--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Rektor, Jangan Suka Angkat “Keponakan” hanya Karena Suka Mengangguk

Pimpinan yang menunjuk kroni hanya karena loyalitas buta adalah bentuk pengkhianatan terhadap ilmu pengetahuan. Kampus harus kembali ke prinsip meritokrasi, bukan nepotisme.

Lokapalanews.id | Pagi ini, sarapan saya terasa pahit. Bukan karena kopi saya kurang gula, tapi karena saya teringat cerita semalam. Seorang kawan lama, seorang dosen yang saya tahu integritasnya tak diragukan, baru saja dicopot dari jabatan di salah satu kampus.

“Alasannya apa?” tanya saya. Dia hanya tertawa getir. “Saya terlalu sering bilang ‘tidak’ pada hal yang salah. Jadi, saya harus diganti orang yang selalu bilang ‘ya’.”

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Orang yang menggantikannya? Seorang ‘yes man’ yang loyalitasnya setinggi langit, tapi jejak rekam kerjanya tak lebih dari sekadar tumpukan kertas laporan fiktif. Inilah penyakit mematikan yang sedang menggerogoti jantung pendidikan tinggi kita: Rektor lebih suka mengangkat “keponakan” daripada “orang pintar dan berintegritas”.

Saya sebut mereka “keponakan’ (pakai tanda kutip) karena mereka diangkat bukan melalui proses yang jujur, bukan karena kompetensi, apalagi pengalaman cemerlang. Mereka ada di sana karena peta kekuasaan si pimpinan. Mereka adalah perisai, tameng, dan pemegang kunci rahasia agar posisi pimpinan tetap aman, bahkan saat kebijakan itu berbau busuk.

Apa dampak dari politik ‘angkat-kroni’ yang sungguh memuakkan ini?

Satu, Kampus Menjadi Pabrik Produk Gagal

Anda bayangkan, kita menitipkan masa depan anak-anak kita ke institusi yang dipimpin oleh orang-orang yang hanya loyal, tapi bebal ilmu. Kepala Biro Keuangan yang diangkat karena saudara jauh pimpinan, mengelola anggaran triliunan dengan logika warung kopi. Direktur Akademik yang minim wawasan, menyusun kurikulum hanya berdasarkan copy-paste dari tahun lalu.

Apa hasilnya? Maladministrasi dan pemborosan sumber daya. Uang lembaga atau uang mahasiswa habis sia-sia untuk program yang nonsense atau proyek yang hanya menguntungkan si “keponakan”. Kualitas layanan dan pendidikan? Turun drastis. Mahasiswa lulus, tapi tidak relevan dengan tuntutan zaman. Kampus Anda, yang seharusnya menjadi mercusuar peradaban, justru menjelma menjadi pabrik produk gagal yang dibiayai mahal.

Baca juga:  Menanam Jujur, Menuai Hancur

Dua, Orang-Orang Terbaik Kita Dibuang.

Yang paling menyedihkan adalah hilangnya meritokrasi. Dosen-dosen yang gila riset, staf administrasi yang jujur dan cekatan, mereka semua menanggung beban ketidakadilan ini. Mereka melihat, bahwa semua kerja keras, semua ijazah tinggi, semua inovasi yang mereka tawarkan, sama sekali tidak ada nilainya di mata pimpinan.

Sebab, kriteria utama di sana hanyalah ketundukan mutlak.

Ketika orang berprestasi disingkirkan dan orang dekat dinaikkan, lingkungan kerja akan berubah menjadi zona demotivasi. Si cerdas dan berintegritas akan memilih untuk bertahan dengan jengkel, atau hengkang dan mencari tempat yang lebih waras. Perguruan tinggi kita akhirnya ditinggalkan oleh otak-otak terbaik, hanya menyisakan kerumunan ‘yes man’ yang sibuk menjaga posisi alih-alih menjaga mutu.

Mengapa ini Terjadi?

Karena pimpinan itu bukan memikirkan masa depan kampus, melainkan masa depan pribadinya. Mereka tahu, cara tercepat untuk mengamankan kekuasaan adalah dengan mengelilingi diri dengan orang-orang yang tidak akan pernah menantang atau mengkritik. Mereka menciptakan lingkungan kerja yang sakit – di mana yang tumbuh subur adalah budaya nepotisme dan asal bapak senang (ABS).

Ini adalah ironi besar. Institusi yang seharusnya menjadi garda terdepan integritas dan akuntabilitas, justru menjadi sarang praktik kotor.

Sudah waktunya kita hentikan sandiwara ini. Kampus bukan ladang politik keluarga. Ini adalah aset bangsa. Jika kita membiarkan para pimpinan terus menunjuk “keponakan” yang tidak kompeten, maka bersiaplah, dalam beberapa tahun ke depan, kita hanya akan punya gelar akademik yang kosong dan generasi lulusan yang tidak siap bertarung.

Kita harus menuntut transparansi. Kita harus mendorong pengawasan yang tajam. Karena jika pimpinan kampus sudah terinfeksi virus nepotisme, maka seluruh institusi itu akan lumpuh. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."