Lokapalanews.id | Di setiap kantor, di setiap organisasi, pasti ada satu jenis pemimpin yang perilakunya membuat kita menghela napas panjang. Mereka yang punya cara pandang tunggal, yang merasa paling benar, yang selalu menuntut pengakuan – semuanya itu adalah manifestasi dari arogansi.
Tapi, apakah arogansi itu cuma sifat?
Saya kira tidak. Arogansi itu seperti gejala. Gejala dari sebuah penyakit yang lebih dalam. Seperti demam, dia bukan penyakit utamanya, tapi sinyal ada yang tidak beres di dalam tubuh.
Ada beberapa kemungkinan penyakit di baliknya. Mari kita bedah satu per satu.
Pertama, yang paling sering disebut, adalah gangguan kepribadian narsistik (NPD). Orang ini punya rasa superioritas yang kelewat batas. Mereka haus akan pujian, tapi tidak punya empati. Mereka seperti sumur yang tidak pernah penuh. Berapapun pujian yang Anda tuangkan, akan habis begitu saja. Mereka merasa dunia ini berputar di sekelilingnya, dan ide-ide orang lain hanyalah angin lalu.
Kedua, ini yang paling sering luput dari pengamatan: Rasa tidak aman yang mendalam. Arogansi seringkali adalah topeng. Topeng yang dipakai untuk menutupi rasa takut. Takut terlihat lemah, takut ketahuan kalau dia tidak secerdas yang orang lain kira. Jadi, untuk menutupi semua ketakutan itu, ia membangun benteng arogansi. Semakin keras ia bersikap, semakin rapuh sebenarnya dirinya.
Ketiga, ada yang namanya delusi kekuasaan. Ini terjadi ketika seseorang naik jabatan terlalu cepat. Ia seperti anak kecil yang tiba-tiba diberi mainan mahal. Merasa punya kuasa, ia mengabaikan aturan. Ia membuat keputusan sepihak, menikmati saat orang lain takut dan tunduk padanya. Mereka lupa, kekuasaan itu amanah, bukan mainan.
Terakhir, dan ini yang paling fatal, adalah kurangnya kecerdasan emosional. Pemimpin seperti ini tidak bisa membaca emosi. Bukan cuma emosi orang lain, tapi juga emosinya sendiri. Mereka gagal membangun hubungan yang sehat, tidak bisa berempati. Fokusnya hanya pada target, angka, dan laporan. Mereka tidak sadar bahwa di belakang angka-angka itu, ada manusia yang punya perasaan, punya lelah, dan punya harapan.
Pada akhirnya, arogansi seorang pemimpin bukanlah tanda kekuatan. Itu adalah tanda kerapuhan. Itu adalah resep pasti menuju kehancuran, bukan kesuksesan. Dan sayangnya, banyak dari mereka tidak pernah menyadarinya. *yas






