--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Ketika Integritas Dilawan Kekuasaan, Mundur Itu Pilihan Ksatria

Lokapalanews.id | Saya tidak lari dari medan pertempuran. Saya justru berdiri tegak, melawan. Tapi, apa jadinya jika pertempuran itu bukan lagi soal kebenaran, melainkan soal kekuasaan yang buta? Ketika integritas dilawan dengan arogansi, mundur bukanlah kekalahan. Ia adalah pilihan seorang ksatria.

Itulah yang terjadi pada saya. Saya, yang bertahun-tahun mengabdikan diri, akhirnya memilih jalan sunyi itu. Saya mundur. Bukan karena saya takut. Bukan karena saya tak punya nyali. Justru sebaliknya. Saya mundur karena saya tak mau lagi menginjakkan kaki di lumpur kekuasaan yang busuk.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Saya punya prinsip. Punya idealisme. Tidak mau sekadar makan gaji buta. Ketika saya melihat pimpinan mulai ugal-ugalan dan arogan, saya tak bisa diam. Usulan-usulan saya mental. Kata-kata saya tak punya harga. Hanya satu suara yang didengar: suara si pimpinan. Puncaknya, gaji pokok saya dipangkas. Tanpa alasan.

Ini bukan soal uang. Ini soal harga diri.

Candaan yang Membunuh Loyalitas
Saya bertahan. Menahan diri. Loyalitas saya masih ada. Tapi, kesabaran itu akhirnya habis. Bukan karena pemotongan gaji. Bukan pula karena usulan yang diabaikan. Pemicunya sangat sepele: sebuah tuduhan pencemaran nama baik. Tuduhan itu muncul dari foto editan AI yang saya kirim ke grup pertemanan berisi empat orang. Sebuah candaan ringan yang dibesar-besarkan hingga melahirkan amarah. Ketika foto itu bocor, pimpinan masuk. Padahal, mereka bukan korban. Ada yang cerita kepada saya. Mereka ngotot membawanya ke jalur hukum.

Sungguh, ini bukan lagi soal salah paham. Ini soal arogansi yang tak punya akal sehat. Kekuasaan yang berlebihan, yang tak bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang konyol.

Baca juga:  Grup WhatsApp yang Mati: Bukan Lagi Tawa tapi Tanda Protes

Saya memutuskan untuk mundur. Melepas semua jabatan. Saya sudah siap. Tapi, pimpinan itu tidak siap. Mungkin bingung. Belum ada SK pengganti, mereka sudah panik. Minta semua akun. Semua data. Gila. Lagi-lagi ugal-ugalan.

Saya menolak. Ini soal prosedur. Soal etika. Tapi, mereka tak peduli. Akun saya tiba-tiba di-reset. Lalu, saya dikeluarkan dari grup. Komunikasi terputus. Seolah saya penjahat. Dibuang begitu saja.

Ironis. Pimpinan yang kini bertindak kasar itu adalah orang yang dulu saya dukung penuh. Visi dan misinya saat pencalonan, saya yang membuatkannya. Tapi, begitulah sifat kekuasaan. Cenderung korup.

Kritis saya selama ini adalah wujud kepedulian. Karena saya tidak mau kampus ini hancur. Saya melihatnya ugal-ugalan, membuat kebijakan tanpa rapat, tanpa diskusi. Aksi saya ini ternyata diikuti. Staf lain mulai mundur dari tugas-tugas administratif. Kabar anginnya, akan ada yang menyusul. Mereka muak.

Kepemimpinan yang arogan akan menghasilkan kekosongan. Posisi-posisi kosong. Kepercayaan yang hilang. Tapi, bagi saya, mundur bukanlah kekalahan. Itu adalah kemenangan. Kemenangan atas integritas. Kemenangan atas martabat. Karena semua itu jauh lebih berharga daripada jabatan apa pun. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."