Lokapalanews.id | Pagi itu, saya sedang menunggu kopi di warung pojok dekat kampus. Seorang ibu tua, yang selalu rutin menyapu jalan di depan toko itu, tiba-tiba didatangi anak muda. Anak muda ini, pakaiannya branded, tangannya memegang sebuah paket mi instan.
“Bu, ini sedikit rezeki dari kami ya,” katanya, suaranya sedikit lantang. Si Ibu tersenyum, mengangguk.
Sejurus kemudian, saya melihat tangan anak muda yang lain sigap mengangkat ponsel. “Cekrek! Cekrek!” Dua kali bidikan cepat. Si Ibu tua sedikit memalingkan muka, tapi foto sudah terambil. Anak muda itu pergi, meninggalkan si Ibu dengan paket mi dan rasa kikuk.
Saya termenung. Kita semua tahu, menyumbang itu baik. Sangat baik. Tapi kenapa akhir-akhir ini menyumbang terasa seperti sebuah ritual publik? Sebuah pertunjukan.
Kedermawanan atau Konten
Fenomena ini, kedermawanan yang butuh konten, sudah jadi penyakit baru di zaman digital. Semua harus didokumentasikan. Semua harus diunggah. Tangan kanan memberi, tangan kiri memegang kamera.
Dulu, orang tua kita selalu mengajarkan: biarkan tangan kirimu tidak tahu apa yang dilakukan tangan kananmu. Artinya, kerahasiaan. Keikhlasan. Sumbangan itu urusan kita dengan Tuhan, atau urusan kita dengan hati nurani, bukan urusan kita dengan jumlah like atau view.
Saat Anda menyumbang, lantas harus difoto, apa yang sebetulnya kita cari?
Pertama, pengakuan. Kita ingin dunia tahu, “Saya ini orang baik, lho.” Kedermawanan kita jadi alat promosi diri.
Kedua, validasi. Kita butuh tepuk tangan virtual dari warganet agar hati kita terasa ‘hangat’ karena sudah menolong.
Ketiga, yang paling parah, eksploitasi. Kita menggunakan wajah dan kemiskinan orang lain sebagai bahan bakar untuk popularitas kita sendiri. Coba bayangkan, si Ibu tua penyapu jalan tadi. Apakah ia benar-benar nyaman difoto saat menerima paket mi instan? Atau ia terpaksa tersenyum karena tak enak hati? Martabatnya, tanpa sadar, kita rampas sedikit demi sedikit.
Ujian Keikhlasan Sejati
Sumbangan yang sejati adalah sumbangan yang tidak butuh saksi. Ia lahir dari rasa tulus ingin meringankan beban, bukan meringankan beban batin kita sendiri dari kewajiban berbuat baik.
Jika niat kita memang murni ingin menginspirasi, kenapa tidak foto kotak amal, donasi yang sudah terkumpul, atau aktivitas packing bantuan? Kenapa harus wajah lelah si penerima yang jadi objek?
Kalau Anda adalah seorang pengusaha yang menyumbang, lalu Anda pasang fotonya besar-besar di media sosial, Anda sebenarnya bukan sedang bersedekah. Anda sedang beriklan. Mungkin saja itu jadi biaya promosi yang jauh lebih murah daripada pasang banner di jalan tol.
Kita harus mulai membedakan antara kedermawanan yang tulus dan marketing sosial.
Kedermawanan sejati menenangkan hati. Marketing sosial hanya memuaskan ego.
Jadi, mulai sekarang, mari kita uji diri kita. Jika Anda menyumbang dalam diam, dan tidak ada satu pun orang tahu kecuali Anda dan si penerima, apakah rasanya masih sama membahagiakannya?
Jika jawabannya ya, maka Anda sudah memenangkan ujian itu. Anda sudah kembali ke inti dari makna memberi. Bahwa menyumbang itu sukarela dan rahasia, bukan pertunjukan foto-fotoan di panggung dunia maya. *






