Lokapalanews.id | Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi (Ditjen Saintek) berupaya mentransformasi literasi sains melalui kolaborasi antara akademisi dan platform digital. Upaya ini diwujudkan lewat Seminar dan Workshop Nasional Fuel Your Potential #FYP bertajuk “Civitas Akademika sebagai Agen Komunikator Sains di Era Digital” di Sasana Budaya Ganesa, Bandung, Kamis (4/11).
Direktur Jenderal Saintek Kemdiktisaintek, Ahmad Najib Burhani, mengungkapkan transformasi pendidikan tinggi sejati harus berfokus pada kemampuan perguruan tinggi mengalirkan ilmu pengetahuan ke masyarakat luas. Ia menyoroti fenomena death of expertise dan weaponization of expertise yang terjadi akibat jurang pemisah antara akademisi dan masyarakat di tengah gelombang digitalisasi.
Dirjen Najib menyebut tiga sekat utama yang memisahkan sains dan publik: sekat eksklusivitas ilmu pengetahuan yang dianggap elitis, sekat komunikasi akibat vakumnya ruang komunikasi sains kredibel, serta sekat keterlibatan publik.
“Sains tidak boleh menjadi kemewahan menara gading, melainkan harus hadir dan hidup dalam denyut nadi masyarakat. Untuk itu ilmu pengetahuan harus menjadi gerakan publik,” tegas Dirjen Najib.
Transformasi yang didorong mencakup pembangunan ekosistem partisipasi publik melalui citizen science, co-creation melalui living labs, serta penguatan open science. Akademisi didorong untuk berperan sebagai penghubung pengetahuan (science communicators), fasilitator co-creation, penjembatan sains modern dan pengetahuan lokal, serta pembentuk budaya sains publik.
Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Saintek Kemdiktisaintek, Yudhi Dharma, menjelaskan acara #FYP digelar untuk menjawab tantangan besar era digital, di mana informasi berlimpah namun belum tentu akurat. “Transformasi komunikasi sains bukan sekadar memindahkan proses belajar dari kelas ke gawai, tetapi menghadirkan fenomena baru dalam cara masyarakat memahami ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Sementara itu, Head of Executive Director Tokopedia and TikTok E-Commerce Indonesia, Stephanie Susilo, menjelaskan platform digital seperti TikTok telah menjadi mitra penting dalam memperluas akses Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM). TikTok, melalui fitur STEM feed, dapat membentuk generasi muda yang kritis dan konstruktif.
Staf Khusus Mendiktisaintek Bidang Riset dan Pengembangan, I Gede Wenten, menambahkan bahwa literasi sains dan lemahnya budaya ilmiah masih menjadi tantangan di tengah era kompetisi berbasis pengetahuan. Akselerasi diseminasi sains menjadi kunci untuk memperkuat ekosistem inovasi nasional.
Namun, Wenten mengingatkan diseminasi harus berpijak pada substansi ilmiah, karena reputasi dibangun oleh ketajaman penelitian dan dampak nyata, bukan intensitas publikasi media semu. *R102






