--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Provokator Kita

Lokapalanews.id | Di setiap kericuhan, dari demonstrasi hingga keributan di ruang rapat, selalu ada satu karakter yang dicap sebagai provokator. Dia adalah kambing hitam sempurna, selalu ditarik ke tengah arena setiap kali ada masalah.

Bayangkan saja. Ada lulusan minta ijazah setelah wisuda, tetapi ijazah tidak diterbitkan karena belum divalidasi, mahasiswa tersebut kemudian ribut dan membuat status di media sosialnya. Lalu, apa yang terjadi? Daripada pimpinan pusing tujuh keliling mencari solusi, dengan santainya ia menunjuk, “Itu ulah provokator!”

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Ada juga kampus sepi peminat, yang disalahkan adalah ada provokator.

Lucu, bukan? Seolah-olah “provokator” itu makhluk mitologi yang bisa mengisap daya tarik kampus. Atau jangan-jangan, provokator itu justru dosen yang jarang mengajar, ke kampus hanya sibuk ngegosip dan kelakuan yang arogan, sehingga mahasiswa malas datang? Siapa tahu.

Menyalahkan provokator adalah cara paling efektif untuk mengalihkan perhatian dari masalah yang sebenarnya. Ketika pimpinan menuduh ada provokator, sorotan publik tidak lagi fokus pada kebijakan yang kontroversial, melainkan pada siapa yang memulai kericuhan. Ini adalah trik lama yang masih sering dipakai.

Ini juga dijadikan trik untuk menghindari tanggung jawab. Mengakui bahwa ada masalah internal, seperti kebijakan yang tidak adil atau kepemimpinan yang buruk, sangat tidak menyenangkan. Lebih mudah untuk menyalahkan pihak luar yang “mengganggu” dan “memanfaatkan” situasi. Dengan begitu, pimpinan tidak perlu repot-repot introspeksi.

Dalam kerumitan sebuah konflik, provokator menawarkan penjelasan yang sederhana dan mudah dicerna: “Ada masalah karena ada orang jahat yang memprovokasi.” Penjelasan ini jauh lebih gampang dipahami daripada harus menganalisis isu-isu struktural yang rumit, seperti ketidakadilan atau kegagalan sistem.

Baca juga:  15 Tahun BINUS Film Perkuat Reputasi Lewat Roadshow dan JAFF Market 2025

Siapa Sebenarnya “Provokator” Itu?
Tentu saja, ada provokator sejati yang memang tujuannya memancing kerusuhan. Tapi, sering kali, kata “provokator” digunakan untuk meredam suara-suara yang kritis dan mengganggu status quo. Seseorang yang berani bertanya, mengkritik, atau bahkan sekadar menyuarakan ketidakpuasan bisa langsung dicap provokator.

Mereka adalah orang yang berani memecah keheningan, orang yang berani memantik api diskusi di tengah-tengah kerumunan yang membisu. Tanpa mereka, mungkin kita tidak akan pernah melihat adanya perubahan atau perbaikan.

Jadi, ketika ada yang menunjuk jari dan berteriak, “Ini ulah provokator!”, mungkin ada baiknya kita berhenti sejenak. Jangan langsung menelan mentah-mentah. Coba tanyakan: “Apakah ada masalah yang sedang coba ditutupi?” Karena sering kali, provokator bukanlah penyebab masalah, melainkan cermin yang menunjukkan masalah itu sendiri. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."