras Anda dari orang-orang yang hobi mengintip. Jangan beri mereka panggung. Biarkan mereka sibuk dengan hidup mereka yang sepi.
Hidup ini sudah berat. Jangan ditambah dengan mengurusi perasaan orang yang tersinggung karena laporan orang lain. Itu melelahkan. Dan tidak menghasilkan uang.
Refleksi saya sederhana: Jika Anda ingin menilai seseorang, lihatlah karyanya. Bukan status WhatsApp-nya. Dan jika Anda memimpin sebuah organisasi, jangan jadi “pemulung” laporan sampah. Fokuslah pada sistem. Fokus pada dukungan tim.
Sebab, manajemen yang baik tidak dibangun di atas tumpukan screenshot drama. Ia dibangun di atas kepercayaan dan komunikasi yang terbuka. Bukan lewat jalur belakang yang penuh duri.
Kalau sistem sudah benar, briefing sudah jelas, dan dukungan sudah ada, barulah kita bicara soal loyalitas. Tanpa itu, semua hanya omong kosong. *yas






