Lokapalanews.id | Saya jadi teringat cerita Plato. Tentang orang-orang yang terpenjara di dalam gua. Seumur hidup mereka hanya melihat bayangan di dinding. Mereka pikir itulah kenyataan. Sampai suatu saat, ada satu orang yang berani keluar. Melihat matahari.
Begitu dia balik ke gua untuk bercerita tentang cahaya, apa yang terjadi? Dia tidak disambut sebagai pahlawan. Dia justru dimusuhi. Dianggap gila. Bahkan ingin disingkirkan. Kenapa? Karena kebenaran itu menyakitkan bagi mereka yang sudah terlanjur nyaman di dalam kegelapan.
Kisah klasik ini mendadak relevan ketika saya membaca tumpukan keluh kesah dari sebuah institusi pendidikan. Kita sebut saja Kampus X. Di sana, suasananya persis seperti gua Plato itu. Ada sekumpulan dosen dan pegawai yang mencoba membawa obor perbaikan, tapi yang mereka dapati adalah “pentungan” kekuasaan.
Anda tahu apa yang terjadi kalau sebuah institusi pendidikan tinggi dikelola seperti warung kelontong milik pribadi? Kekacauan. Dan itulah yang sedang terjadi. Para pengajar di sana akhirnya sampai pada titik nadir: mengeluarkan mosi tidak percaya kepada sang pimpinan.
Bayangkan, seorang pimpinan bisa mengangkat jajaran wakilnya secara sepihak. Tanpa restu yayasan. Aturan dasar kampus dianggap hanya lembaran kertas pembungkus kacang. Padahal, statuta itu konstitusinya kampus. Kalau aturan dasar saja ditabrak, apalagi yang mau diharapkan dari etika akademik?
Masalahnya bukan cuma soal bagi-bagi kursi. Ini soal “tangan besi”. Ada pejabat diganti diam-diam. Dicopot hanya lewat grup WhatsApp. Seolah-olah mengelola kampus sama dengan mengelola grup arisan. Tidak ada rapat, tidak ada transparansi.
Kita semua tahu, jantungnya perguruan tinggi itu adalah akreditasi. Kalau jantungnya berhenti berdetak, mati itu kampus. Nah, kabarnya kampus ini sedang di ujung tanduk pengawasan mutu. Begitu sistem penilaian dibuka, kalau konflik internal ini masih membara, habis sudah. Ijazah mahasiswanya mau dikemanakan?
Belum lagi urusan “kriminalisasi”. Ini yang paling menohok saya. Masak ada dosen dilaporkan ke polisi hanya karena urusan edit foto dalam konteks bercanda? Padahal penegak hukum saja melihat itu bukan pidana. Ini jelas pola intimidasi. Siapa yang vokal, disikat. Siapa yang kritis, ditekan.
Lalu, ke mana akuntabilitasnya? Ada cerita soal proyek yang dananya menguap tapi barangnya fiktif. Ruang kampus dipakai simpan barang pribadi. Gaji pokok dosen dipotong tanpa dasar hukum yang jelas. Ini bukan lagi soal manajemen yang buruk, tapi soal krisis integritas yang akut.
Para dosen ini bicara bukan karena benci secara pribadi. Mereka bicara karena punya tanggung jawab moral. Mereka melihat institusi yang mereka cintai sedang menuju jurang. Mereka bertindak seperti pengamat di gua Plato tadi: mencoba menunjukkan bahwa ada yang salah dengan “bayangan” manajemen selama ini.
Pesan saya untuk pihak yayasan: jangan diam saja. Jika mosi tidak percaya sudah keluar, artinya kepercayaan – yang merupakan modal utama lembaga pendidikan – sudah bangkrut. Jangan tunggu sampai otoritas pendidikan benar-benar mencabut nyawa kampus ini.
Memang benar kata Plato, kebenaran itu mengancam kepentingan. Mereka yang hidup dari ilusi akan melawan habis-habisan siapa pun yang mencoba membuka topeng mereka. Tapi kita harus ingat, sebuah institusi hanya bisa berdiri tegak di atas kebenaran, bukan di atas tipu daya dan intimidasi.
Akhirnya, kita harus memilih: mau tetap duduk manis melihat bayangan di dinding gua sambil menunggu kehancuran, atau berani keluar menatap matahari meski mata terasa perih?
Saya berdiri bersama mereka yang memilih cahaya. *






