Lokapalanews.id | Jakarta – Anggota Komisi XI DPR RI, Marwan Cik Asan, menyatakan kritiknya terhadap paparan calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Solikin M. Juhro, dalam uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) yang berlangsung di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Jumat (23/1/2026). Marwan menilai strategi yang disampaikan masih bersifat normatif dan belum menawarkan solusi konkret untuk keluar dari stagnasi ekonomi.
Politisi dari Fraksi Partai Demokrat tersebut menyoroti kondisi ekonomi nasional yang terjebak dalam pertumbuhan di level 5 persen selama 12 tahun terakhir. Ia menekankan bahwa tanpa adanya kebijakan moneter yang inovatif dan berani, target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto akan sulit untuk direalisasikan.
“Faktanya, 12 tahun ini ekonomi kita begini-gini saja Pak, kisarannya 5 persen. Nah, yang kita harapkan ke depan ini apa yang bisa kita buat supaya maunya Pak Prabowo tumbuh 8 persen atau setidaknya 6 persen itu tercapai? Di mana instrumen moneter ini akan bekerja?” ujar Marwan dalam persidangan tersebut.
Marwan memandang bahwa instrumen moneter yang dijalankan saat ini, termasuk kebijakan penurunan suku bunga acuan, belum memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan sektor riil. Ia menilai diperlukan “senjata pamungkas” atau ide yang lebih segar dari calon pimpinan Bank Indonesia untuk memberikan stimulus nyata bagi perekonomian nasional.
Lebih lanjut, ia mengkhawatirkan jika Bank Indonesia hanya mengandalkan pola kebijakan lama, maka dalam beberapa tahun ke depan Indonesia akan tetap berada dalam jebakan pertumbuhan ekonomi yang rendah. Marwan menantang Solikin untuk memaparkan pemikiran yang lebih fundamental guna menjawab tantangan ekonomi masa depan.
“Kalau tidak ada terobosan atau pemikiran yang genuine, saya yakin tiga tahun lagi begini saja Pak. Jadi mungkin ada yang masih Bapak simpan sebagai senjata pamungkas, perlu Bapak paparkan di sini, supaya jelas arah pertumbuhan ekonomi ke depan,” pungkas Marwan.
Uji kelayakan ini merupakan bagian dari proses pengisian jabatan strategis di Bank Indonesia, di mana peran bank sentral diharapkan tidak hanya menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara lebih progresif. Komisi XI DPR RI menegaskan akan terus mengawal agar figur yang terpilih memiliki visi yang sejalan dengan target pembangunan jangka panjang pemerintah. *R102






