Lokapalanews.id | Di sebuah sudut pemukiman yang masih menyisakan sisa lumpur akibat banjir bulan lalu, seorang ibu duduk terpaku menatap langit senja. Baginya, pergantian tahun bukan tentang dentum kembang api yang memecah langit, melainkan tentang bagaimana memastikan dapur tetap mengepul keesokan harinya. Di tengah hiruk-pikuk kota yang mulai bersiap dengan terompet dan panggung hiburan, wajah-wajah seperti inilah yang luput dari sorotan kamera.
Malam pergantian tahun sering kali menjadi panggung bagi euforia yang gegap gempita. Namun, bagi ribuan warga yang masih berjuang di tenda pengungsian atau mereka yang rumahnya baru saja diterjang musibah, suara konvoi kendaraan justru terasa seperti pengingat akan sepi yang kian dalam. Di sinilah letak ironi sebuah perayaan: ketika satu sisi berpesta, sisi lain sedang memunguti sisa harapan di tengah duka.
Kegelisahan inilah yang ditangkap oleh M. Shadiq Pasadigoe, anggota Komisi XIII DPR RI. Baginya, tahun baru bukanlah garis finis untuk sebuah kesenangan pribadi, melainkan sebuah jembatan empati. Ia melihat bahwa perayaan yang berlebihan hanya akan memperlebar jarak emosional di tengah masyarakat yang sedang tidak baik-baik saja.
“Kebahagiaan tidak boleh membuat kita abai terhadap duka saudara-saudara kita. Lebih baik kita lanjutkan rasa syukur dan bahagia itu dengan kepedulian serta kebersamaan,” ujar Shadiq dengan nada bicara yang rendah namun sarat penekanan.
Bagi Shadiq, yang tumbuh dengan akar budaya Minangkabau yang kuat, kepedulian sosial bukanlah sekadar pilihan, melainkan kewajiban moral. Ia membawa kembali ingatan publik pada filosofi luhur ‘Sakik samo mangadokan, sanang samo manarimo’. Sebuah janji tak tertulis bahwa penderitaan harus dipikul bersama, dan kebahagiaan hanya sah jika dinikmati tanpa meninggalkan yang terluka.
Di tengah rencana pesta pora yang kerap terjadi setiap tanggal 31 Desember, Shadiq mengajak masyarakat untuk mengerem sejenak. Ia meminta agar konvoi jalanan dan pesta berlebihan diganti dengan momen refleksi yang lebih teduh. Pesan ini bukan untuk mematikan kegembiraan, melainkan untuk memberi makna baru pada kebahagiaan itu sendiri – bahwa senang yang paling hakiki adalah saat kita mampu memberi rasa aman dan nyaman bagi sesama.
Politisi dari Fraksi Partai NasDem ini juga mengutip kearifan tokoh bangsa, Buya Hamka, tentang hakikat kemajuan sebuah masyarakat yang diukur dari kepekaan nuraninya. Tanpa kasih sayang terhadap sesama, segala bentuk kemajuan fisik hanya akan menjadi cangkang kosong yang dingin.
“Mari kita sambut Tahun Baru 2026 dengan doa, empati, dan kepedulian. Bukan dengan euforia berlebihan, tetapi dengan memperkuat solidaritas dan rasa kemanusiaan,” tambahnya.
Harapan itu kini menggantung di udara. Jika setiap warga memilih untuk menyisihkan sedikit dana pesta mereka untuk disalurkan kepada korban bencana atau masyarakat miskin di sekitarnya, maka 2026 akan dimulai dengan fondasi yang sangat kuat: fondasi kemanusiaan.
Pada akhirnya, tahun yang baru akan tetap datang, dengan atau tanpa kembang api. Namun, tahun yang dimulai dengan kesederhanaan dan doa bersama bagi mereka yang malang, akan meninggalkan jejak yang jauh lebih abadi di dalam sanubari. Sebuah awal tahun yang tidak hanya berganti angka, tetapi juga memperbarui jiwa. *yas






