Lokapalanews.id | Saya punya teman, seorang manajer di perusahaan besar. Orangnya lurus. Kerjanya bagus. Tapi bulan lalu dia memilih mundur. Alasannya sederhana: dia lelah bersandiwara.
“Saya digaji untuk mengelola proyek, bukan untuk mengelola perasaan atasan yang haus pujian,” katanya ketus.
Saya termenung. Cerita ini bukan cuma milik teman saya. Mungkin juga milik Anda. Kita sering terjebak dalam lingkaran yang kita sebut “politik kantor”. Padahal, kalau mau jujur, itu cuma istilah halus untuk saling sikut, saling bisik, dan saling menjatuhkan demi sepetak kursi jabatan.
Anda pasti tahu rasanya. Ketika sebuah rapat bukan lagi tempat mencari solusi, tapi panggung untuk menunjukkan siapa yang paling dekat dengan “penguasa” di kantor. Atau saat Anda melihat rekan kerja yang kinerjanya biasa-biasa saja, tapi mendadak naik pangkat hanya karena dia rajin membawakan kopi atau menemani bos main golf.
Kalau tanda-tanda itu sudah muncul, selamat: kantor Anda sedang sakit.
Politik kantor yang kebablasan itu seperti rayap. Dia tidak merobohkan gedung dalam semalam, tapi menggerogoti tiang-tiangnya sampai keropos. Tanda paling telak adalah ketika gosip di pantry lebih dipercaya daripada pengumuman resmi di papan mading. Ketika “siapa yang bicara” lebih penting daripada “apa yang dibicarakan”.
Kenapa ini bisa tumbuh subur? Biasanya karena pemimpinnya lemah. Pemimpin yang suka “dibisiki” adalah pupuk terbaik bagi politik kantor yang busuk.
Kita harus sadar, kegagalan sistem manajemen itu bukan salah karyawan bawah. Itu mutlak kegagalan di atas. Tanpa adanya briefing yang jelas dan dukungan sistem yang adil, orang akan mencari jalan pintas. Mereka akan berhenti mengejar prestasi dan mulai mengejar sensasi.
Lalu, apa kita diam saja?
Jangan. Kita harus mulai menuntut transparansi. Perusahaan tidak boleh lagi dikelola seperti kerajaan kuno yang berdasarkan selera raja. Penilaian harus berbasis data. Meritokrasi harus ditegakkan. Kalau si A naik jabatan, semua orang harus tahu parameternya apa. Bukan karena dia “orangnya si Bapak”.
Penggunaan teknologi HRIS sebenarnya bukan sekadar gaya-gayaan digital. Itu adalah cara untuk membunuh subjektivitas. Data tidak bisa berbohong. Data tidak punya perasaan. Data tidak bisa diajak “ngopi cantik” untuk mengubah angka penilaian.
Kita menghabiskan sepertiga hidup kita di kantor. Alangkah menyedihkannya jika waktu sebanyak itu habis hanya untuk memikirkan strategi “bertahan hidup” dari tikaman rekan sejawat. Kantor seharusnya menjadi tempat di mana otak kita diadu, bukan kelicikan kita yang diuji.
Pada akhirnya, sebuah organisasi yang sehat akan menghasilkan inovasi. Sedangkan organisasi yang penuh politik hanya akan menghasilkan frustrasi. Pilihannya ada di tangan manajemen: mau membangun tim pemenang, atau cuma mau memelihara sekumpulan pemain watak?
Mari kita berhenti bersandiwara dan mulai bekerja.






