Lokapalanews.id | Di bawah langit Aceh yang masih menyisakan mendung, jari-jemari Aminah (bukan nama sebenarnya) gemetar saat menyentuh sisa dinding rumahnya yang baru saja diterjang banjir dan longsor di Desa Seunebok Saboh. Namun, matanya tidak basah oleh air mata. Ada kilat tekad di sana, sebuah api kecil yang menolak padam demi tiga buah hatinya yang kini bernaung di tenda pengungsian. Aminah adalah satu dari ribuan potret ketangguhan perempuan Aceh yang harus berdiri tegak saat bumi yang mereka pijak baru saja berguncang.
Luka pascabencana seringkali tidak hanya berupa bangunan yang runtuh, tapi juga tentang bagaimana seorang ibu memastikan piring anaknya tetap terisi dan privasi mereka tetap terjaga di tengah keterbatasan hunian sementara.
Menanam Harapan dalam Wadah Kecil
Kesadaran akan beban berat di pundak para ibu inilah yang membawa Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Veronica Tan, hadir langsung di tengah masyarakat Aceh pada pertengahan Januari 2026. Baginya, pemulihan bukan sekadar soal angka logistik yang turun dari truk bantuan, melainkan tentang menghidupkan kembali “nadi” di dalam rumah tangga.
Di tengah percakapan hangat dengan warga terdampak, Veronica memperkenalkan konsep yang sederhana namun bermakna besar: microgreen. Dalam wadah-wadah kecil, benih sayuran hijau yang cepat panen ini menjadi simbol harapan baru untuk pemenuhan gizi keluarga di masa transisi.
“Di sini saya melihat ibu-ibu yang tangguh menghadapi bencana dan longsor. Jika ibu-ibunya tangguh, maka anak-anak pun akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh,” ujar Veronica Tan dengan nada penuh penguatan saat berdialog dengan para pemangku kepentingan di Banda Aceh.
Dapur Komunitas dan Ruang Aman
Perjalanan Veronica tidak berhenti di ruang rapat. Ia menembus jalanan Aceh Timur untuk memastikan bahwa “tiga pilar” perlindungan benar-benar berdiri di lapangan. Fokusnya jelas: dapur komunitas berbasis kearifan lokal yang dikelola oleh Serikat Inong Aceh, penyediaan air bersih melalui sumur bor, hingga ruang aman bagi perempuan dan anak.
Di lokasi pengungsian, privasi seringkali menjadi barang mewah yang terlupakan. Oleh karena itu, penataan hunian sementara yang memperhatikan kebutuhan spesifik perempuan dan anak menjadi prioritas. Bantuan tidak boleh sekadar diberikan, tapi harus “berperspektif korban” – memahami bahwa kebutuhan seorang ibu hamil atau penyandang disabilitas sangat berbeda dengan pengungsi lainnya.
Sentuhan kemanusiaan terasa semakin kental saat bantuan perlengkapan sekolah dibagikan. Lebih dari 1.500 item, mulai dari tas hingga alat tulis, diserahkan kepada anak-anak yang sempat kehilangan semangat belajar karena sekolah mereka terendam lumpur. Bagi mereka, sebuah buku tulis baru adalah jembatan untuk kembali bermimpi tentang masa depan setelah hari-hari yang mencekam.
Sinergi untuk Nafas Panjang
Langkah penguatan ini merupakan kolaborasi raksasa lintas sektor. Dari kementerian pusat seperti Bappenas hingga tokoh lingkungan seperti Farwiza Farhan, semua bahu-membahu memastikan Aceh tidak sendirian. Kehadiran berbagai yayasan seperti Tzu Chi, Eka Tjipta Foundation, dan Artha Graha Peduli membuktikan bahwa kemanusiaan adalah bahasa universal yang paling efektif dalam pemulihan.
Di akhir kunjungannya, Veronica menemui Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian untuk melaporkan denyut nadi di lapangan. Ia menitipkan pesan penting: setiap posko bencana harus memiliki ruang aman. Jangan sampai bencana alam menyisakan kerentanan baru berupa kekerasan atau ketimpangan bagi mereka yang paling lemah.
Kini, di Seunebok Saboh, Aminah mulai menyemai benih dalam wadah kecilnya. Seperti benih microgreen yang mulai bertunas, harapan masyarakat Aceh untuk pulih kini sedang tumbuh, disirami oleh kepedulian dan kebijakan yang memanusiakan manusia. Karena pada akhirnya, sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang memastikan perempuan dan anaknya merasa aman, bahkan di tengah sisa-sisa reruntuhan. *yas






