Lokapalanews.id | Saya baru saja minum kopi hitam pagi ini. Tidak ada gula, biar pahitnya terasa. Karena memang pagi ini ada yang pahit. Pahit sekali. Saya teringat cerita lama, tentang seorang kawan yang kini perusahaannya limbung, bukan karena dihantam pesaing, tapi karena ‘kencing’ dari dalam.
Cerita ini bukan sekadar drama bisnis biasa. Ini drama tentang runtuhnya kejujuran seorang pemimpin yang dulunya sering dipuji di panggung-panggung seminar. Dulu, ia bicara soal integritas. Sekarang? Integritasnya sudah jadi fosil. Ia kini menjelma menjadi aktor ‘berbakat’ sandiwara.
Kita sering keliru mendefinisikan keberanian. Kita kira berani itu menghadapi rugi atau bersaing mati-matian. Padahal, keberanian yang sesungguhnya adalah berani berkata jujur saat dompet sudah kosong dan utang sudah melilit leher.
Pemimpin kawan saya ini gagal total di ujian keberanian itu.
Dia panik. Utang sudah jadi monster di bawah kasur. Bunga berbunga, tagihan datang tiap jam. Lalu, apa yang dia lakukan? Dia tidak mencari solusi. Dia mencari cara untuk bersembunyi.
Dia mulai main kotor. Membuat proyek fiktif. Proyek yang hanya ada di atas kertas, tapi dananya cair. Uang ini untuk apa? Untuk menambal lubang utang yang lain. Ibaratnya, dia gali lubang di lantai satu untuk menimbun lubang di atap. Inilah yang disebut ‘bakat’ sandiwara tingkat tinggi.
Lalu, dia bikin laporan keuangan palsu. Angka-angka di ‘buku cantik’ itu dipoles habis-habisan, seolah perusahaan sedang pesta laba. Padahal, perusahaannya sudah seperti pasien ICU. Paru-parunya kempis, tapi dia bilang sedang lari maraton.
Pemimpin macam apa ini? Ia hanya ahli ilusi, bukan ahli strategi.
Yang lebih memprihatinkan, dan ini yang paling menyakitkan, Anda: dia mulai menyingkirkan orang-orang jujur.
Di kantor itu, ada beberapa orang yang masih punya nurani, yang berani bicara keras, “Pak, ini penipuan. Kita harus jujur pada kreditur dan pemegang saham!”
Orang-orang ini dianggap virus. Dianggap musuh. Diberi label ‘negatif’, ‘tidak loyal’, atau ‘penghalang’.
Lalu? Dia mengganti orang jujur itu. Diganti dengan siapa?
Diganti dengan orang yang memiliki rekam jejak rakus. Orang yang dia tahu tidak akan bertanya soal moral, asalkan dibagi jatah. Mereka inilah para ‘yes-man‘ yang dibangun untuk mengamini setiap kebohongan dan manipulasi. Lingkaran setan ini tercipta, hanya untuk mempertahankan ilusi kekuasaan si bos yang sudah sekarat.
Lihatlah, Kita semua tahu akhir cerita ini.
Kebohongan, apalagi yang melibatkan angka triliunan, tidak akan pernah bisa ditutup rapat-rapat. Cepat atau lambat, proyek fiktif itu akan dicium auditor. Laporan palsu itu akan runtuh. Dan saat itu terjadi, yang hancur bukan hanya perusahaannya, tapi juga nama besarnya. Reputasi yang dibangun puluhan tahun, ludes dalam semalam. Kepercayaan, aset paling mahal itu, hancur berkeping-keping.
Utang itu memang menakutkan, tapi ketakutan itu seharusnya mendorong Anda untuk bekerja lebih keras, lebih jujur, dan lebih cerdas. Bukan malah jadi ahli manipulasi dan sandiwara.
Kepada para pemimpin di luar sana yang sedang panik karena utang, dengarkan ini baik-baik: Lebih baik Anda mengakui kebangkrutan hari ini, jujur pada diri sendiri dan publik, lalu mulai membangun dari nol lagi dengan kepala tegak.
Daripada Anda terus hidup dalam ilusi, membuat proyek fiktif, memalsukan laporan, dan yang paling parah, menyingkirkan orang jujur untuk diganti dengan manusia rakus.
Jika itu yang Anda pilih, Anda bukan pemimpin. Anda hanya ‘aktor’ yang gagal dalam sandiwara. Dan aktor, kalau panggungnya sudah terbakar, hanya bisa lari. Pemimpin sejati adalah ia yang berani bertanggung jawab, bukan yang bersembunyi di balik tumpukan kebohongan. Kejujuran adalah satu-satunya obat untuk kepanikan finansial. *yas






