Lokapalanews.id | Jakarta – Komisi XI DPR RI bersama pemerintah resmi menyepakati asumsi dasar ekonomi makro dalam RAPBN 2026. Salah satu target utama yang disepakati adalah pertumbuhan ekonomi yang dipatok sebesar 5,4 persen, dengan fokus utama pada penguatan konsumsi rumah tangga dan investasi.
Kesepakatan tersebut ditetapkan dalam rapat kerja Komisi XI bersama Menteri Keuangan, Menteri PPN/Kepala Bappenas, Gubernur Bank Indonesia (BI), dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Jumat (22/8/2025).
Selain pertumbuhan ekonomi, asumsi makro lainnya yang disepakati meliputi; Inflasi sebesar 2,5 persen, nilai tukar rupiah dipatok Rp16.500 per dolar AS, suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun berada di kisaran 6,9 persen, Pendapatan Nasional Bruto (GNI) per kapita diproyeksikan mencapai USD 5.520.
Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menegaskan bahwa angka 5,4 persen tersebut menjadi landasan pembahasan anggaran lebih lanjut di Badan Anggaran (Banggar) DPR RI.
“Dengan pertumbuhan 5,4 persen ini, pemerintah diharapkan berupaya serius mengembangkan program pembangunan yang berdampak kuat pada konsumsi rumah tangga, investasi, dorongan ekspor, dan modal tetap bruto berkelanjutan,” ujar Misbakhun usai rapat.
Politisi Fraksi Partai Golkar ini menambahkan, strategi pertumbuhan yang berkualitas harus ditopang oleh penerimaan negara yang kuat. Oleh karena itu, pemerintah didorong untuk aktif meningkatkan penerimaan dari sektor pajak, kepabeanan, cukai, serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP).
“Motivasi utama pertumbuhan ini adalah konsumsi. Jika pemerintah ingin konsumsi kuat, hal itu harus didukung oleh penerimaan negara yang besar dan kuat,” tegasnya.
Misbakhun juga menekankan pentingnya dukungan kebijakan moneter dan jasa keuangan dari BI dan OJK. Langkah makroprudensial, termasuk pengelolaan suku bunga, harus diarahkan untuk mendorong dunia usaha dan memperluas investasi di sektor riil.
Ia berharap kebijakan perbankan difokuskan pada peningkatan akses pembiayaan, baik bagi korporasi besar, usaha kecil, hingga konsumen. “Dorongan perbankan berinvestasi di sektor riil akan menciptakan lebih banyak lapangan kerja dan menumbuhkan aktivitas bisnis. Termasuk kemudahan transfer kredit yang bisa memperlancar arus pembiayaan,” tutup Misbakhun. *R101






