--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Mencari Penyakit di Ijazah yang Sehat

Lokapalanews.id | Begini rasanya kalau “ijazah” dicari-cari kesalahannya. Padahal, dulu saat saya diterima, ijazah itu dipuji setinggi langit.

Pernahkah Anda membeli sebuah mobil? Saat baru dibeli, Anda bangga. Anda pamerkan ke tetangga. Tapi begitu mobil itu sering Anda pakai untuk protes – misalnya protes karena remnya blong atau kursinya keras – tiba-tiba Anda bilang: “Ah, ini mobil salah rakitan. Tidak sesuai spesifikasi.”

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Aneh, bukan? Itulah yang saya alami sekarang.

Saya ini lulusan S-2 Ilmu Komunikasi Hindu. Ada kata “Hindu”-nya. Karena apa? Karena saya kuliah di UHN Sugriwa. Dulu namanya IHDN. Kampus itu di bawah Kementerian Agama. Jadi, wajar kalau ada embel-embel agamanya.

Tapi coba lihat isinya. Bedah itu transkrip nilai saya. Isinya murni Ilmu Komunikasi. Ada Teori Komunikasi. Ada Sosiologi Komunikasi. Ada Metode Penelitian. Semua nilainya bagus. A dan B. Tesis saya saja soal Facebook. Itu media sosial. Kurang komunikasi apa lagi?

Tiba-tiba, pihak yayasan X bilang saya “tidak linier”. Bidang ilmu tidak sesuai, katanya. Ini lucu. Ini penghinaan terhadap nalar.

Kenapa saya bilang begitu?

Pertama, yayasan X itu yang mengangkat saya tahun 2023. Mereka tahu latar belakang saya. Mereka sadar siapa yang mereka rekrut. Kenapa dulu oke, sekarang tidak? Jawabannya sederhana: karena sekarang saya bersikap kritis. Isu ketidaklinieran ini sengaja “diciptakan”. Ini alasan yang dibuat-buat. Fabricated reason. Hanya untuk melegitimasi cara mereka menyingkirkan saya.

Kedua, saya ini pernah punya NIDK di salah satu perguruan tinggi bergengsi. Di prodi apa? Ilmu Komunikasi. LLDIKTI mengakui saya. Sistem negara mengakui saya linier. Lalu, tiba-tiba di sini saya dianggap tidak cocok? Ini namanya distorsi informasi. Dangkal sekali.

Baca juga:  Sekolah Tanpa Contoh

Ketiga, kalau memang saya tidak linier, kenapa pimpinan menaruh saya jadi Kepala SPMI? Kenapa saya dijadikan Dosen Tetap? Kalau mereka benar saya tidak kompeten, berarti pimpinan sendiri yang melakukan malpraktik manajerial. Mereka yang salah urus, tapi saya yang disuruh tanggung jawab.

Ini yang saya sebut victim blaming. Menyalahkan korban.

Kalau performa saya dianggap kurang, itu bukan karena otak saya yang kurang. Tapi karena manajemennya rusak. Tidak ada dukungan. Tidak ada briefing. Tidak ada arahan. Saya dilepas begitu saja tanpa senjata, lalu diteriaki saat tidak bisa menembak.

Kita harus jujur pada diri sendiri. Manajemen yang sehat itu mendukung, bukan mencari-cari lubang di ijazah orang saat terjadi konflik. Jangan gunakan label administratif untuk membunuh karakter seseorang. Itu cara lama yang sudah tidak luntur dipakai di zaman modern ini.

Saya bicara begini bukan karena marah. Saya bicara karena ingin kita semua sadar. Kualitas seseorang itu dilihat dari karyanya, dari kinerjanya, bukan dari satu kata tambahan di belakang nama jurusannya.

Hidup ini kadang begitu. Saat kita tidak lagi “menyenangkan” bagi atasan, ijazah kita yang sudah berdebu pun akan diperiksa pakai mikroskop. Hanya untuk mencari satu alasan: bagaimana cara membuang orang ini.

Mari kita belajar profesional. Kalau tidak suka dengan sikap kritis saya, hadapi sikapnya. Jangan serang ijazahnya. Itu tidak elegan. Sama sekali tidak hebat. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."