--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Kenapa Kebenaran Jadi Begitu Dibenci?

Lokapalanews.id | “Hidup itu gampang,” bisik seorang teman lama di telinga saya. “Asal kita tahu kapan harus diam.”

Saya hanya terdiam. Memikirkan ucapan itu. Kenapa harus diam?

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Belakangan, saya menemukan jawabannya di media sosial. Seorang aktivis muda, yang saya kagumi keberaniannya, dihujat habis-habisan. Dicap provokator. Dibully. Bahkan dituduh memecah belah bangsa.

Dosanya? Ia hanya berani mengkritik kebijakan yang dianggapnya keliru.

Bukankah ia hanya mengatakan apa yang ia lihat, ia rasa, dan ia yakini sebagai kebenaran?

Di dunia ini, ada dua tipe orang. Tipe pertama, yang menganggap kebenaran seperti peluru nyasar: berbahaya, tak terduga, bisa melukai siapa saja. Sebaliknya, ada tipe kedua, yang melihat kebenaran seperti cermin: memantulkan apa adanya, tanpa filter, tanpa rekayasa.

Mereka yang takut pada kebenaran adalah mereka yang punya sesuatu untuk disembunyikan. Mungkin itu topeng kemunafikan. Mungkin itu kekuasaan yang dibangun di atas kebohongan. Atau mungkin itu keuntungan yang diperoleh dari manipulasi. Bagi mereka, kebenaran bukan sekadar fakta, melainkan ancaman.

Lihatlah, ketika ada rakyat kecil menuntut haknya atas tanah yang dirampas, ia dicap sebagai penghambat pembangunan. Ketika jurnalis membongkar kasus korupsi, ia dituduh memfitnah dan dianggap tidak nasionalis. Ketika seorang mahasiswa bersuara kritis, ia dilabeli pembuat onar.

Padahal, mereka tidak sedang membuat masalah. Mereka sedang mengungkapkan masalah.

Mereka sedang menarik tirai yang menutupi panggung sandiwara. Di mana para aktornya berpura-pura baik-baik saja, padahal di baliknya ada banyak kebusukan. Mereka sedang menunjukkan bahwa kebenaran tidak bisa disembunyikan selamanya. Seperti bau busuk, lama-lama akan tercium juga.

Maka, ketika seseorang berani menyuarakan kebenaran, ia tidak sedang mencari panggung. Ia sedang mengambil risiko. Risiko untuk dicaci, disingkirkan, bahkan dimusuhi. Sebab, keberanian itu bukan hanya soal moral, tapi juga soal keberpihakan.

Baca juga:  Dewan Pers: Jurnalis Wajib Junjung Kode Etik saat Liput Demo

Apakah kita berpihak pada kebenaran? Atau pada zona nyaman yang penuh kepalsuan?

Di dunia yang dipenuhi kebohongan terstruktur, di mana yang jujur dianggap aneh, dan yang berani dianggap nekat, kebenaran adalah bentuk perlawanan. Ia adalah sebuah tindakan berani untuk tidak ikut-ikutan. Untuk tidak diam. Untuk tidak berpura-pura buta.

Jadi, jangan heran jika kebenaran itu punya harga yang mahal. Seringkali, harganya adalah kedamaian. Tapi, bagi orang-orang yang berani, harga itu sepadan. Sebab, hidup di dunia yang penuh kebohongan, meski aman, rasanya sangat menyesakkan. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."