--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Dharma Rakshati Rakshitah: Ketika Rektor Main ‘Hajar’

I Made Suyasa

Visualisasi kontras kepemimpinan Rektor A yang berani melindungi Dharma (kebenaran dan mutu) dan Rektor X yang ugal-ugalan menempuh Adharma. Pilihan tindakan seorang pemimpin menentukan apakah ia akan dilindungi atau justru ditelan oleh hukum alam. Gambar dibuat dengan AI

Lokapalanews.id | Saya pernah berkarier di tiga kampus yang berbeda. Tapi cukup untuk melihat telanjang bagaimana sebuah institusi pendidikan itu sebenarnya berjalan.

Kampus, bukan rahasia lagi, adalah miniatur negara. Di sana ada idealisme setinggi langit. Tapi jangan lupa, di sana juga ada intrik serendah selokan. Anda kira mereka semua sama? Tidak. Sama sekali tidak.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Di satu tempat, rasanya sejuk, damai. Kepemimpinan kental aroma Dharma – kebenaran, kewajiban, jalan yang lurus. Setiap kebijakan, seberat apa pun, terasa adil, mengakar pada prinsip yang benar. Energi positifnya menular. Siapa pun bangkit.

Tapi di kampus lainnya? Beda cerita.

Di sana, saya melihat Adharma beraksi terang-terangan. Bukan sekadar salah kelola, tapi memang disengaja. Keputusan diambil bukan untuk kemajuan mutu, melainkan untuk kepentingan segelintir orang. Saya melihat etika hanya jadi pajangan di ruang rapat. Saya tahu persis siapa yang bersembunyi di balik jubah akademisi tapi mengelola kampus seperti perusahaan keluarga yang nyaris bangkrut.

Saya hafal. Sangat hafal.

Ini bukan teori. Ini fakta di lapangan. Soal bagaimana Dharma dan Adharma bertarung, bukan di buku filsafat, melainkan di ruang dekan, di rapat senat, dan bahkan di meja kantin.

Rektor A: Penjaga Dharma

Pepatah Sanskerta itu bilang: “Dharmo Rakshati Rakshitah.” Kebenaran akan menjaga Anda, kalau Anda mau menjaganya.

Rektor A memegang teguh ini.

Dia tahu ada dosen ‘siluman’ di universitasnya. Gaji besar, kerja nol. Cuma datang saat gajian, tak mengajar, tak meneliti. Hanya membebani sistem.

Keputusan Rektor A: Sikat.

Dia tahu ini sulit. Dosen itu mungkin punya koneksi atau teman lama. Tapi Rektor A bilang: “Saya harus melindungi Dharma kampus. Dharma kampus adalah mutu pendidikan, bukan kasihan pada individu.” Dia bersihkan daftar gaji. Dia tuntut kualitas.

Apa yang terjadi? Awalnya dia dimusuhi. Dapat surat kaleng. Digosipkan. Tapi perlahan, Dharma – mutu, keadilan, efisiensi – yang dia jaga itu bekerja. Mahasiswa senang, dosen serius, reputasi kampus naik, anggaran sehat. Rektor A dilindungi oleh kebenaran yang dia tegakkan.

Rektor X: Jalan Ugal-ugalan

Nah, ini kisah Rektor X. Beliau memilih jalan sebaliknya. Dia tidak peduli Dharma, yang dia pedulikan hanya dirinya dan gengnya.

Baca juga:  Komunikasi Kritis, Vaksin Esensial Melawan Dominasi Narasi dan Konsolidasi Kekuasaan

Rektor X arogan. Kebijakannya ugal-ugalan, ibarat nyetir truk tangki di jalan tol. Kampus dianggap properti pribadi. Dharma kampus – keadilan, mutu, meritokrasi – justru ia habisi.

Korban pertamanya: Mereka yang lurus.

Contohnya Profesor Y. Profesor ini berani menyuarakan bahwa anggaran itu mark-up, ada korupsi dan penggelapan dana. “Ini kampus, bukan proyekan!” teriaknya. Karena tak sejalan, Rektor X langsung menghabisi kariernya. Jabatan dicopot, proyek penelitian dibekukan, mata kuliah diamputasi.

Rektor X pikir, dengan cara ‘hajar’ ini, dia menang. Suara kritis bungkam. Adharma dia pakai untuk melindungi kekuasaannya.

Ujung Jalan bagi Sang Penumpang Adharma

Awalnya, Rektor X terlihat perkasa. Tidak ada yang berani melawan. Rezim ketakutan berhasil dibangun.

Tapi ingat, Dharma itu bukan orang yang bisa Anda pecat. Dharma itu hukum alam.

Ketika Rektor X memecat semua orang jujur, dia sebenarnya memecat sistem pengaman dirinya sendiri. Siapa yang akan kasih tahu kalau ada lubang besar di keuangan? Siapa yang akan menasihati bahwa kebijakannya melanggar undang-undang? Jawabannya: Tidak ada.

Semua di sekelilingnya adalah penjilat. Hanya bilang, “Yes, Boss.”

Akhirnya, apa yang terjadi? Adharma itu berbalik menghantamnya. Bukan dari Profesor Y yang dipecat, tapi dari sistem itu sendiri. Kampusnya kena skandal korupsi, banyak mahasiswa protes karena dirugikan, akreditasi dicabut, atau Rektor X terjerat kasus hukum.

Dia menghabisi karier orang lain, tapi Adharma menghabisi seluruh masa depannya.

Pesan moralnya jelas: Anda bisa lari dari tanggung jawab, tapi Anda tidak bisa lari dari akibat. Kebenaran yang Anda injak, cepat atau lambat, akan menjadi lubang yang menelan Anda.

Maka, lebih baik jadi Rektor A yang berani berdarah di awal, daripada jadi Rektor X yang tertawa sebentar, tapi menangis seumur hidup.

Dharma Rakshati Rakshitah bukan soal takdir, tapi soal pilihan tindakan.

Jika Anda seorang rektor, dekan, atau pemimpin institusi apa pun, ingat ini: Integritas itu adalah keputusan pahit untuk menegakkan kebenaran, meski Anda harus berdarah. Kalau Anda berani melindungi Dharma, dia akan jadi tameng paling hebat yang menjaga martabat dan keberlangsungan institusi Anda. Sesimpel itu. *

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."