--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Pecundang Mainnya Fitnah

Ilustrasi jari telunjuk yang menunjuk secara agresif, menggambarkan perilaku menuduh dan menyalahkan orang lain demi menutupi kegagalan pribadi.

Lokapalanews.id | Kawan lama telepon saya. Kemarin sore. Suaranya payah. Seperti ban kempes. Bukan karena kurang makan. Tapi karena hatinya lagi “sakit”.

“Saya difitnah, Mas,” katanya pelan sekali.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Dia habis mengkritik bosnya. Katanya, kritik itu demi kebaikan kantor. Pakai data. Pakai solusi. Tapi apa balasannya? Sang bos meledak. Bukan membalas pakai data, tapi malah menyerang pribadi.

Si kawan dituduh punya niat busuk. Aib lamanya diungkit. Bahkan masalah keluarganya ikut “digoreng”. Gila, kan?

Saya terdiam. Kisah seperti ini banyak sekali. Tidak hanya di kantor kecil. Di panggung politik nasional pun sama saja. Polanya persis.


Kalau Anda dikritik dan kritik itu benar, harusnya Anda bersyukur. Berarti ada yang peduli. Ada yang mau memperbaiki sistem Anda.

Tapi bagi orang yang jiwanya kerdil, kritik itu seperti racun. Mereka merasa diserang. Harga diri mereka yang setinggi langit itu merasa tergores.

Lalu, apa senjata mereka? Fitnah.

Kenapa fitnah? Karena fitnah itu murah. Gampang. Cukup bisik-bisik. Cukup lempar isu lewat WhatsApp. Cukup mainkan persepsi. Selesai.

Targetnya jelas: Fokus masalah harus digeser.

Yang tadinya soal kebijakan yang ngawur, tiba-tiba jadi soal moral si pengkritik. Yang tadinya soal kinerja yang jeblok, tiba-tiba jadi soal utang pribadi si pengkritik.

Ini taktik kuno. Taktik para pecundang.

Mereka yang main fitnah itu sebenarnya orang lemah. Penakut. Mereka tidak punya argumen untuk membela diri. Mereka tidak punya otak untuk mencari solusi.

Maka cara paling cepat ya hancurkan saja orangnya. Dalam ilmu kerennya disebut ad hominem. Tapi di dunia nyata, itu namanya pengecut.

Seorang pemimpin yang hebat itu kupingnya harus lebar. Hatinya harus seluas samudera. Sekalipun kritiknya pedas, dia akan telan. Dia cerna. Mana yang benar, diambil. Mana yang salah, dijelaskan.

Tapi kalau pemimpin yang “sakit” atau narsis, beda cerita. Mereka merasa paling pintar. Paling suci. Paling tak bisa salah.

Baca juga:  Pajak: Antara Galak, Adil, dan Dompet yang Terkunci

Saat posisinya terpojok, mekanisme pertahanannya aktif. Modusnya satu: Serang balik secara brutal.

Fitnah itu seperti peluru kendali. Tujuannya supaya Anda diam. Supaya orang lain takut. Supaya semua orang jadi yes-man.

Mereka ingin mengontrol narasi. Mereka ingin publik melihat Anda sebagai penjahat. Padahal sebenarnya, merekalah yang sedang menutupi kegagalan sendiri.


Anda dan saya harus waspada. Sekarang ini era banjir informasi. Kebohongan menyebar lebih cepat daripada cahaya. Fitnah lebih laku daripada fakta.

Kalau Anda melihat ada orang yang tiba-tiba diserang pribadinya secara masif, berhentilah sejenak. Jangan ikut-ikutan menghujat. Teliti dulu.

Coba cek: Apakah si pemfitnah itu sedang panik? Apakah dia sedang menutupi sesuatu yang besar?

Biasanya, iya.

Fitnah itu seperti asap. Kalau ada asap, pasti ada api. Dan seringkali, api itu adalah kegagalan manajemen atau sistem yang hancur-hancuran yang sedang mereka sembunyikan rapat-rapat. Mereka butuh kambing hitam untuk disembelih.

Kawan saya tadi akhirnya memilih menarik diri. Dia diam. Bukan karena dia kalah. Dia cuma lelah. Lelah meladeni orang yang logikanya sudah mati.

Mungkin itu jalan terbaik. Kita tidak bisa memaksa orang gila untuk jadi waras. Kita tidak bisa memaksa pembohong untuk jadi jujur.

Tapi kita punya kendali atas diri kita sendiri.

Jangan biarkan fitnah mematikan nyali kita. Jangan biarkan para pecundang itu menang karena kita memilih bungkam.

Kalau Anda benar, tetaplah tegak. Integritas itu memang jalannya lambat. Kadang menyakitkan. Tapi dia akan sampai ke garis finis dengan selamat. Sedangkan fitnah? Dia akan habis dimakan waktu.

Tetaplah berani. Karena dunia ini sudah terlalu penuh dengan orang-orang yang hanya bisa membebek.

Dunia butuh orang-orang yang berani berkata: “Itu salah,” meski risikonya difitnah habis-habisan.

Pada akhirnya, sejarah akan mencatat siapa yang bekerja dengan hati, dan siapa yang hanya jago memaki. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."