--- / --- 00:00 WITA

Prabowo-Gibran Setahun: Ekonomi Kuat, Empati Kebijakan masih Lemah

Presiden Prabowo Subianto sedang mencoba mesin traktor saat kegiatan panen raya di Majalengka, Jawa Barat, 7 April 2025. Swasembada pangan adalah salah satu capaian yang diapresiasi dalam ulasan satu tahun Pemerintahan Prabowo dan Gibran. (Foto: Dok Kementan)

Lokapalanews.id | Jakarta – Ekonom terkemuka menyoroti kinerja satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang dinilai tangguh di tengah tekanan global, tetapi masih menyisakan pekerjaan rumah besar di aspek eksekusi kebijakan dan kepekaan sosial. Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, mengapresiasi keberhasilan pemerintah menjaga pertumbuhan ekonomi di atas lima persen, mengendalikan inflasi, dan mempertahankan stabilitas makroekonomi serta kepercayaan pasar.

“Indonesia berhasil menjaga pertumbuhan ekonomi di atas ekspektasi, mempertahankan stabilitas makro, dan menjaga kepercayaan pasar di tengah badai ketidakpastian global,” ujar Fakhrul, dilansir InfoPublik.id.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Ia mencatat, neraca perdagangan tetap surplus dan pasar keuangan tertib meski dihadapkan pada perang dagang AS–China, geopolitik Timur Tengah, hingga perubahan kebijakan bank sentral global.

Namun, Fakhrul mengingatkan bahwa stabilitas angka-angka ekonomi bukanlah tujuan akhir, melainkan fondasi menuju kesejahteraan yang harus dirasakan masyarakat luas. “Tantangan ke depan bukan mempertahankan angka, tapi memberi makna. Pertumbuhan ini harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas,” katanya.

Ia menggarisbawahi pentingnya pendalaman eksekusi kebijakan, meskipun memuji gaya kepemimpinan Presiden Prabowo yang cepat dalam mengambil keputusan. Fakhrul menilai, dalam tahap ‘Act’ atau pelaksanaan, masih ada ruang perbaikan konstruktif. Ia mencontohkan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang perlu dioptimalkan agar manfaatnya maksimal dan diarahkan menuju zero incident.

Ekonom itu juga mencatat tiga hal strategis yang perlu diperkuat. Pertama, perlunya stimulus dan pengurangan beban bagi kelas menengah agar daya beli tetap terjaga. Kedua, koordinasi antarlintas lembaga harus diperbaiki untuk memastikan eksekusi kebijakan di lapangan tidak kehilangan daya dorong. Ketiga, percepatan belanja publik, terutama belanja sosial, infrastruktur, dan daerah, harus dilakukan agar likuiditas yang sudah bergerak ke sektor riil dapat menghangatkan rumah tangga.

Baca juga:  Martin Tumbelaka Pertanyakan Tuntutan Mati ABK Fandi

Selain itu, Fakhrul mendesak agar momentum harga komoditas tinggi dimanfaatkan secara maksimal untuk kesejahteraan rakyat, bukan hanya untuk mencetak surplus neraca. Dalam jangka menengah, reformasi pajak dan bea cukai yang lebih adil dan sederhana juga disorot untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional dan mendorong formalisasi. Ia juga menyarankan agar Indonesia memanfaatkan perang dagang global sebagai peluang untuk menjadi pusat investasi baru di sektor strategis. *R101

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."