--- / --- 00:00 WITA
Hukum  

KPAI Apresiasi Densus 88 Ungkap Perekrutan Anak oleh Teroris

Ketua KPAI Margaret Aliyatul Maimunah saat menyampaikan apresiasi kepada Polri, khususnya Densus 88 Antiteror, atas keberhasilan mengungkap praktik rekrutmen anak oleh jaringan terorisme, Jakarta, 19 November 2025.

Lokapalanews.id | Jakarta – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyampaikan apresiasi tinggi kepada Polri, khususnya Densus 88 Antiteror, atas keberhasilan mengungkap praktik rekrutmen anak oleh jaringan terorisme melalui ruang digital. Upaya cepat Polri bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan pemangku kepentingan lainnya dinilai telah menyelamatkan masa depan ratusan anak Indonesia.

Ketua KPAI Margaret Aliyatul Maimunah menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan bentuk nyata hadirnya negara dalam melindungi anak dari ancaman ideologi kekerasan.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

“KPAI sangat mengapresiasi kinerja Densus 88, BNPT, dan seluruh stakeholder. Upaya ini bukan hanya penegakan hukum, tetapi upaya penyelamatan anak-anak Indonesia dari eksploitasi jaringan terorisme,” ujar Margaret dalam Konferensi Pers Penanganan Rekrutmen Secara Online Terhadap Anak-anak oleh Kelompok Terorisme, Selasa (18/11/2025).

Dalam paparan Polri, tercatat lebih dari 110 anak di 26 provinsi menjadi korban perekrutan melalui media sosial, game online, dan platform komunikasi tertutup. KPAI memastikan seluruh proses penanganan anak-anak tersebut dilakukan berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU 11/2012).

Margaret menjelaskan bahwa prinsip utama dalam penanganan setiap anak korban adalah mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak. Perlakuan ini mencakup mekanisme diversi, keadilan restoratif, pendampingan wajib, dan perlakuan manusiawi.

“Kami memastikan bahwa setiap anak yang terlibat tidak diperlakukan sebagai pelaku, tetapi sebagai korban yang harus dilindungi hak-haknya. Pendampingan psikologis dan hukum menjadi bagian yang tidak terpisahkan,” tegas Margaret.

KPAI turut menyoroti pentingnya penguatan support system untuk mencegah radikalisasi. Margaret menekankan, keluarga harus menjadi benteng pertama, sementara sekolah dan lingkungan sekitar wajib meningkatkan pengawasan. Ia juga menggarisbawahi perlunya penguatan literasi digital agar anak-anak tidak mudah terjebak propaganda ekstrem. *R101