Lokapalanews.id | Saya sering sekali mengamati fenomena aneh di dunia kerja. Ketika perusahaan sedang krisis, entah itu cash flow macet, produk ditarik dari pasaran, atau skandal internal bocor ke publik, ada satu gejala yang pasti muncul pada pimpinan tertinggi: mereka mendadak bisukan suara dan menghilang.
Di grup WhatsApp, sang Big Boss yang biasanya rajin forward video motivasi, tiba-tiba mute. Di kantor, ruangan dia yang tadinya terbuka untuk ngopi sore, mendadak terkunci rapat.
Ini bukan sakit gigi lagi, ini sudah amandel akut – penyakit paling menular saat krisis. Pemimpin kita jadi bungkam dan menghindar. Istilah kerennya avoidance, tapi kalau saya bilang, itu mode stealth.
Kenapa seorang pemimpin – yang gajinya dibayar mahal untuk memecahkan masalah – justru memilih gaya ninja ketika masalah besar datang?
Satu, Takut Kena “Virus” Keputusan. Ini alasan paling lucu. Krisis itu ibarat sup panas, kalau dipegang pasti melepuh. Ketika masalah menumpuk (masalah A, B, C, D), pemimpin harus membuat banyak keputusan (decision fatigue). Daripada membuat keputusan yang salah (dan pasti akan dicatat sejarah serta media), mereka memilih tidak membuat keputusan apa pun. Bungkam adalah cara paling aman untuk menunda bencana di tangannya sendiri. Kalau sudah kadung diam, besok kalau ada yang tanya, tinggal bilang, “Saya lagi evaluasi mendalam.” Padahal, ya, lagi bingung tingkat dewa.
Dua, Menjaga “Ketampanan” Reputasi. Pemimpin itu seperti selebriti di perusahaannya. Mereka sangat peduli pada citra (reputasi). Bicara di tengah krisis itu risikonya besar: Anda bisa dicap panik, tidak kompeten, atau bahkan playing victim. Diam? Itu diyakini sebagai strategi terhormat. Silence is golden, katanya. Padahal, publik melihatnya sebagai mengaku bersalah secara tidak langsung. Begitu dia bungkam, publik otomatis mengambil kesimpulan terburuk.
Tiga, Sudah Terlalu Nyaman di Kursi Empuk. Ini lebih parah. Ada pemimpin yang sudah terlalu lama di zona nyaman birokrasi, sehingga otot respons cepat-nya sudah tumpul. Dia merasa, toh, nanti ada Manager atau Dirut Anak Perusahaan yang bisa dijadikan tameng (fall guy). Dia hanya akan muncul lagi kalau masalahnya sudah dingin dan hanya tinggal perlu pidato kemenangan atau salam perpisahan dengan si fall guy tadi. Kepemimpinan model begini adalah kepemimpinan sekunder, yang hanya muncul kalau ada kamera.
Lalu, apa obat untuk pemimpin yang kena amandel krisis ini? Sederhana: Komunikasi yang konyol.
Maksud saya, berkomunikasi tidak perlu perfect dan serius melulu. Akui saja masalahnya dengan jujur, walau sambil tersenyum kecut. Bilang saja, “Ya, kita sedang kena masalah besar, tapi kita sedang mencari jalan keluar.”
Kehadiran seorang pemimpin, bahkan dengan pernyataan ngaco yang tulus, jauh lebih baik daripada keheningan yang menakutkan. Kalau Anda seorang pemimpin, ingat-ingat: Anda dibayar untuk memimpin, bukan untuk bersembunyi di balik tumpukan masalah. *yas






