Lokapalanews.id | Beberapa waktu lalu saya melihat seseorang datang ke kampus dengan wajah muram. Di tangannya, map cokelat lusuh yang ia peluk erat seolah berisi benda paling berharga di dunia. Ternyata di dalamnya bukan uang, bukan dokumen penting negara, tapi sesuatu yang lebih berharga dari itu: ijazahnya.
Ia datang bukan untuk berterima kasih, tapi untuk protes. Namanya salah ketik. Lagi.
Lucu? Tidak. Tragis, malah.
Sebab ini bukan kesalahan pertama. Bukan juga kedua. Tapi ketiga.
Saya sering berpikir, bagaimana bisa lembaga pendidikan — tempat orang belajar ketelitian, kejujuran, dan tanggung jawab — justru abai dalam hal sesederhana ini?
Ijazah itu bukan sekadar kertas bertanda tangan. Ia simbol perjalanan panjang. Ada air mata, uang yang dihemat, dan waktu bertahun-tahun di balik selembar kertas itu. Tapi di tangan birokrasi yang ceroboh, perjuangan itu seperti tidak punya arti.
Kesalahan ketik bisa terjadi sekali. Manusiawi. Tapi kalau sudah dua kali, tiga kali, berarti ada sesuatu yang lebih dalam, yakni budaya kerja yang asal-asalan.
Saya sering mendengar alasan klasik: “Ah, kan bisa diperbaiki.”
Kalimat itu terdengar ringan, tapi di situlah akar masalah kita. Karena semua dianggap bisa diperbaiki, maka tidak ada yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh sejak awal. Kita terbiasa menunda ketelitian dan menyepelekan tanggung jawab.
Lebih ironis lagi, setiap kali kesalahan terjadi, tidak pernah ada introspeksi. Tidak ada yang bertanya: “Kenapa bisa salah terus?” Tidak ada audit data. Tidak ada evaluasi. Tidak ada sanksi bagi yang lalai.
Semua berlindung di balik dua kata sakti: human error.
Padahal, kalau kesalahan itu berulang, itu bukan lagi human error — itu mental malas.
Mungkin karena yang diketik bukan nama mereka sendiri. Mungkin karena mereka tidak pernah merasakan rasanya menunggu ijazah bertahun-tahun, lalu mendapati satu huruf nama hilang. Satu huruf saja bisa mengubah segalanya.
Kalau lembaga pendidikan saja tidak bisa menulis nama alumninya dengan benar, bagaimana kita bisa percaya mereka mengajarkan ketelitian dan integritas kepada mahasiswa?
Ijazah salah ketik bukan soal huruf. Ia soal sikap. Soal bagaimana kita memperlakukan pekerjaan kita – apakah dengan hati, atau sekadar menggugurkan kewajiban.
Saya percaya, kualitas sebuah lembaga tidak ditentukan oleh gedung megah atau akreditasi tinggi. Ukurannya sederhana: apakah mereka menghormati detail. Karena dalam detail kecil itulah terlihat besar atau tidaknya tanggung jawab.
Kita sering menganggap remeh hal-hal kecil, padahal di situlah letak karakter.
Kalau salah ketik di ijazah saja dianggap biasa, maka kita sedang menanam bibit ketidaktelitian yang lebih besar: di laporan, di kebijakan, di keputusan.
Jadi kalau Anda masih menemukan salah ketik di ijazah, jangan hanya marah. Anggap itu tanda bahwa lembaga ini belum belajar apa arti tanggung jawab. Karena kesalahan berulang bukan takdir -mitu kebiasaan.
Dan kebiasaan itu, kalau dibiarkan, akan menjalar ke seluruh sendi lembaga: dari meja tata usaha hingga ruang pimpinan.
Saya tidak tahu apakah ijazah orang itu akhirnya benar. Tapi saya tahu satu hal: kadang kesalahan kecil bisa membuka mata besar kita. Tentang bagaimana sebuah lembaga memperlakukan kepercayaan. Dan bagaimana kita, sebagai manusia, belajar bahwa ketelitian adalah bentuk paling sederhana dari kejujuran. *






