--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Buah yang Busuk akan Jatuh dengan Sendirinya

Buah mangga yang mulai membusuk dengan bercak hitam, menggantung di antara buah-buah segar lainnya, melambangkan kebohongan dan fitnah yang akan runtuh dengan sendirinya.

Lokapalanews.id | Saya sering memperhatikan pohon mangga di halaman rumah tetangga. Pohon itu tinggi, rindang, dan buahnya lebat. Tapi kalau Anda perhatikan baik-baik, ada saja satu – dua buah yang warnanya beda. Bercak hitam. Lalu membusuk.

Saya pernah iseng bertanya: “Kenapa tidak dipetik saja sebelum jatuh?” Tetangga saya hanya tertawa. “Biarin aja. Buah yang busuk akan jatuh dengan sendirinya!”

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Kalimat sederhana itu, ternyata dalam sekali. Bukan cuma soal buah. Tapi juga soal hidup kita.

Beberapa waktu lalu, saya menyaksikan orang yang berani bicara kebenaran malah dituding macam-macam. Kritik dibalas fitnah. Fakta dilawan dengan cerita karangan. Mereka bukannya membenahi diri, malah sibuk membuat narasi tandingan.

Saya yakin, Anda pun sering melihat itu. Kritik yang seharusnya jadi vitamin, justru dianggap racun. Narasi tandingan ini punya satu kelemahan: ia lahir bukan dari data, tapi dari kepanikan. Bukan dari bukti, tapi dari ketakutan. Maka, seperti buah busuk di pohon tadi, lama-lama akan jatuh sendiri.

Publik mungkin sempat goyah. Ada yang percaya. Ada yang ragu. Tapi waktu akan membuktikan: mana buah segar, mana yang busuk.

Saya teringat satu contoh. Ada seorang kawan yang membongkar dugaan korupsi, kebijakan ugal-ugalan sehingga memicu konflik dengan dosen dan pegawai di salah satu perguruan tinggi. Apa reaksi yang muncul? Bukan bantahan dengan laporan keuangan. Bukan transparansi anggaran.

Yang keluar justru tuduhan: “Dia diperalat lawan politik.”

Lucu, bukan? Fokus publik langsung dialihkan. Dari soal korupsi, jadi soal integritas kawan saya itu. Itulah taktik pengalihan isu.

Tapi jangan salah. Narasi busuk itu tak akan bertahan lama. Karena data – kalau memang ada – selalu lebih keras dari fitnah. Fakta tak bisa dikalahkan cerita.

Baca juga:  Hak Jawab Itu Harga Diri, Tudingan Balik Itu Mental Tempe

Kita hanya perlu sabar. Seperti menunggu buah busuk jatuh dari pohonnya. Saya tahu, melawan fitnah memang melelahkan. Kadang kita ingin teriak. Kadang kita ingin menyerang balik. Tapi percayalah, diam dengan data jauh lebih kuat daripada ribut dengan amarah.

Saya yakin, Anda pun setuju. Kebenaran memang sering dianggap musuh. Tapi justru karena itu, kita harus terus berdiri di pihaknya.

Karena kalau bukan kita, siapa lagi? Dan kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Pada akhirnya, saya belajar dari pepatah tadi: buah yang busuk tak perlu dibuang. Biarkan saja. Ia akan jatuh sendiri.

Begitu pula kebohongan. Begitu pula fitnah. Kebenaran tak butuh banyak teriak. Ia hanya butuh waktu.

Dan waktu, seperti pohon mangga tetangga saya, selalu adil. Buah yang busuk akan jatuh dengan sendirinya. *

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."