--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Menanam Jujur, Menuai Hancur

Lokapalanews.id | Saya masih ingat getar suara seorang sopir taksi di Surabaya bertahun-tahun lalu. Dengan mata yang basah oleh amarah yang tertahan, ia bercerita tentang pemecatannya. Dosanya hanya satu: ia melaporkan admin kantor yang menyunat uang bensin. “Pak, saya jujur malah hancur, yang maling malah kenyang,” ucapnya. Kalimat itu bukan sekadar keluhan; itu adalah nisan bagi integritas di negeri ini. Kejujuran telah menjadi barang mewah yang harganya harus dibayar dengan piring nasi anak istri Anda sendiri.

Hari ini, kasus yang sama juga menghantam menara gading pendidikan kita. Korbannya adalah seorang dosen, kita sebut saja ia John. Di sebuah perguruan tinggi di Bali, John bukan sekadar pengajar; ia adalah manusia yang percaya bahwa hukum adalah panglima. Ketika ia melihat praktik culas – dugaan “sunat” gaji dan kesewenang-wenangan pimpinan yang membabi buta – ia tidak memilih diam. Ia tidak memilih jalur anarkis. Ia memilih jalur yang disediakan negara dengan penuh martabat: aplikasi LAPOR!.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Namun, John rupanya terlalu lugu untuk sebuah sistem yang sudah busuk hingga ke sumsumnya. Ia mengira negara adalah perisai, ternyata negara hanyalah broker informasi bagi para penjahat kerah putih.

Pengkhianatan Terbuka: Perlindungan yang Menjadi Umpan

Hanya butuh sembilan hari sejak laporan itu terkirim pada Desember 2025, hidup John dijungkirbalikkan. Bayangkan ngerinya: Anda melapor ke lembaga pengawas negara dengan harapan adanya audit, namun yang terjadi adalah identitas Anda bocor seolah mengantarkan kepala pelapor ke hadapan algojo.

Identitas John bocor. Rahasia yang dijamin undang-undang perlindungan saksi berubah menjadi senjata untuk mengeksekusinya. Inilah wajah asli birokrasi kita: memoles citra dengan teknologi digital, namun mentalitasnya masih feodal dan korup.

Retaliasi Struktural: Eksekusi Tanpa Sidang

Tanpa surat peringatan, tanpa sidang kode etik, dan tanpa ruang pembelaan, sebuah SK Pemberhentian mendarat di meja John. Ia dibuang seperti sampah di tengah kesibukannya mengoreksi skripsi mahasiswa. Di saat ia sedang memahat masa depan anak didik, tangannya dipotong oleh institusi tempatnya bernaung.

Baca juga:  Tikaman Kawan Sendiri

Alasannya? Mereka menggunakan tameng “linearitas”. Sebuah terminologi akademik yang diperkosa untuk melegitimasi kebencian. Padahal, status John sebagai dosen tetap telah diakui negara. Ini bukan evaluasi akademik; ini adalah retaliasi struktural. Ini adalah pesan berdarah bagi dosen lain: “Diam atau Anda akan lapar seperti John.”

Eufemisme yang Menjijikkan: “Bantuan Karier”

Namun, puncak dari segala kemuakan ini adalah narasi dalam Berita Acara pemecatannya. Pihak yayasan dan kampus dengan tidak tahu malu menyebut pemecatan paksa ini sebagai “bantuan karier”.

Ini adalah penghinaan terhadap logika dan martabat manusia yang paling kasar. Bagaimana mungkin memutus urat nadi ekonomi seseorang, menghancurkan reputasi yang dibangun bertahun-tahun, lalu melabelinya sebagai “bantuan”? Itu bukan bantuan. Itu adalah upaya pembunuhan karakter secara sistematis. Mereka tidak hanya ingin John kehilangan pekerjaan, mereka ingin John kehilangan harga diri.

Ujian bagi Nurani Negara

Kasus John adalah tamparan keras, bukan hanya bagi kampusnya, tapi bagi Inspektur Jenderal Kemendiktisaintek. Jika negara membiarkan pelapor ketidakadilan dan sewenang-wenang tewas secara karier di tangan birokrasi yang bocor, maka hapus saja jargon “Integritas” dari setiap dinding kantor pemerintahan.

Jika seorang dosen yang mengajarkan etika justru dihancurkan karena bersikap etis, lalu apa lagi yang tersisa untuk diajarkan kepada mahasiswa? Apakah kita sedang mendidik generasi masa depan untuk menjadi pengecut yang menutup mata demi sesuap nasi?

Kejujuran memang pahit, namun membiarkan kezaliman menang atas nama “stabilitas kampus” adalah cara tercepat untuk meruntuhkan peradaban. Kita tidak boleh diam saat seorang pendidik dikriminalisasi karena menolak menjadi bagian dari lingkaran setan. Keadilan tidak boleh tertidur, karena jika ia tidak bangun untuk John hari ini, maka esok atau lusa, giliran Anda yang akan dikorbankan oleh sistem yang gagal melindungi orang-orang baik. *

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."