Lokapalanews.id | Saya ini penikmat kopi pahit, sengaja. Duduk di kantin sebelah kampus, kopi yang saya pesan harus hitam pekat, tanpa ampun. Kenapa? Karena kejujuran kopi itu sering kali lebih luhur ketimbang retorika busuk di mimbar wisuda. Tapi, belakangan, kopi saya terasa manis hambar dibandingkan cerita yang saya serap.
Dua suara bisikan dari meja sebelah, dua pegawai yang bukan lagi berbisik soal gaji, tapi soal gigi taring kekuasaan. “Katanya, kalau tidak sejalan dengan pimpinan, siap-siap saja diparkir.”
“Diparkir.” Dengarkan betul kata itu.
Di mana kita berada? Di institusi pencerahan atau di barak militer? Kampus, tempat nalar ditempa, tempat argumen dipertaruhkan dengan elegan, kini punya istilah yang setara dengan ancaman preman. Kampus bukan terminal bus; kampus itu rumah nalar. Dan kini, nalar itu sedang dikunci di gudang.
Kita menyaksikan epidemi kepemimpinan yang keliru menafsirkan jabatan. Mereka menuntut hormat, bukan dari kearifan yang mereka tebar, melainkan dari panasnya kursi yang mereka duduki. Mereka menginginkan pengakuan yang dipaksa, bukan yang lahir dari pikiran yang tercerahkan, melainkan dari perut yang lapar karena takut kena sanksi dingin.
Dosen dan pegawai yang berani lantang bicara soal transparansi anggaran, soal kurikulum yang usang – apa imbalannya? Mereka didinginkan secara sistematis. Jadwal mengajar mereka mendadak hilang. Suara mereka di rapat diuapkan. Mereka menjadi hantu di institusi yang mereka cintai. Ini bukan sanksi disiplin, ini pembunuhan karakter berdarah dingin.
Lucunya, para penguasa menara gading ini sangat fasih merangkai kata-kata suci: integritas, inovasi, kolaborasi. Kata-kata mewah yang hanya berfungsi sebagai lipstik tebal di wajah praktik busuk. Begitu ego naik ke singasana rektorat, empati diusir ke jalanan. Mereka mengatur nasib institusi dari ruang berpendingin udara yang beku, menuntut target unggul tanpa mau tahu lumpur di lapangan.
Mereka lupa, di balik laporan akreditasi yang rapi, ada dosen yang ambruk di bawah tumpukan administrasi konyol. Di balik piagam kemegahan, ada pegawai yang kerja kerasnya dicuri. Dan di balik upacara senyum paksa, ada mahasiswa yang memandang jijik ketidakadilan yang kini terstruktur dan terlembaga.
Kampus Bukan Pabrik Penjilat
Kekuasaan kecil menciptakan Tuhan-Tuhan kecil. Benar kata kawan saya. Jabatan sekelas Kaprodi saja, kadang sudah cukup untuk mengubah seseorang menjadi kalkulator kesetiaan – menghitung siapa yang sujud dan siapa yang berani mengangkat mata. Mereka mengira kampus ini pusat pelatihan kepatuhan, padahal tugas kita adalah membangun manusia yang berani bertanya, bukan boneka yang pandai mengangguk.
Arogansi adalah penyakit yang mematikan nalar. Gejalanya: segalanya serba prosedural, serba “asal Bapak Senang,” serba takut salah hingga kreativitas menjadi dosa. Budaya kritis dikubur hidup-hidup dan digantikan oleh budaya takut dan budaya aman. Kritik adalah pembangkangan. Perbedaan adalah ancaman. Padahal, ilmu pengetahuan adalah medan perang ide, dan jika perdebatan dilarang, yang tumbuh hanya ilmu yang mandul.
Pemimpin sejati bukan yang paling tinggi menaranya, tapi yang paling berani merendahkan telinganya. Ia tahu betul bahwa jabatan hanyalah sewa sementara; sebuah titipan. Namun, dampak dari keputusan arogan mereka bisa menjungkirbalikkan fondasi institusi selama puluhan tahun.
Kita butuh pemimpin yang mau belajar dari yang dikritik, yang berani menanggalkan gelar untuk mengakui: “Saya salah.” Pemimpin yang melihat dosen, mahasiswa, dan pegawai bukan sebagai bawahan yang harus diperintah, tetapi sebagai rekan seperjuangan dalam misi mencari cahaya ilmu.
Kepemimpinan yang arogan hanya bisa menghasilkan disiplin palsu di permukaan, sementara di dalamnya, ia meninggalkan reruntuhan moral dan semangat yang mati. Gedung kampus tetap menjulang, tapi jiwanya telah kosong.
Jika institusi ini kehilangan keberanian untuk berkata jujur, maka kita sedang mencetak generasi penjilat yang bergelar, bukan generasi pemikir yang berintegritas. Lalu, untuk apa semua laboratorium mahal dan gelar cum laude itu?
Pemimpin adalah pelayan. Jika kursi kekuasaan membuat seseorang kehilangan empati dan nalar, maka dia bukan pemimpin. Dia hanyalah penguasa kecil di menara gading yang kesepian, menunggu kopi pahitnya berubah menjadi racun kekecewaan bagi seluruh civitas akademika. *






